Abad Samudera dalam Angan-angan

Editor: Ivan Aditya

YOGYAKARTA memasuki abad samudera. Meski hanya mempunyai secuil Samudera Indonesia yang sangat luas. Konon di masa silam samudera ini menjadi lalu lintas ramai jalan sutera yang diawali dari timur hingga Eropa Barat.

Berbicara tentang samudera, orang Yogyakarta khususnya dan Jawa pada umumnya kurang begitu akrab. Jawa pada umumnya lebih terbiasa dengan kata laut. Dan kata itu sesungguhnya sudah diluncurkan oleh para pujangga ketika memuliakan Sinuwun Ing Ngeksi Ganda. Kita ingat tembang ‘Sinom’ yang awalnya adalah Nulada laku utama……. Bahkan para leluhur sudah mempunyai sebuah gagasan yang indah. îBahwa menjadi seorang Jawa sejati harus mampu mentautkan Laut dan Langitî. Apa artinya ini? Wong Jawa kudu bisa jumbuhake laut lan Langit. Ada makna lahiriah dan ada makna batiniah.

Simbol

Ternyata itu sebuah simbol atau perlambang bahwa orang Jawa harus mampu mentautkan laut itu sebuah kata prusan atau perkosaan dari laku utama. Dan utama adalah Urip Tata Manungsa yang mempunyai semboyan trape trapsila dadiya pusakane pasrawungan, trape urip den bisa tepa selira. Bahwa kalau sudah bersepakat tentang satu aturan ya menghormati kesepakatan itu. Oleh karenanya perlu tepa salira. Sementara Langit adalah laladan lungit. Artinya wilayah yang sangat misterius, antara ada dan tiada karena di situ ada pemahaman tersembunyi.

Laut makna material atau lahiriah adalah samudera yang bisa digunakan sebagai wahana, juga mempunyai berbagai kekayaan seperti mineral, ikan, tambang dan lain sebagainya. Sementara aspek batiniah adalah laku utama atau keutamaan yang mengedepankan kebaikan bagi sesama manusia. Sebagaimana disodorkan Panembahan Senapati atau Sinuwun Ing Ngeksi Ganda bahwa manusia Jawa umumnya dan Yogyakarta pada khususnya mengedepankan sebuah tekad: ‘Niat Ingsun nyebar ganda arum, Tyas manis kang mantesi , aruming wicara kang mranani, sinembuh laku utama.î. Artinya orang Jawa umumnya dan Yogyakarta pada khususnya bertekad menebarkan keharuman nama dengan mengejawantahkan hati yang baik yang selalu dikedepankan, berbicara yang indah dan baik yang membuat orang lain terpesona karena mengajak ke hal yang baik, disertai laku keutamaan.

Tekad yang baik itu perlu ditautkan ke Langit yaitu sebuah tempat yang mempunyai makna material dan spiritual juga. Bahwa langit adalah bersemayamnya Sang Empunya Hidup. Orang Jawa mengatakan sebagai Sang Hyang Manon. Artinya bahwa manusia harus mampu memahami aturan yang diberikan oleh Sang Empunya Hidup untuk mencontoh sifatsifat Dia sebagai Pencipta yang selalu mengasihi ciptaanNya. Kepada siapapun diberi Matahari yang sama, Bulan yang sama, hujan yang sama.

Disisi yang lain Langit mempunyai makna lahiriah yakni udara, yang berarti frekuensi yang bisa dimanfaatkan oleh manusia, juga jalur penerbangan, burung dan lain sebagainya yang patut untuk dikelola secara baik agar bermanfaat bagi manusia. Karena diciptakan dengan baik. Oleh karena itulah perlu aturan dalam menggunakannya. Baik dari khasanah spiritual dan material harus dikelola dalam arah kepentingan bersama manusia. Oleh karena itulah para pendiri bangsa ini sudah mengaturnya dalam aspek Ketuhanan Yang Maha Esa yang tercantum dalam Pancasila. Oleh karena itulah Pancasila menjadi pedoman hidup bagi orang Jawa khususnya dan Bangsa Indonesia pada umumnya.

Ajakan

Kalau Abad Samudera dicanangkan sungguh sebuah ajakan untuk mengawali hidup baru yang dilandasi dengan laku keutamaan, kejujuran, kebaikan selaras dengan apa yang dimaui oleh Sang Empunya Hidup. Maka sesungguhnya ini merupakan harapan bangsa Indonesia untuk mengawali hidup dengan baik. Sehingga tidak ada lagi korupsi dan sejenisnya.

Kalau Yogyakarta mengubah tata hidup dari ‘Among Tani menjadi Dagang Layar,’ artinya mengubah cara hidup. Diawali dengan sikap hidup yang baik dahulu, baru kemudian menata kehidupan dalam bermasyarakat dan berusaha. Manusia Yogyakarta yang tadinya menghadap keutara karena air berasal dari Gunung karena gunung berada di utara menjadi berkiblat ke selatan.

Semoga abad Samudera ini membawa perubahan yang signifikan bagi perubahan hidup dan kehidupan masyarakat Yogyakarta umumnya.

(Sugeng Wiyono Al. Mantan Wartawan KR tinggal di Bangunjiwa Kasihan Bantul. Artikel ini dimuat Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat, Rabu 31 Mei 2018)

BERITA REKOMENDASI