Apa Amal Utama di Bulan Istimewa?

ADA fenomena di tengah tengah masyarakat dengan berjalannya bulan Ramadan mendekati hari-hari akhir. Pada hari-hari tersebut justru terlihat kecenderungan menurunnya ibadah dengan salah satu indikasinya berkurangnya jemaah salat di masjid-masjid, termasuk salat tarawih yang menjadi ibadah spesial pada bulan Ramadan. Ini jika dibandingkan yang terjadi di pekan pertama Ramadan. Padahal, semakin Ramadan mendekati akhir, dorongan untuk beramal shalih semakin besar dengan harapan meraih pahala seribu bulan dengan iktikaf dan amal-amal yang menyertainya.

Sepertinya umat perlu motivasi baru untuk membangkitkan semangat beribadah pada saat seperti ini, dalam melaksanakan amal-amal utama di bulan Istimewa. Membaca Alquran pada bulan Ramadan adalah amalan utama yang teristimewa, karena Alquran diturunkan pada bulan Ramadan.

Dalam hadits shahih diriwayatkan dari Abdullah bin Umar RA disebutkan bahwa Rasulullah bersabda: “Puasa dan Alquran akan memberi syafaat kepada hamba pada hari kiamat, puasa kelak akan berkata: saya halangi dia untuk tidak makan dan menuruti syahwat di siang hari, maka izinkan saya memberi syafaat kepadanya, sementara Alquran kelak akan berkata: saya halangi dia untuk tidur di waktu malam, maka puasa dan Alquran keduanya memberi syafaat”.

Nabi Muhammad SAW telah memberi contoh bagaimana mengisi Ramadan. Dalam hadits dikatakan: “Rasulullah SAW dahulu orang yang paling dermawan dan puncak kedermawanan beliau ketika bulan Ramadan, saat bertemu Jibril setiap malam tadarus Alquran bersamanya”. Apa yang dilakukan Rasulullah SAW juga dilakukan oleh para sahabat. Utsman bin Affan RA misalnya selalu mengkhatamkan Alquran setiap hari satu kali. Al-Aswad bin Yazid seorang ulama besar tabi’in yang meninggal dunia tahun 74 atau 75 Hijriyah di Kufah- bisa mengkhatamkan Alquran di bulan Ramadan setiap dua malam.

Jika saat ini biografi ulama dan cendekiawan muslim banyak diwarnai tentang aspek keilmuan dan intelektualitas mereka, maka kalau kita telusuri biografi para ‘salafuushalih’ disamping informasi tentang pengembaraan mencari ilmu dan kedalaman ilmu mereka juga menyuguhkan pengamalan ilmu, termasuk bagaimana mereka memberi perhatian yang luar biasa kepada Alquran di bulan Ramadan Muhammad bin Idris Asy-Syafi’iyang kita kenal dengan Imam Syafi’I, salah satu ulama madzhab yang menjadi arus besar madzhab di Indonesia dituturkan oleh muridnya, Ar-Rabi’ bin Sulaiman,

“Imam Syafi’i biasa mengkhatamkan Alquran di bulan Ramadan sebanyak 60 kali.” Ditambahkan oleh Ibnu Abi Hatim bahwa khataman tersebut dilakukan dalam salat. (Siyar A’lam An-Nubala’, 10: 36).

BERITA REKOMENDASI