Mempertajam Sanksi Otonomi Diri

PUASA Ramadan 1443 tinggal beberapa hari. Semoga kita yang berpuasa dengan imanan dan ihtisaban benar-benar mencapai derajat muttaqin (orang-orang yang bertakwa). Betapa tidak, selama puasa kita dibiasakan menahan diri dari banyak hal, baik perbuatan yang hukum asalnya mubah (seperti makan dan minum), maupun yang hukum asalnya memang tak boleh, seperti marah-marah, berburuk sangka, memfitnah, menyebar berita bohong (hoaks), menggunjing dan berbagai perilaku buruk lain, karena semua itu dapat merusak pahala puasa.

Berpuasa (ash-shiyam) berarti al-imsak atau “menahan diri” dari menuruti keinginan hawa nafsu, sekadar “menahan” bukan untuk “membunuh” hawa nafsu, karena hawa nafsu itu kelengkapan yang diberikan Allah Swt untuk manusia sebagai alat menguji ketakwaan. Ketika manusia hanya menuruti hawa nafsu, dia akan jauh dari derajat taqwa, dan ini bertentangan dengan tujuan disyariatkannya puasa (Ramadan).

Urgensi lain dari nilai ketaqwaan adalah agar manusia benar-benar “menjadi manusia”, bukan sekadar wujudnya manusia. Dengan hanya menurutkan hawa nafsu sebetulnya manusia tidak utuh menjadi manusia. Orang bertakwa adalah orang yang utuh atau bulat antara niat, ucapan / ujaran, dan perilaku dalam kebaikan dan ketulusan. Tidak ada sedikitpun niat melakukan kesalahan atau kejahatan meski ada kesempatan. Dia mampu mengendalikan diri, mampu membangun pengawasan melekat (inheren) dalam dirinya, hingga memunculkan kepekaan dan empati atas problem orang lain. Dia akan merasa bersalah bahkan merasa berdosa ketika tidak dapat melakukan perbuatan baik dan bermanfaat, dalam konteks hubungan dengan Allah Swt (hablun minallah) maupun hubungan sesama manusia (hablun minan nas).

Manusia yang telah berhasil membangun pengawasan inheren akan takut melakukan perbuatan tidak terpuji, apalagi pelanggaran dan kejahatan. Ketakutan ini tidak tiba-tiba, tetapi terbangun melalui kesadaran moral, etik dan riyadlah yang dilakukan secara istiqamah dan penuh keimanan, seperti puasa Ramadan dengan berbagai jenis ibadah lainnya (shalat lail, banyak dzikir, tadarus, shadaqah, dan sebagainya). Jadi bukan sekadar takut karena akan mendapat hukuman / sanksi yang datang dari luar dirinya, seperti dari masyarakat, atasan, aparat penegak hukum, dan sebagainya.

BERITA REKOMENDASI