Beragama yang Mencerahkan

DALAM sebuah kajian Ramadan 1443 H, Dr KH Tafsir MAg, Ketua PWM Jawa Tengah, menegaskan bahwa dalam konteks pembangunan masyarakat menuju kesejahteraan yang hakiki, Islam harus dipandang sebagai agama yang mencerahkan. Islam yang mampu membawa masyarakat dari keterpurukan kepada kejayaan, dari kegelapan menuju terang benderang, dari keterbelakangan menuju kemajuan. Pencerahan merupakan nilai keutamaan yang tertanam dalam segenap kebaikan jiwa, pikiran, sikap, dan tindakan yang maslahat, berkeadaban, dan berkemajuan. Dengan berIslam yang mencerahkan, setiap muslim senantiasa menyebarkan akhlak mulia yang menebar ihsan yang melampaui sekaligus rahmat bagi semesta alam.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, mencerahkan berarti membuat sesuatu menjadi cerah, jernih, dan tidak suram. Kehidupan yang mencerahkan adalah kehidupan yang dipandang dengan penuh optimisme, jernih dalam berpikir dan bertindak. Dari pandangan yang mencerahkan ini akan terbangun sebuah kehidupan yang bermartabat, baik dalam konteks kehidupan individu maupun sosial. Martabat bangsa pun akan terbangun sebagai manifestasi dari pola pikir dan pola perilaku masyarakat yang mengedepankan optimisme, saling menghargai, dan khusnudzon, dalam bingkai saling asah saling asih dan saling asuh.

Di dalam Alquran, terminologi pencerahan ini disebut dengan tiga kata yang memiliki arti serupa meski beda. Tiga kata itu adalah annar, annur, dan dliya’. Kata annar atau annur, berasal dari kata naro berarti cahaya atau api. Di dalam keseharian dibedakan antara keduanya dengan tegas, kata annar diartikan api/neraka, sedang kata annur diartikan cahaya. Dengan demikian kata nar digunakan untuk cahaya negatif yang menyiksa, sedang kata nur digunakan untuk cahaya positif yang memberi kesejukan dan kenikmatan. Kata nur disebutkan sebanyak 33 kali dalam Alquran, bahkan dijadikan sebagai nama salah satu surat di dalam Alquran, yaitu surat ke-24.

BERITA REKOMENDASI