Tongkah Kopi: Tak Sekedar Kedai Kopi, Namun Ruang Kekeluargaan

SLEMAN, KRJOGJA.com – Empat sahabat ini percaya membangun bisnis bisa dimulai dari pertemanan. Selain itu, membangun kedai kopi tak harus di tengah kota, justru di pelosok kampung, punya nilai lebih bagi masyarakat sekitar.

Empat sekawan itu Barkah Ramadhan, Abdul Azis, Edo Bima Risnaldi, M Yuan Syahputra yang membangun sebuah kedai kopi dengan tujuan awal sederhana yaitu ingin mengumpulkan kembali teman-temannya.

Dua setengah tahun lalu, tepatnya 2 Juni 2017 mereka membangun kedai kopi yang dinamakan Tongkah Kopi di Jl. Bardosono, Klisat, Nglengking, Sendangrejo, Minggir, Sleman. Sebuah kedai kopi di rumah yang berada di pelosok desa.

Barah mengatakan sebenarnya niat awalnya hanya ingin ngumpulin lagi teman-teman yang kita kenal di satu titik. Hal itu karena ia merasa sudah semakin sulit untuk bertemu, lalu terpikirlah untuk membuat kedai kopi. "Setelah buka ternyata yang masuk bukan hanya teman-teman tapi ada banyak orang baru, nah dari situ kami baru mulai serius,” ujar Barkah.

Dengan role model Kopiratan, sebuah warkop di pelosok desa yang bertempat di daerah Godean. Akhirnya 4 sekawan ini berani membuka Tongkah Kopi. Mereka melihat bahwa walaupun berada di pelosok desa, nyatanya Kopiratan pun bisa ramai pengunjung. Maka mereka optimis Tongkah Kopi pun pasti bisa.

“Role model kami adalah Kopiratan yang waktu awal dulu juga buka di rumah, di garasi rumahnya, sangat masuk ke dalam desa. Kopiratan juga yang akhirnya minta kami buka. Maka tanpa pertimbangan yang banyak, kami buka. Kalau referensi lain seperti harga dan sistem kerja kami jalan-jalan ke kedai kopi sekitaran Godean dan di kota,” imbuh Barkah lagi.

Walaupun rumah yang digunakan adalah milik salah satu pendiri kedai kopi ini, namun permisi atau dalam Bahasa Jawa ‘kula nuwun’ pun tetap mereka lakukan. Hal ini sebagai bentuk permohonan izin sekaligus perkenalan kepada warga bahwa akan ada kedai kopi di desa mereka.

“Awal perkenalan kami adalah dengan melakukan pendekatan ke pemuda. Misalnya pemuda ada kegiatan, kami berkontribusi, membantu sedikit-sedikit. Kalau ke warga selain tetembungan di awal, kami juga terlibat dalam kegiatan perayaan. Misalnya di malam 17 Agustusan sebagai perayaan syukur kami bagi-bagi kopi. Lalu misalnya ada seripah kami tutup. Ya kami hidup berdampingan aja dengan warga karena kan kami juga buka di desa mereka,” kata pemuda 24 tahun ini.

Membawa nama Tongkah yang berarti bambu yang jadi pijakan di tempat becek. Barkah dan ketiga temannya berharap Tongkah bisa menjadi pijakan setiap orang yang datang untuk bisa sampai ke tujuan. Maka dengan membawa nama itu, mereka membuat konten-konten yang selaras di Tongkah Kopi. Salah satunya adalah dengan adanya Malam Apresiasi.

Malam Apresiasi merupakan sebuah ruang yang dibentuk bagi teman-teman Tongkah Kopi yang ingin menyalurkan energinya. Bisa sebagai pijakan, ruang kreasi, serta ruang untuk teman-teman Tongkah Kopi menunjukkan bakat-bakat yang dimiliki. Selain itu juga sebagai hiburan bagi para pengunjung Tongkah Kopi. Malam Apresiasi ini diadakan 2 kali dalam satu bulan, tepatnya pada hari Jumat malam di minggu kedua dan keempat. Namun lagi-lagi bersifat fleksibel atau bisa saja bergeser harinya karena menyesuaikan situasi dan kondisi di desa.

