Hiii…Diikuti Pocong dari Mbulak

Editor: KRjogja/Gus

NARTI (nama samaran) merupakan seorang pedagang sayur. Sehari-harinya ia berkeliling kampung untuk berjualan sayur dengan suaminya menggunakan ompreng. Sebelum subuh atau sekira jam tiga pagi Narti beserta suaminya pergi ke pasar untuk membeli sayur mayur yang akan dijualnya kembali.

Suatu hari, Darno (nama samaran) suami Narti sedang tidak enak badan. Untuk itu Narti berangkat ke pasar sendirian pukul setengah empat dengan menggunakan ompreng. Pukul empat Narti sampai di mbulak yang menurut desas-desus yang beredar, angker. Narti tidak memiliki perasaan apapun saat memasuki mbulak yang cukup panjang itu. Ia juga tidak merasa takut sama sekali sebab selama ia melewati mbulak bersama suaminya, tak pernah mengalami kejadian aneh seperti dilihatkan penampakan.

Dengan santai Narti terus melajukan omprengnya dengan kecepatan sedang. Sampai di tengah mbulak Narti melihat sesuatu berwarna putih jauh di belakang melalui kaca spion. Awalnya, Narti mengira itu adalah ibu-ibu yang akan berangkat ke masjid untuk subuhan. Tetapi, ia menyadari keberadaanya saat ini yang bukan di kompleks perumahan melainkan di mbulak. Yang pasti tidak ada rumah ataupun masjid di sisi kanan dan kiri jalan.

Bulu kuduk Narti meremang seiring sosok putih itu yang semakin mendekat pada mobil Narti dengan meloncat-loncat. Tubuh Narti pun berkeringat dingin dan tangannya gemetar. Satu loncatan sosok itu sama saja dengan lima loncatan orang dewasa.
Dalam keadaan yang campur aduk Narti berusaha mempercepat laju kendaraannya dan tepat sampai di pertigaan ia langsung belok sebab mbulak di depan masih agak panjang. Alhasil, Narti memutuskan untuk memasuki kompleks perumahan untuk mencari jalan lain pulang ke rumahnya tanpa harus putar balik di mbulak. Sesekali Narti melirik kaca spionnya takut kalau sosok itu masih mengikutinya.

Beruntung sosok itu sudah tak mengikutinya dan suara azan telah terdengar. Ia sedikit lega meski tubuhnya masih bergetar hebat.
Semenjak kejadian itu, Narti tidak mau lagi pergi ke pasar sendiri. Ia juga menyuruh suaminya mencari jalan lain menuju pasar, meski lebih jauh dari jalan yang biasanya dilalui asalkan ia tidak melewati mbulak angker itu lagi. (Ni’matus Sholihah)

BERITA REKOMENDASI