Sikap Hidup Pertengahan dalam Puasa

HIKMAH RAMADAN
Sikap Hidup Pertengahan dalam Puasa
Oleh: H Jazilus Sakhok MA PhD

Wakil Katib Syuriyah PWNU DIY dan Wakil Ketua STAI Sunan Pandanaran Yogyakarta.

 

UMMAT Nabi Muhammad Saw disebut di dalam Alquran sebagai ummatan wasathan (umat pertengahan), sebagaimana diungkapkan dalam surah al-Baqarah 143: “Demikianlah Kami jadikan kamu sebagai umat pertengahan, agar kamu bisa menjadi saksi atas umat manusia, sebagaimana juga Rasulullah (Muhammad) telah menjadi saksi atas kamu sekalian.”

Ayat tersebut seakan menegaskan bahwa umat Nabi Muhammad adalah umat yang pertengahan, maka itu dihasilkan dari sistem ajaran agama (syariat) yang juga bersifat pertengahan sebagaimana yang diteladankan oleh Rasulullah Muhammad Saw. Salah satu syariat Islam untuk membentuk pribadi yang serba pertengahan adalah puasa. Kata ‘puasa’ sebagai terjemahan kata shaum dalam bahasa Arab yang bermakna ‘menahan diri’ sesungguhnya bertujuan untuk menghasilkan manusia pertengahan dan seimbang sesuai dengan makna hakiki puasa.

Manusia yang mempunyai sikap hidup pertengahan dan seimbang adalah manusia yang mampu menahan dirinya untuk tidak bersikap dan berperilaku berlebihan (tatharruf; ekstrim). Karena itu, puasa adalah ibadah yang melatih seseorang untuk menahan dirinya supaya tetap menyeimbangkan antara yang jasmani dan ruhani sekaligus antara yang personal-individual dan sosial.

Keseimbangan antara jasmani dan ruhani bisa dirasakan dari perubahan jasmani mengurangi pola makan berlebih yang biasanya tiga kali sehari menjadi dua kali sewaktu sahur (sebelum subuh) dan berbuka (waktu maghrib). Di samping itu juga terjadi penambahan rutinitas ibadah secara fisik melalui pelaksanaan salat tarawih setelah waktu Isya, seakan mengingatkan kepada kita bahwa perut kenyang di waktu berbuka itu tidak baik apabila langsung dibuat tidur, tetapi harus dibuat beraktivitas ibadah supaya terjadi proses metabolisme makanan yang tersebar merata ke seluruh tubuh dan terhindar dari berbagai penyakit kronis. Ibadah jasmani dalam puasa akan mampu menyeimbangkan tubuh kita supaya semakin sehat sebagaimana terungkap dalam sabda Nabi Saw:
Shuumuu tashihhu (Berpuasalah maka kamu akan sehat).

Dalam seluruh ibadah jasmaniyah tersebut harus diimbangi secara ruhani dengan selalu mengharap ridlo Allah Swt. Kondisi spiritual seperti inilah yang sesungguhnya hanya Allah dan hambanya saja secara pribadi yang tahu. Inilah kenapa ketika seseorang yang berpuasa sudah masuk pada fase ruhani, Allahlah saja yang akan memberikan balasannya, sebagaimana sabda Rasulullah Saw dalam Hadis Qudsi: “Setiap amal anak Adam adalah untuk dirinya, kecuali puasa, sesungguhnya puasa itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan memberikan pahalanya.”

Puasa juga mengajarkan keseimbangan secara individual-personal dan sosial. Secara individual, seseorang dianjurkan untuk lebih memperbanyak ibadah seperti salat-salat sunnah, tarawih, qiyamul lail, tadarus Alquran, dzikir, i’tikaf, mengkaji ilmu, dan lain sebagainya. Secara sosial, pemaknaan yang benar terhadap kondisi lapar dan dahaga dalam berpuasa akan menghasilkan individu yang peka terhadap kondisi sesama manusia yang dalam kehidupan sehari-harinya mengalami hal yang sama, bukan karena sedang berpuasa, tetapi karena tidak memiliki apapun untuk dimakan.

Setelah berakhirnya Ramadhan, Allah juga mewajibkan kepada setiap umat Islam untuk mengeluarkan zakat fitrah kepada orang-orang di sekeliling yang tidak mampu. seakan ingin memberikan pelajaran kepada kita bahwa usaha peningkatan kesalehan individu yang dilakukan selama satu bulan penuh tidaklah dianggap lengkap dan sempurna jika tidak terjadinya peningkatan kesejahteraan sesama manusia di lingkungan sekitar.

Pribadi dengan sikap dan pola hidup pertengahan yang menyeimbangkan antara jasmani dan ruhani serta individual dan sosial inilah yang ingin dicetak selama sebulan penuh puasa. Keseimbangan hasil sebulan berpuasa juga diharapkan tetap berlangsung dalam sebelas bulan selanjutnya. Ketika tercipta pola dan sikap hidup yang seimbang, maka tujuan utama disyariatkannya puasa, yaitu ketakwaan kepada Allah Swt akan semakin mudah digapai, karena tidak ada ketakwaan dalam sikap dan pola pikir yang berlebihan (tatharruf; ekstrim). Wallahu a’lam bi al-shawab. (*)

BERITA REKOMENDASI