Berbeda Tapi Tidak Berpecah Belah

TAHUN ini, umat Islam di dunia, termasuk Indonesia, mengawali puasa Ramadan dengan hari berbeda. Ini bukan pengalaman baru, bahkan juga pernah beda dalam mengakhiri Ramadan.

Bila kita lacak sejarah, perbedaan dalam memulai puasa pernah terjadi pada periode pasca kenabian. Seperti terekam dalam kisah berikut: Suatu ketika, Ummu al-Fadl binti al-Harits, yang menetap di Kota Madinah, mengutus Kuraib ke Damaskus, Suriah, untuk menyelesaikan suatu masalah kepada Mu’awiyah bin Abu Sufyan, penguasa pertama Dinasti Umayyah. Kuraib tiba di Damaskus malam Jum’at. Karena hilal malam itu telah tampak di kota tersebut, Kuraib juga melihat dengan mata kepala sendiri, maka puasa pertama Ramadan dimulai hari Jumat.

Ketika kembali ke Madinah, Kuraib menemui Abdullah bin Abbas, sahabat Rasulullah Saw yang juga pakar tafsir Alquran. Kepadanya Kuraib menceritakan perjalanannya ke Suriah, termasuk hilal yang dilihatnya di Damaskus.

Abdullah bin Abbas pun bertanya, “kapan engkau melihat hilal?” “Kami melihatnya pada malam Jum’at”, jawab Kuraib. Karena hilal tampak di kota Nabi pada malam Sabtu, Abdullah pun bertanya lagi, “Engkau melihatnya sendiri dengan mata telanjang?”

“Ya. Orang-orang juga melihatnya. Orang-orang pun lantas berpuasa pada keesokan harinya, termasuk Mu’awiyah”, jawab Kuraib. Abdullah bin Abbas ingin memastikan adanya perbedaan awal bulan Ramadan di antara kedua kota tersebut.

“Kuraib, kami di sini memulai awal Ramadan bukan Jumat, melainkan Sabtu. Sebab kami melihatnya pada malam Sabtu. Untuk tahun ini, kita di sini tampaknya akan berpuasa selama tiga puluh hari, kecuali kalau kita melihat hilal,” tegas Abdullah bin Abbas.

“Wahai putra Abbas bin Abdul Mutthalib! Kenapa kita tidak mengikuti ru’yah Mu’awiyah bin Abu Sufyan, sebagai penguasa, dan puasa yang ditetapkan olehnya?” tanya Kuraib.

“Tidak! Demikianlah yang diajarkan Rasulullah Saw kepada kami”, jawab sahabat Rasulullah Saw yang juga saudara sepupu beliau itu (HR. Muslim).

BERITA REKOMENDASI