100 Tahun Aisyiyah Mencerahkan Umat

Editor: Ivan Aditya

AISYIYAH, sebagai organisasi sosial keagamaan yang bergerak di bidang dakwah, dan merupakan sayap perempuan dari Muhammadiyah, pada tanggal 19 Mei 2017 telah berusia 100 tahun. Aisyiyah didirikan Nyai Walidah Ahmad Dahlan bersama dengan Kiai Haji Ahmad Dahlan pada tanggal 27 Rajab 1335 H bertepatan dengan tanggal 19 Mei 1917 M di Kampung Kauman Yogyakarta. Tujuan pendiriannya adalah untuk menjadi wadah bagi para perempuan agar mampu mengembangkan dan meningkatkan diri dalam ketaqwaannya kepada Allah dan berbagai bidang kehidupan yang lain, serta mampu berperan dalam masyarakat. Sebagaimana dipesankan KH Ahmad Dahlan kepada para perempuan sejak awal berdirinya Aisyiyah, ”agar urusan dapur janganlah menjadi halangan untuk menjalankan tugas dalam menghadapi masyarakat” (dalam Pimpinan Pusat Aisyiyah, Sejarah Perkembangan Aisyiyah, tanpa tahun, hal 27).

Sampai dengan satu dekade setelah awal berdirinya Aisyiyah telah melaksanakan berbagai kegiatan pemberdayaan sebagai tonggak awal gerakan dakwahnya yang di antaranya sebagai berikut. Tahun 1919 mendirikan Taman Kanak-Kanak (frobel school), tahun 1922 mendirikan mushalla perempuan, 1923 melakukan gerakan pemberantasan buta huruf, 1926 mendirikan majalah perempuan dengan nama Suara Aisyiyah yang tidak pernah berhenti terbit sampai saat ini. Pada tahun 1928 menjadi salah satu inisiator dan perintis terlaksananya Kongres Perempoean di Yogyakarta pada tanggal 22 Desember 1928. Selanjutnya membentuk federasi dan kemudian dikenal menjadi Kongres Wanita Indonesia, Kowani.

Pembinaan Keluarga

Kini, 100 tahun kemudian, gerakan dakwah Aisyiyah memajukan umat dan mencerahkan bangsa telah tersebar di seluruh Indonesia, dari Sabang sampai Meraoke, dari Pulau Mentawai sampai Pulau Aru. Selama satu abad itu Aisyiyah telah turut andil besar dalam memajukan umat dan mencerahkan bangsa melalui berbagai gerakan dakwahnya dalam berbagai bidang kehidupan yang terumuskan dalam program organisasi. Bersamaan dengan pembinaan kehidupan spiritualnya yang meliputi unsur ibadah dan muamalah pada masyarakat khususnya para perempuan dilakukan juga pemberdayaan segi kehidupan yang lainnya. Ada program pembinaan pendidikan, ekonomi, kesehatan, kesejahteraan sosial, hukum, kesadaran politik, dan kepemimpinan dalam masyarakat. Pendekatan budaya lokal juga sering digunakan dalam proses pemberdayaan masyarakat tersebut.

Pembinaan keluarga juga merupakan program prioritas Aisyiyah sejak awal berdirinya, yang disebut sebagai Program Pembinaan Keluarga Sakinah. Keluarga merupakan tempat penyemaian dan pengembangan sumberdaya insani untuk menjadi individu yang bertaqwa serta memiliki kapasitas yang unggul. Program pembinaan keluarga Sakinah meliputi pembekalan pranikah dan penguatan keluarga. Sebagai salah satu panduannya Aisyiyah telah menerbitkan buku Tuntunan Menuju Keluarga Sakinah (edisi revisi), 2016.

Memasuki abad kedua Aisyiyah menggunakan pandangan Islam berkemajuan sebagai landasan visi gerakannya. Hal itu sejalan dengan organisasi induknya yaitu Muhammadiyah, yang tercantum dalam ‘Pernyataan Pikiran Muhammadiyah Abad Kedua”. Sebagaimana pidato iftitah Ketua Umum Aisyiyah dalam Muktamar Aisyiyah di Makassar, pada prinsipnya Islam yang berkemajuan adalah Islam yang memancarkan pencerahan bagi kehidupan manusia. Islam yang menanamkan benih-benih kebenaran dan kebaikan, yang menjunjung tinggi kemuliaan manusia baik laki-laki maupun perempuan tanpa diskriminasi. Islam yang menggelorakan misi antiperang, antiterorisme, antikekerasan, antipenindasan, dan antipengrusakan di muka bumi.

Tantangan Berat

Dengan pandangan Islam berkemajuan Aisyiyah berusaha untuk mampu membawa perempuan Islam dan perempuan Indonesia pada umumnya untuk menjadi perempuan yang berkemajuan. Tantangannya memang cukup berat dan bervariasi. Namun dengan tekad yang kuat, melalui pengembangan dari program-program yang sudah dilaksanakan serta ridha dan inayah dari Allah SWT maka Aisyiyah, Insya Allah akan mampu melaksanakan tugas gerakan dakwahnya.

Selama dua hari, Aisyiyah mengadakan kegiatan yang berkaitan dengan kegiatan selama ini. Selain sebagai ungkapan syukur lewat Resepsi ‘100 Tahun Milad Aisyiyah” sekaligus menyegarkan kembali pikiran dan menambah wawasan melalui rembuk nasional bertemakan tentang ‘Pendidikan Anak Usia Dini”. Dirgahayu Aisyiyah, semoga selalu memperoleh kemudahan dari Allah SWT dalam melaksanakan gerakan dakwahnya.

(Dra Susilaningsih MA. Penulis adalah Ketua PP Aisyiyah Koordinator bidang Kebudayaan dan Suara Aisyiyah. Artikel ini dimuat Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat, Jumat 19 Mei 2017)

BERITA REKOMENDASI