Resolusi Kemalangan di Hari Kemenangan

UNTUK mengatasi dampak pandemi Covid-19, pemerintah telah menjalankan banyak program, mulai penyaluran bantuan sosial (Bansos), bantuan bagi PKH, Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT), pendanaan kepada pemegang Kartu Pra Kerja, subsisdi listrik, hingga insentif usaha. Program-program sosial kemanusiaan di tengah pandemi tersebut sangat disyukuri dan harus diapresiasi.

Namun apakah lantaran program-program tersebut kemiskinan dan nestapa anak yatim-piatu lantas hilang? Tentu tidak dipungkiri kita masih bisa dengan mudah menjumpai masyarakat yang terlihat sangat memprihatinkan hidupnya.

Contoh, beberapa waktu saya menyaksikan ada seorang laki-laki mengayuh sepeda onthel menjelang waktu berbuka puasa. Dia memboncengkan dua keranjang berisi barang-barang rongsokan, seperti botol minuman bekas, kardus, dan lain sebagainya. Sembari menggendong anak balitanya dengan sayut, si bapak ini menghentikan kayuhan sepedanya untuk beristirahat sejenak.

Menurut pengakuannnya, ia melakukan pekerjaan memulungnya dengan selalu membawa anak balitanya karena istrinya sudah tiada sejak usia anaknya empat bulan. Sementara keluarganya ataupun keluarga istrinya sama-sama serba tidak memungkinkan untuk membantunya merawat anaknya karena sama-sama dalam kondisi penuh kesusahan. Ia dengan balitanya tinggal di sebuah kos-kosan yang bertarif Rp 200 ribu/bulan, yang harus dengan sangat susah payah dia membayarnya.

Kondisi bapak dan anaknya ini merepresentasikan kemalangan yang diakibatkan kemiskinan sekaligus status yatim-piatu. Kondisi ini bisa jadi dialami banyak orang, termasuk akibat pandemi. Kondisi memprihatinkan ini barangkali karena tidak terjangkau oleh program pemerintah, atau karena alasan lain, seperti karena faktor kartu tanda penduduk mereka beralamat tidak sebagaimana tempat domisilinya atau karena persoalan pendataan pihak desa yang kurang akurat.

BERITA REKOMENDASI