‘Takwil’ Mimpi Nabi Yusuf

KISAH Nabi Yusuf dan takwil mimpi sungguh menarik untuk dijadikan pelajaran. Setidaknya ada empat mimpi yang disebutkan dalam perjalanan hidup nabi yang sangat tampan ini. Tiga di antaranya ditakwilkannya dengan tepat. Yang satu ditakwilkan ayahnya.

Lahir sebagai anak Nabi Yakub dari istri kedua, Yusuf cukup dekat dengan ayahnya. Rupanya kedekatan ini menimbulkan rasa dengki di hati kakak-kakaknya yang sudah dewasa. Suatu hari ia menceritakan apa yang dilihatnya dalam mimpi: 11 bintang, matahari dan bulan bersujud kepadanya. Mendengar itu sang ayah mewanti-wanti: Jangan kau ceritakan mimpimu kepada kaka-kakakmu, sebab nanti mereka akan melakukan hal yang tidak baik bagimu.

Bagaimana memahami mimpi Yusuf yang disampaikannya kepada Yakub, ayahnya?

Bayangkan Yusuf kecil yang tidak diperhatikan kakak-kakaknya lain ibu yang gagah perkasa. Mereka menjadi juara dalam setiap pertandingan di kampung, menjadi pemimpin yang dihormati, penuh kewibawaan. Yusuf selalu ditinggal, entah karena ia lahir dari ibu muda yang lebih disayang, entah karena tubuhnya yang belum sekuat kakak-kakaknya. Dapat dibayangkan, dalam keadaan itu ia merasa sangat tertindas. Sehubungan dengan itu, mimpinya dapat dimaknai sebagai keinginan untuk “menundukkan” orang-orang yang selama ini telah menimbulkan keadaan yang tidak menyenangkan baginya.

Bolehkah dibayangkan Yusuf kecil yang menyampaikan impian atau visinya (untuk anak sekecil itu: “angan-angannya”) kepada sang ayah, “Aku akan kalahkan mereka.” Kelihatannya pemaknaan ini betul kalau dikaitkan dengan pesan sang ayah yang menjadi kenyataan.

Kakak-kakaknya merekayasa pemisahannya dari ayah mereka dan membuangnya ke dalam sumur. Yusuf lalu ditemukan kafilah dagang. Begitupun kakak-kakaknya masih minta bayaran kepada kafilah itu atas penjualan saudara mereka.

Yusuf pun lalu dijual oleh kafilah kepada pembesar Mesir dan terjadilah kisahnya dengan istri muda sang pembesar yang terpukau akan ketampanan Yusuf. Walaupun tidak bersalah, Yusuf dijebloskan ke penjara.

Di penjara ia berkawan dengan dua orang yang suatu saat bermimpi pula. Yang satu memeras anggur untuk dibuat khamr dan yang lain membawa roti di atas kepalanya lalu datang burung mematuk roti itu. Mimpi yang pertama agak mudah menghubungkannya dengan impian untuk melanjutkan pekerjaan lama: membuat khamr. Yang kedua agak sulit. Apakah kawan kedua ini bercerita tentang cara bekerjanya dengan cara yang tak semestinya? Membawa roti di atas kepala, lalu rotinya dimakan burung. Bukankah ini kecerobohannya dalam bekerja?

Kelihatan bahwa dengan ketajaman pandangan dan analisisnya, Yusuf dapat menebak apa yang akan terjadi dengan kedua orang yang menceriterakan visi mereka. Ternyatalah bahwa yang pertama kembali bekerja setelah bebas, sedang yang kedua dihukum bunuh. Kepada yang pertama Yusuf berpesan agar kasusnya disampaikan kepada pemerintah, tetapi rupanya sang kawan lupa selama beberapa tahun dan baru ingat setelah mendengar cerita raja.

Apakah mimpi raja dapat ditakwilkan sebagai visi juga? Ya, tapi bukan visi mengenai apa yang akan dicapai, melainkan perhitungan mengenai apa yang akan terjadi dengan dasar apa yang terjadi di masa kini. Raja ini punya pandangan jauh ke depan mengenai nasib kerajaannya, sementara ia melihat para pembantunya tidak kapabel untuk menangani persoalan yang dihadapi. Mungkin korupsi terjadi di situ, mengingat bahwa Yusuf memohon untuk dijadikan bendahara kerajaan. Ketidakmampuan para pembantu raja itu tampak dalam kegagalan mereka memahami pandangan jauh ke depan dari sang raja. Hanya Yusuf yang mampu memahaminya dan kemudian mendapat amanah untuk mewujudkannya.

Kemudian Yusuf pun mencapai visinya ketika ayah bundanya dan kesebelas saudaranya melihatnya sangat berkuasa sedang mereka papa. Yusuf mencapai itu setelah mengalami penderitaan, fitnah, penjara yang tidak membuatnya jatuh, tepi justru terus mengasah daya analisisnya dan kesungguhannya menjaga amanah. (Prof KH Machasin, Guru Besar UIN Sunan Kalijaga dan Ketum MUI DIY)

BERITA REKOMENDASI