Memaknai Nuzulul Quran di Tengah Covid-19

Memaknai Nuzulul Quran di Tengah Covid-19
Oleh: Drs H Edhi Gunawan MPdl

NUZULUL Quran diperingati oleh hampir sebagian besar umat muslim jatuh pada tanggal 17 Ramadan, diyakini merupakan malam diturunkannya Alquran. Kecenderungan umat Islam memahami bahwa turunnya Alquran pada 10 hari terakhir bulan Ramadan, yaitu pada malam Lailatul Qadar, yaitu diturunkannya Aquran secara mujmal atau sekaligus dari Lauhul Mahfudz ke Baitul Izzah (langit dunia), ini sesuai riwayat yang disampaikan Aisyah, bahwa Nabi SAW bersabda:

“Carilah oleh kalian keutamaan Lailatul Qadar pada malam-malam ganjil di sepuluh malam terakhir bulan Ramadan” (H.R. alBukhari). Dalam hal ini, terdapat perkataan Ibnu Abbas, bahwa “Alquran itu diturunkan pada
bulan Ramadan pada Lailatul Qadar secara sekaligus, kemudian diturunkan lagi ke bumi secara berangsur selama hampir 23 tahun”.

Turunnya Alquran pertama kali dari Baitul Izzah ke bumi inilah yang kemudian peringati sebagai malam Nuzulul Quran. Yaitu peristiwa turunnya wahyu pertama kepada Rasulullah SAW yang sedang berkhalwat di
Gua Hira, di Jabal Nur. “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah. Yang mengajarkan (manusia) dengan (perantaraan) pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.” (Q.S. AlAlaq, 1-5).

Nabi Muhammad lalu mengikuti perintah Malaikat Jibril tersebut meski sebelumnya belum bisa membaca. Dalam Tafsir Al-Misbah, Prof Dr Quraish Shihab menerangkan, perintah membaca dalam Surat Al-Alaq mengisyaratkan banyak makna. salah satunya makna perintah untuk membaca segala apa saja dengan niat lillahi ta’ala.

Sementara itu, Syekh Jalaluddin Al-Mahili dalam Tafsir Jalalain memaknai ayat pertama Al-Alaq sebagai perintah untuk memulai sesuatu dengan menyebut nama Allah. Mengacu pada dua pendapat tersebut, Nuzulul Quran yang diperingati saat bulan Ramadan erat kaitannya dengan perintah untuk membaca, baik ayat-ayat Allah
SWT yang tersurat yaitu kitab suci Alquran maupun ayat-ayat yang tersirat, tercipta atau kejadian apa saja yang terjadi di tengah-tengah kita, karena itu merupakan tanda-tanda kekuasaan Allah. Pandemi Covid 19, yang mendunia, adalah tanda-tanda kekuasaan Allah SWT.

“menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah; dan barangsiapa yang beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu”.(Q.S; At-Taghabun: 11)

Ada hikmah di balik wabah dan musibah misalnya:
1. Tidak ada satu kekuatan makhluk pun
yang sanggup menandingi kekuasaan
Allah SWT;
2. Virus Korona itu makhluk yang kecil sekali, tetapi sanggup memporakporandakan dunia. Artinya sesuatu yang kecil
tidak boleh diremehkan;
3. Dengan semakin banyak orang yang terdampak ekonomi maka semakin meningkat kepekaan sosial di antara sesama, apalagi Ramadan adalah bulan untuk memperbanyak amal dan sodakoh;
4. Semakin merasakan ketakutan, maka
seorang hamba semakin banyak mendekatkan diri kepada Sang Pencipta; dan masih banyak hikmah lagi yang harus kira renungkan.

Karena itu, kita sebagai hamba yang taat kepada perintah Allah dan rasul-Nya, mestinya kita taat kepada pemimpin, seperti tidak mudik saat Lebaran, tetap di rumah kecuali ada keperluan, menjaga kebersihan dengan selalu mencuci tangan, menggunakaan masker ketika keluar rumah, tidak berkumpul dengan orang banyak seperti salat Idul Fitri dan sebagainya. Semoga dengan ikhtiyar tersebut Allah SWT segera mencabut Covid19 dari muka bumi ini.Amin…(*)

Drs H Edhi Gunawan MPdI,
Kepala Kantor Wilayah
Kementerian Agama Provinsi DIY.

BERITA REKOMENDASI