Ketika Kesabaran Diuji dan Sinergi Komponen Bangsa Dinanti

Editor: Ivan Aditya

MUSLIMIN dan Muslimat yang dirahmati Alloh SWT. Ramadan sering disebut sebagai bulan Sabar. Pada bulan ini ummat muslim dituntut lebih bersabar, tidak hanya sabar menahan makan/minum dan nafsu birahi, tetapi juga harus sabar mengendalikan nafsu syaithoniyyah yang mengajak pada laku mungkar, laku maksiat dan laku lain yang tidak terpuji.

Ramadhan 1441 H kali ini berbeda dengan bulan-bulan Ramadan sebelumnya, di mana ummat Islam di Indonesia khususnya menjalani puasa di tengah krisis multidimensi. Bermula dari dua orang Indonesia yang pertama kali tercatat sebagai penderita covid-19 di awal Maret 2020, masalah kesehatan terus berkembang menjadi krisis dan kedaruratan kesehatan yang penuh misteri. Penderita covid-19 terus bertambah dengan cepat dan dalam sekejap menyebar ke seluruh penjuru tanah air, kota dan desa tidak terkecuali.

Masalah sosial ekonomi mulai terusik ketika kebijakan physical distancing, kerja dari rumah, dll diinisiasi. Ribuan orang mulai dirumahkan dan tidak sedikit yang di-PHK sehingga angka pengangguranpun meningkat dan tak pelak jumlah orang miskin baru menggeliat naik tinggi. Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang bertumpu pada pembatasan pergerakan masyarakat secara luas akhirnya diterapkan dengan maksud kedaruratan kesehatan segera teratasi.

Akan tetapi baru berjalan kurang lebih satu bulan, belum efektif menurunkan laju covid-19 di Indonesia mencapai titik rendah yang aman dan terkendali, kebijakan PSBB di Indonesia sudah menghadapi gelombang tuntutan masyarakat untuk direlaksasi (dilonggarkan), karena adanya kedaruratan baru, yaitu kedaruratan sosial ekonomi. Padahal laju covid-19 secara keseluruhan di Indonesia baru melambat, belum mencapai puncaknya, apalagi menurun, dan sangat berpotensi muncul gelombang kedua (second wave) covid-19 jika kebijakan relaksasi PSBB tidak dilakukan secara hati-hati.

BERITA REKOMENDASI