“Dulu namanya Minggu Pagi Berenergi, diadakannya ya setiap hari Minggu, berangkat dari yang kami rasakan sendiri, sifatnya lebih serius untuk sharing. Misalnya ada teman yang kami kenal, dia budidaya lele, nah kami undang untuk berbagi ilmunya ke teman-teman di Tongkah Kopi," kata Barkah.

Kegiatan seperti itu agar selain untuk mengenal orangnya, juga untuk mengenal kegiatan dia itu ngapain aja, maksudnya biar bisa berguna untuk jangka panjang. Tapi nggak bisa konsisten karena audiens kurang melebar dan diadakan waktu warung tutup. "Akhirnya kami geser jadi Malam Apresiasi. Karena kalau Malam Apresiasi pas warung buka jadi audiensnya pasti ada, nggak harus mengundang,” jelas Barkah lagi dengan tawa khasnya.

Selain Malam Apresiasi, Barkah dan ketiga temannya menyediakan beberapa buku di Tongkah Kopi. Mereka tak ingin menaruh harapan terlalu tinggi seperti meningkatkan minat baca pada para pengunjungnya.

Akan tetapi harapannya sederhana, buku bisa jadi sesuatu yang diambil ketika pengunjung mulai bosan dengan aktivitas pribadinya. Buku juga bisa jadi pemantik obrolan ketika pengunjung mulai kehabisan topik bahasan bersama teman-teman.

“Kami realistis aja, kami juga jarang baca, kok mau meningkatkan minat baca pengunjung. Ya sederhana aja, paling enggak yang keambil itu buku kalau udah gabut, dan mungkin bahasan-bahasan juga bisa muncul dari buku,” ujar Barkah sembari terkekeh.

Hal ini juga dikarenakan Tongkah Kopi tidak menyediakan fasilitas wifi. Mereka bukan menolak, hanya belum siap saja. Mereka takut tidak bisa mengontrol penggunaan wifi dan merasa atmosfer pengunjungnya akan berbeda.

Maka Barkah mengatakan untuk kedai kopi dengan wifi biar ada jatahnya sendiri. Untuk meningkatkan jumlah pengunjung, media sosial instagram-lah yang mereka gunakan. Penggunaannya secara intens pun dikatakan Barkah belum lama.

“Baru intens berjalan 1 tahun ketika kami mendapati ada beberapa pengunjung yang datang dari luar kota yang mendapat informasinya dari instagram. Saat itu kami baru sadar bahwa instagram punya peran yang besar, maka baru kami seriusin. Selebihnya dari getok tular aja,” kata Barkah sembari melinting rokoknya yang entah sudah keberapa.

Setelah berjalan 2 tahun ini, Barkah dan ketiga temannya memiliki niat mengembangkan Tongkah Kopi ke depan. Akan tetapi bukan dari segi infrastruktur, namun lebih kepada sumber daya manusianya. Mereka ingin mengembangkan bahkan menambah konten-konten yang melibatkan pengunjung, seperti Malam Apresiasi. Mereka ingin bisa lebih dekat dengan teman-teman Tongkah Kopi.

“Ya kami hanya ingin kedai kopi bisa jadi ruang kekeluargaan yang nggak basa-basi. Kami senang sekali ketika tahu beberapa pemuda di desa ini akhirnya banyak yang kerja di kedai kopi. Karena mereka melihat dan akhirnya percaya lewat Tongkah Kopi kalau kerja di kedai kopi itu ada bayarannya. Melalui hal  ini pula yang membuat kami semakin dekat dengan pemuda-pemuda setempat,” tutup Barkah akhirnya. (Felicia Echie/Mahasiswa UAJY) 

BERITA REKOMENDASI