Progo Zebra Cycle Club, Bersepeda Sambil Kampanye Tiblantas

TREND gowes yang melanda masyarakat, seiring dengan semakin membaiknya kondisi terkait pandemi Covid-19, memunculkan kebiasaan bersepeda sambil berolahraga. Di sejumlah tempat muncul klub-klub sepeda, yang mempersatukan penggemar olah raga sepeda. Setidaknya, seminggu sekali mereka berkumpul dan gowes bareng mengitari rute dalam kota maupun menuju ke tempat objek wisata tertentu.

Jauh sebelum pandemi Covid-19, jajaran Direktorat Lalu Lintas (Ditlantas) Polda DIY sudah memulai mentradisikan olah raga bersepeda (gowes) dengan tujuan untuk menjaga kesehatan dan kebugaran. Puluhan anggota setiap Jumat pagi dan Selasa pagi mencoba beradu ketahanan mancal sepeda sekaligus mengukur kemampuan nafas. Kegiatan tersebut langsung dikomandani Direktur Lalu Lintas (Dirlantas) Polda DIY Kombes Pol I Made Agus Prasatya SIK MHum. Sebagai penanda komunitas gowes, mereka sepakat memakai nama Progo Zebra Cycle Club dengan semboyan Gowes Bareng Gayeng Sedaya.

Ketika pemerintah secara resmi mengumumkan perihal pandemi Covid-19, praktis sejumlah kegiatan yang mengumpulkan banyak massa tidak diperbolehkan. Jika ketetapan itu diterabas, risikonya adalah masalah kesehatan masyarakat, bahkan bisa berujung pada kematian karena virus korona. Sejumlah kegiatan olah raga pun harus dihentikan, termasuk gowes yang menjadi trend tersendiri di masyarakat.

Kegiatan rutin dua kali dalam seminggu sempat terhenti sekitar tiga bulan lantaran pandemi Covid-19. Demi menghindari menyebarnya virus korona, anggota Ditlantas Polda DIY harus fokus melakukan pencegahan. Selain upaya pencegahan, setiap hari anggota Ditlantas Polda DIY melakukan aksi sosial dengan memberikan bantuan sembako kepada masyarakat yang terdampak langsung pandemi Covid-19. Tak hanya itu, jajaran Ditlantas Polda DIY juga membagi-bagikan peralatan kesehatan berupa masker, hand sanitezer, dan alat pelindung diri (APD). Secara otomatis dalam kurun waktu sekitar tiga bulan, kegiatan bersepedaria harus terhenti.

Seiring perjalanan waktu, setelah virus korona dirasa sudah mereda kegiatan bersepeda kembali dilakukan. Hal tersebut seiring dengan fenomena masyarakat yang gandrung terhadap gowes. Nyaris setiap pagi, masyarakat berbondong-bondong gowes, baik dilakukan secara perorangan maupun kelompok. Hal tersebut tentu saja mempengaruhi situasi dan suasana arus lalu lintas, baik di dalam kota maupun di wilayah perbatasan.”Selain memberi contoh bagaimana seharusnya berolah raga menggunakan sepeda, tentu kami juga memberi contoh perihal tiblantas saat melakukan gowes,” ujar I Made Agus Prasatya.

BERITA REKOMENDASI