67 Tahun Sumbangsih UGM untuk Bangsa

Editor: Ivan Aditya

PERINGATAN Dies Natalis Universitas Gadjah Mada yang ke-67 pada 19 Desember, menjadi momentum bersama para civitas akademika UGM dan alumni. Momentum untuk kembali mempelajari dan menengok sejarah perjalanan berdirinya Universitas Gadjah Mada melalui Museum UGM dan dokumen sejarah pada Universitas Gadjah Mada. Universitas Gadjah Mada berdiri tidak hanya sekadar suatu kampus atau institusi pendidikan pada umumnya mendirikan suatu perguruan tinggi. Tetapi Universitas Gadjah Mada didirikan memiliki visi dan misi untuk mencerdaskan kehidupan bangsa sebagaimana amanat dalam Pembukaan UUD 1945 alenia ke-4, salah satu tujuan dan cita-cita bangsa ialah memerdekakan bangsanya melalui pendidikan.

Sumbangsih dan dedikasi UGM sejak berdirinya dapat tergambarkan dari catatan perjalanan sejarah UGM dalam siklus 10 tahunan. Sumbangsih dan dedikasi UGM untuk bangsa telah termaktub dalam jati diri Universitas Gadjah Mada melalui Surat Keputusan Majelis Wali Amanat (MWA) UGM Nomor 19/SK/ 2006 tentang Jati Diri dan Visi UGM yaitu: a) UGM sebagai universitas nasional; b) Universitas Perjuangan; c). Universitas Pancasila;d). Universitas Kerakyatan; dan e). Universitas pusat kebudayaan. Jati diri Universitas Gadjah Mada inilah yang menjadi modal sosial dan modal intelektual untuk membangun bangsa dan negara.

Kebesaran dan kemajuan suatu universitas tidak hanya sekadar ditentukan civitas akademika yang memiliki intelektual dan pengetahuan akademik semata. Tetapi juga civitas akademika UGM yang memiliki kematangan sosial dan moral. Serta dedikasi yang tinggi untuk mengabdi bagi UGM dimana ia ditempa dan mendapatkan berbagai ruang untuk menorehkan kreativitas dan gagasan yang selama ini terpendam.

Pemimpin

Universitas Gadjah Mada selama 67 tahun ini telah memiliki kiprah dan peran dalam berkontribusi bagi kemajuan bangsa melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Ketenaran dan kebesaran suatu universitas bukan hanya sekadar karena dilihat dari pemimpinnya cakap tetapi hasil karya yang dihasilkan pada universitas tersebut. Seperti halnya universitas-universitas terkemuka dan terbaik di dunia yaitu Universitas Oxford, Universitas Cambridge, Universitas Yale, Universitas Harvard, dan Universitas Leiden. Mereka terkenal dan diakui dunia bukan karena siapa rektornya atau siapa pimpinan perguruan tinggi tetapi karena hasil-hasil sumbangsih karya-karya penelitian dan pengajaran menjadi universitas tersebut dapat diperhitungkan di seluruh dunia. Dedikasi dan pengabdian civitas akademikanya terhadap keilmuan dan kecintaan untuk mengembangkan keilmuan terbarukan melalui penelitian dan penulisan buku telah mencatat universitas tersebut berkontribusi bagi dunia akademik dan diakui di seluruh dunia.

Merefleksikan 67 Tahun sumbangsih dan peran UGM dalam kancah perjuangan bangsa untuk mencerdaskan kehidupan bangsa perlu dipertegas dan diteguhkan kembali untuk menjadi acuan bagi para kader civitas akademika UGM muda agar selalu berpijak pada jati diri Universitas Gadjah Mada. Jati diri Universitas Gadjah Mada menjadi acuan nilai-nilai untuk merumuskan visi dan misi Universitas mau dibawa kemana. Jati diri Universitas Gadjah Mada menjadi sumber nilai moral bagi para akademisi dan civitas akademika UGM dalam mengembangkan keilmuan, melakukan pengabdian, dan memberikan pengajaran dan pendidikan bagi mahasiswa UGM.

Senantiasa Dinanti

Harapan masyarakat terhadap kontribusi UGM selalu senantiasa dinanti, UGM akan melakukan apa? Atau UGM sedang melakukan apa? Atau UGM akan berkontribusi apa untuk bangsa dan negara saat ini. Oleh karena itu menjaga konsistensi, dedikasi, dan kesinambungan dalam berkarya menjadi bagian yang tidak terpisahkan untuk memperteguh dan mempertegas Universitas Gadjah Mada sebagai universitas nasional, universitas perjuangan, universitas Pancasila, universitas kerakyatan, universitas pusat kebudayaan. Semoga Universitas Gadjah Mada tetap berbakti untuk negeri

(Hastangka. Kandidat Doktor Ilmu Filsafat UGM, Peneliti PSP UGM. Artikel ini dimuat Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat, Selasa 20 Desember 2016)

BERITA REKOMENDASI