Diajak Dolan Penunggu Pohon Bulu, Gimin Jadi Pintar Memijat

Editor: KRjogja/Gus

KETIKA berusia 10 tahunan, Gimin yang pendiam dan senang menyendiri itu menurut cerita tetangga-tetangga sedesanya pernah diajak dolan penunggu pohon Bulu di pojok desanya. Pohon Bulu pojok desa itu memang besar, dan konon usianya lebih se-abad, dan banyak sekali cerita mistis yang terjadi. Malahan bergaung cerita di pohon bulu yang gerowong tengahnya itu dihuni berbagai lelembut.

Peristiwanya terjadi di seputaran tujuh puluhan, malam itu ketika malam bulan purnama anak-anak desa tempat Gimin tinggal masih pada bermain jethungan. Hanya Gimin saja yang tidak, ia hanya duduk-duduk di batu besar di pojok halaman tempat mereka bermain.

Seperti dikutip dari harianmerapi.com, Gimin memang nggak pernah ikut bermain, teman-temanya hafal, jadi tidak ada yang mengajaknya. Dan teman-temannya juga tahu kebiasaan Gimin hanya duduk menyendiri sambil menyaksikan teman-teman bermain.

Karena malam itu malam panjang, besok pagi anak-anak tidak ke sekolah, sekitar Jam setengah sebelas mereka baru usai bermain. Mereka satu persatu pulang ke rumah masing-masing.

Namun setelah anak-anak pada pulang Pak Karjo kebingungan mencari Gimin anaknya, karena memang belum pulang ke rumah. Pak Karjo berkeliling menanyakan pada teman serta orang tuanya, ternyata nggak ada yang tahu.

Berita hilangnya Gimin pun tersebar ke desanya, beberapa tetua di desa meyakini jika Gimin digondhol Wewe penunggu Pohon Bulu, karena memang penunggu pohon Bulu suka usil. Beberapa warga bersama ayah Gimin segera ke Mbah Sonto, orang pintar yang tinggal di tetangga desa, dan Mbah Sonto membenarkan, Gimin diajak dolan penunggu Pohon Bulu.

Setelah bertafakur, Mbah Sonto memberikan tambir serta pemukul, berharap warga agar memukul tambir dan peralatan dapur sambil berkeliling Pohon Bulu sambil berucap, “Balekna anaku, balekna anaku, balekna anaku….”

Itu dilakukan hingga pagi, dan benar ketika Matahari mulai bersinar, tampak Gimin berada di atas pohon Bulu memegang erat salah satu dahannya. Warga segera mencari tangga, dan cepat-cepat menolong Gimin.

Namun sayang ketika Gimin sampai ke rumah, anaknya susah bicara, ia menjadi gagu, jadi ketika diminta bercerita kejadianya, ia hanya menjawabnya dengan bahasa isyarat. Kini Gimin sudah berumah tangga, namun Gimin pintar memijit, dan laris diundang memijit kemana-mana. (Bagong)

BERITA REKOMENDASI