Mudik Nyadran ?

PERAYAAN Lebaran Idul Fitri masih lama, namun daerah sekitar Yogyakarta dan Surakarta sudah dibanjiri pemudik dari banyak kota. Memang, mudik kali ini terasa ganjil. Bak laron pulang ke sarang, ratusan ribu perantau balik ke tanah kelahiran lebih awal lantaran pageblug Korona.

Selain pertimbangan roda ekonomi kota seret dan terkena pengurangan tenaga kerja, pekerja informal memilih mudik. Terpaksa mudik sekaligus untuk keperluan nyadran di bulan Ruwah.

Tahun ini hati gulana dan paras sayu, tapi mereka tiada melupakan tradisi lama menjenguk leluhur di kuburan. Raga sudah berkalang tanah, tetapi arwah kakek moyang diyakini masih hidup. Ritual penghormatan terhadap arwah saban Ruwah diabadikan pekamus Poerwadarminta (1939).

Istilah nyadran yang tersurat dalam pustaka ‘Bausastra Jawa’ bukan saja bukti kesadaran wong Jawa menghargai pepunden lewat sepucuk doa dan berkirim bunga. Namun juga menempatkan kuburan sebagai ruang penting yang kudu ditengok dan dibersihkan.

Pada zaman normal, tidak sedikit orang Jawa yang mengutamakan pulang mudik untuk nyadran, sebagai ajang berkumpul keluarga besar. Jika kelak Idul Fitri tidak mudik, sudah sah. Ini adalah kegiatan kultural. Bisa dilihat dalam ‘Serat Centhini’ (1814-1823) yang disusun para pujangga istana Kasunanan Surakarta.

Sebelum naskah dikerjakan dengan mengelilingi sekujur Pulau Jawa, salah satu dari mereka beribadah haji ke Mekkah guna meluaskan wawasan agama. Pustaka klasik yang memuat pengetahuan keislaman ini merekam budaya nyadran menubuh dalam masyarakat Jawa.

BERITA REKOMENDASI

Mudik Virtual

22 Mei 2020

Pasar Rakyat

18 Mei 2020

Digitalisasi Buku

16 Mei 2020

Akhir Pandemi

15 Mei 2020

Kerja Sama

14 Mei 2020

Era New Normal

12 Mei 2020