Rumahnya Diganggu, Penunggu Pohon Cangkring Murka

Editor: KRjogja/Gus

DI KEBUN belakang rumahku terdapat pohon cangkring besar. Pohon ini penuh dengan duri besar di seluruh batang dan rantingnya. Di dekat pohon itu seringkali aku mendengar cerita dari orang yang sering diganggu. Ada yang bilang sering lihat anak kecil bermain di dekat pohon itu. Ada juga penjual bakso keliling yang sampai jatuh ke sungai gara-gara diganggu makhluk gaib di dekat pohon itu.

Seperti dikutip dari harianmerapi.com, pohon itu adalah milik kakak ibuku atau Pakde. Suatu hari Pakde mau membakar batu bata buatan cucunya. Karena kayunya kurang, maka Pakde menebang pohon cangkring itu untuk tambahan kayu bakar. Pada saat penebangan tidak terjadi hal yang aneh sama sekali. Namun keesokan malamnya aku mengalami hal yang aneh.

Pada saat itu sudah menjelang pagi. Aku yang biasa tidur ditemani ibu, tiba-tiba terbangun dari tidur karena merasakan kalau aku sendirian. Benar saja, ketika membuka mata aku sudah tidak melihat ibu di sampingku. Selain ditinggal sendirian oleh ibuku, aku merasakan ada yang aneh. Mataku seperti dipaksa melihat ke arah pintu kamar yang hanya tertutup gorden tipis tembus pandang.

Benar saja. Ketika melihat ke arah pintu kamar tampak sesosok bayangan tinggi besar dengan mata merah dan rambut acak-acakan sedang menatapku. Meskipun makhluk itu ada di belakang gorden, tapi masih terlihat jelas karena gordennya hanya kain tipis yang tembus pandang.

Aku sungguh ketakutan. Mau berlari keluar tidak mungkin karena makhluk itu berdiri tepat di tengah pintu kamar. Aku hanya bisa menutup kedua mataku dengan bantal dan terus membaca doa tanpa melirik sedikit pun ke arah pintu sampai akhirnya ibu pulang dari jalan pagi.

Aku langsung cerita tapi ibu tidak percaya. Namun keesokan harinya ibu mengalami sendiri kejadian aneh. Pada saat itu ibu sedang menimba air di sumur untuk wudhu Salat Isya’. Iu melihat bayangan lewat di depannya dan menuju kebun. Lalu bayangan itu hilang begitu saja. Yang lebih aneh lagi saat membakar batu bata banyak orang merasakan seperti ada sesuatu yang terus mengikuti kami. Dan pada saat dibuka, batu bata yang kami bakar semalam suntuk dengan bara api yang sangat panas tersebut tidak ada satu pun yang matang berwarna merah! (Afra)

 

BERITA REKOMENDASI