Photocycle Bagikan Bantuan di Wilayah Bencana

SEMARANG, KRJOGJA.com – Rasa empati para fotografer Kota Semarang yang tergabung dalam Photocycle Community terhadap para korban banjir di Kota Semarang membuahkan kepedulian dengan membantu para korban dengan cara mengirimkan bantuan sembako. Tak tanggung-tanggung, beberapa sak beras, satu peti telor dan bahan pangan lainnya diangkut ke daerah banjir dengan ‘ngontel’ alias naik sepeda.

Minggu (14/2/2021), delapan anggota Photocycle Community pagi-pagi menyiapkan sembako yang sumbangan dari para anggota. Para anggota yang beberapa waktu lalu memotret kondisi para korban banjir di Semarang langsung tergerak untuk membantu.

Sejak pagi, pukul 06.00 WIB, mereka kumpul di rumah Ketua Photocycle Community, Bambang RSD di Padepokan Ganesa Semarang Timur. “Semua kita angkut dengan sepeda dan kita naiki hingga ke lokasi diKecamatan Genuk. Jaraknya sekitar 15 kilometer dari sini, karena kita juga harus melintasi jalan yang mulus. Kami khawatir bila melintas di jalan bergelombang, telur satu peti bisa pecah semua,” ungkap Bambang RSD, pentolan fotografer Semarang.

Benar, pukul 06.30 WIB, rombongan Photocycle Community Berbagi bencana Banjir Kota Semarang meluncur ke Genuk. Dengan jalan perlahan, tiap sepeda ada yang mengusung sak berisi beras, kardus mie instan dan menggendong tas ransel besar berisi minyak goreng, kecap dan teh.

“Kami tidak sedang mencari sensasi, tapi ini lah cara kami mengantar bantuan dengan sepeda agar kami juga bisa berolah raga. Pembagian pun juga tidak langsung ke warga yang terdampak banjir namun melalui institusi kewilayahan. Awalnya kami mendatangi Kantor Kelurahan Gebangsari Genuk, namun kondisinya tutup tak ada orang. Akhirnya setelah menyusuri kampung-kampung yang masih terendam, kami menuju Koramil Genuk dan bantuan kami serahkan melalui Koramil agar bisa didistribusikan ke mereka yang membutuhkan,” ujar Nugroho DS, selaku anggota yang bertanggungjawab memimpin kegiatan bhakti sosial.

Kunjungan penyerahan bantuan korban banjir ke Koramil Genuk pun sempat membuat kaget petugas piket. Sertu Soleh dan Sertu Sundoko yang sedang berjaga tak mengira kedatangan rombongan fotografer yang gila sepeda.

Ada sensasi tersendiri ketika membawa bantuan menuju lokasi bencana. “Bukan karena bangga bisa menunjukkan bahwa kita datang membawa bantuan dan menyumbang, karena lebih pada tantangan. Misalnya saat melintasi di jalan becek dan licin. Sudah tentu harus jalan pelan menghindari karung beras jatuh. Saat nyeberang rel kereta api pun kita harus turun dari sepeda dan mendorongnya pelan-pelan agar telur dalam peti tidak kontraksi dan pecah. Walau kenyataannya ada yang pecah lima butir,” ungkap Wawan Widhi.

Sementara Endarto Setyadi yang menunggang sepeda lipat Pro-One juga tak kalah heroik mengangkut minyak goreng 10 liter dengan tas ransel. “terpaksa diangkut pakai tas, sebab sepeda mungil tak mungkin untuk angkut beban. Beban saya saja sudah 100 kilogram lebih, terpaksa pakai ransel,” ungkap Endarto.

Photocycle Community menurut Ketuanya, Bambang RSD bukanlah klub atau komunitas yang lama dibentuk. “Usianya sama dengan Pandemi Covid-19. saat pandemi kami bergerak bersama untuk membuat kegiatan olahraga bersepeda. Anggotanya adalah fotografer hobi, komersial juga wartawan foto. Dari perkumpulan ini kami sering menggelar acara Charity atau penggalangan dana untuk membantu anggota maupun masyarakat yang tertimpa musibah,” ungkap Bambang RSD.

Fotografer berambut gondrong ini mengaku, anggotanya kini sudah mencapai 20 orang. Misinya selain bersepeda untuk mencari sehat, juga hunting foto untuk mempromosikan atau mempublikasikan potensi wisata apa saja yang ada di Kota Semarang.

“Bagi mereka yang bekerja di media, bisa jadi bahan pemberitaan. Namun yang memiliki medsos bisa jadi konten menarik untuk diketahui khalayak umum,” paparnya. (Cha)

BERITA REKOMENDASI