Merdeka Belajar

MERDEKA belajar merupakan jargon Menteri Pendidikan dan Kebudayaan mentransformasi sistem pendidikan nasional. Jargon yang tidak sekadar gagasan. Jargon itu sudah dinyatakan sebagai kebijakan. Hanya detailnya yang belum dirinci. Sehingga sebagian besar guru dan sekolah saat ini sedang galau. Galau menanti panduan teknis merdeka belajar. Apa artinya?

Guru yang masih menunggu panduan teknis merdeka belajar berarti belum merdeka dan masih ingin tertindas. Bisa dimengerti, dalam hal pembelajaran, para guru sudah sangat lama tertindas dan telanjur menikmati ketertindasan itu. Ketika dilepas dari ketertindasan malah tidak percaya diri.

Konsep pendidikan merdeka gagasan Ki Hadjar Dewantara (KHD) dapat dijadikan rujukan untuk kembali belajar merdeka. Belajar merdeka berarti belajar mandiri dan belajar percaya diri. Dalam ‘Wasita Rini’ KHD mengatakan, ”…mardika iku jarwanya, ora mung lepas ing pangreh, ning kudu kuwat kawasa, amandhireng pribadi…”

Apabila diterjemahkan secara bebas ungkapan KHD tersebut mengandung makna, merdeka itu tidak hanya berarti lepas dari ketertindasan, tetapi juga harus mampu dan mau mandiri dan percaya diri. Dalam konteks merdeka belajar, guru dituntut percaya diri menyelenggarakan kegiatan pembelajaran. Menjadi guru yang percaya diri dan sanggup menjalankan kepercayaan menyelenggarakan pembelajaran merdeka itulah paradigma merdeka belajar.

Saat ini implementasi paradigma merdeka belajar belum terjadi. Ketika guru diminta merancang rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) mandiri yang efektif, efisien, dan sesuai kebutuhan anak didik, dipersepsikan sebagai jumlah lembaran RPP yang dikurangi. Beramai-ramai para guru menyederhanakan RPP dari berlembar-lembar menjadi satu lembar.

Akibatnya, RPP lama yang berlembar-lembar terdiri atas sedikitnya 13 komponen dipadatkan menjadi RPP 1 lembar dengan 3 komponen. Akhirnya keduanya bernasib sama, yakni sama-sama tidak dapat digunakan untuk memandu proses pembelajaran.

Dihapuskannya ujian nasional (UN) yang merupakan manifestasi pemberian kepercayaan kepada guru dan sekolah untuk mengevaluasi sendiri hasil proses belajar anak didiknya direspons sebagai ketidakpastian. Guru dan sekolah tidak tahu harus berbuat apa.

Ketika ditawarkan asesmen kompetensi minimum (AKM) dan survei karakter (SK), dipersepsikan sama dan sebangun dengan UN. Artinya AKM dan SK masih dianggap beban kelulusan sebagaimana UN. Anak didik harus dipersiapkan melalui berbagai cara untuk menghadapi AKM dan SK. Jika diperlukan akan diselenggarakan bimbingan belajar dan tryout mengahadapi AKM dan SK.

Dua fakta di atas menunjukkan betapa belum merdekanya guru-guru kita. Sekalipun demikian substansi merdeka belajar bukan kebebasan atau keleluasaan semata bagi pendidik dan anak didik dalam proses pendidikan dan pembelajaran. Lebih dari itu, proses pendidikan dan pembelajaran yang terselenggara hendaknya mampu menjamin tumbuh dan berkembangnya jiwa merdeka.

Untuk melaksanakan merdeka belajar para guru harus terlebih dahulu mengubah mindset-nya dan kemudian meningkatkan keterampilan dan kapasitasnya. Perubahan mindset itu dimulai dari menumbuhkan budaya untuk belajar dan budaya untuk berinovasi. Maka, guru yang merdeka ialah guru yang memberi peluang terukur kepada anak didik untuk selalu belajar dan berinovasi. Guru tidak boleh apriori terhadap anak didik yang banyak bertanya, banyak mencoba, serta memiliki banyak karya.

Budaya belajar dan berinovasi hanya milik mereka yang tidak apriori terhadap perubahan dan pembaharuan. Guru merdeka yang pembelajar ialah guru yang mampu menciptakan peluang terhadap anak didik berkembang, swa-disiplin, dinamis, dan berpandangan kemajuan, terlepas dari apa pun passion-nya.

Garza (2014) menyatakan, kepemimpinan kepala sekolah dan manajemen sekolah berperan sentral dalam penciptaan budaya sekolah. Dengan demikian sangat tidak cukup perubahan paradigma pendidikan dan pembelajaran hanya melalui perubahan birokrasi tanpa perubahan budaya sekolah. Merdeka belajar adalah merdeka berpikir dan berkarya.

Sekolah merdeka adalah sekolah yang melakukan inovasi dan mengubah budaya belajar bukan sekadar budaya administratif. Guru merdeka adalah guru penggerak yang dinamis, adaptif dengan tantangan zaman, dan inovatif sehingga berhasil mengeksplorasi potensi anak didiknya. (Penulis adalah praktisi pendidikan dan kebudayaan).-d, Analisis dimuat di Harian Kedaulatan Rakyat edisi 7 April 2020

 

BERITA REKOMENDASI

Mudik Virtual

22 Mei 2020

Pasar Rakyat

18 Mei 2020

Digitalisasi Buku

16 Mei 2020

Akhir Pandemi

15 Mei 2020

Kerja Sama

14 Mei 2020

Era New Normal

12 Mei 2020