‘Klithih’ dan Teroris Pariwisata

Editor: Ivan Aditya

BELUM lama saya membeli pecel lele di sebuah warung tenda di daerah Kabupaten Sleman. Saat itu banyak anak muda dari sebuah klub sepeda motor dari luar Yogya juga ikut mengantre dan makan di warung itu. Mereka adalah rombongan yang sedang berwisata ke beberapa tempat di Yogyakarta. Istilah populernya fun touring.

Saya teringat belasan tahun silam ketika melakukan hal yang sama, turing bersepeda motor bersama teman-teman kampus UGM menjelajahi Kabupaten Pacitan. Saat itu Pacitan tidak terdengar gaungya di kalangan kampus di Yogya. Maklum belum ada media sosial seperti saat ini. Kami mengunjungi objek-objek wisata yang realatif masih perawan dan sunyi. Tidur pun di pinggir pantai beralas terpal. Aman dan tidak ada gangguan apapun hingga sayup-sayup terdengar Azan Subuh berkumandang.

Sampai akhirnya kami pulang ke Yogya maka cerita tentang keindahan Pacitan dan kondisi keamanannya yang kondusif menyebar di kampus. Cerita berikutnya kita sama-sama tahu akhirnya Pacitan menjadi salah satu tujuan wisata orang muda Yogya, utamanya penggemar turing.

Bagaimana dengan Yogyakarta kini? Hampir tiap sudut di Yogyakarta adalah tujuan wisata yang di dalamnya terkandung banyak kepentingan hajat hidup masyarakat setempat. Tingginya nilai ekonomis pariwisata di Yogya karena citranya yang sudah sangat bagus ini harus benar-benar dijaga oleh seluruh pihak. Bukan saja pihak yang terkait langsung dengan bisnis pariwisatanya, namun juga semua pihak yang tinggal di sini.

Kesadaran menjaga citra Yogyakarta tersebut secara umum sudah dipahami oleh warganya sampai suatu ketika muncullah kelompok geng bermotor yang disebut klithih. Aksi brutal dan sadis pelaku klithih dalam melukai orang-orang yang tidak bersalah bahkan sudah membawa korban jiwa karena luka bacok (KR, 14 Desember 2016). Belum selesai kasus tersebut hilang dari ingatan warga, terulang kembali aksi pembacokan oleh pelaku klithih di lokasi lain (KR, 21 Desember 2016).

Yogya yang terkenal dengan suasana damai tenteram menjadi terkesan menyeramkan dan tidak aman. Efek kekerasan beruntun tersebut sangat destruktif bagi citra kota ini. Dampak ekonomi yang dirasakan langsung saat ini adalah pembatalan pembelian sepeda motor merek/type tertentu yang disinyalir dipakai nglithih, karena para orangtua khawatir anaknya yang dibelikan sepeda motor itu disangka pelaku klithih.

Dampak berikutnya tindakan nglithih tersebut apabila tidak dapat dikendalikan dan dibasmi secara sistematis adalah ketakutan bagi wisatawan yang mengunjungi Yogyakarta dengan kendaraan pribadi, khususnya sepeda motor. Mereka terkesan menjadi rentan mendapat serangan tak terduga dari aksi klithih ketika sedang piknik di Yogya.

Padahal industri pariwisata sangat rentan terhadap aneka gejala alam dan perilaku manusia yang bisa menimbulkan bencana sosial atau politik (misalnya kerusuhan, pemberontakan, terorisme, kejahatan) (Sonmez, S, dkk, 1999). Keresahan masyarakat yang kini semakin menjalar ditambah peran media sosial yang kini merebak sudah menjadi potensi yang sangat berbahaya bagi citra pariwisata Yogya. Dalam hal ini aksi kejahatan klithih sudah hampir menyamai efek tindakan teroris dalam sektor kepariwisataan Yogyakarta.

Bagi kota pariwisata, akibat aksi klithih adalah mirip alias seirama dengan akibat aksi teroris. Apabila tanggung jawab ini hanya ditanggung oleh pihak kepolisian, maka akan lebih sulit dan memakan waktu yang lebih lama dalam penanganannya.

Citra sebuah tujuan pariwisata tidak boleh dipertaruhkan dalam kondisi ini. Masyarakat harus dikondisikan untuk mengambil sikap atas aksi klithih dan bekerja sama dengan pemerintah dan aparat hukum agar aksi sadisme yang dilakukan bisa segera dipupus. Klithih hilang, wisatawan senang, bisnis pariwisata berkembang.

(Setiawan Priatmoko MM. Peneliti Senior bidang Pariwisata di Inspect Konsultan. Artikel ini dimuat Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat, Sabtu 24 Desember 2016)

BERITA REKOMENDASI