‘Migunani Tumraping Liyan’

Editor: Ivan Aditya

TANGGAL 27 September 2016 besok, merupakan hari bersejarah bagi Harian Kedaulatan Rakyat (KR). KR berusia 71 tahun. Selain ucapan selamat ulang tahun, pasti akan dilantunkan doa semakin kokoh dan mampu mengaktualkan komitmen yang terpateri dalam semboyan Migunani Tumraping Liyan.

Di tengah maraknya persaingan bisnis persuratkabaran yang cenderung kapitalistik, kata-kata yang terangkai sebagai komitmen itu terasa menyejukkan, menyentuh relung kalbu paling dalam. Pesan moral yang tersirat adalah: "jangan kehilangan jati diri, dan tetaplah menjadi institusi sosial yang amanah".

Persaingan bisnis persuratkabaran kini semakin bebas dan berani. Media sosial online, seperti Facebook, Twitter, Blog, WhatsApp, dan sejenisnya, merupakan tantangan berat media cetak. Didukung perangkat teknologi canggih, kini semakin bervariasi cara-cara untuk memenangkan persaingan. Segala strategi, dilakukan, dan dipandang sah. Persaingan mengejawantah sebagai 'banjirnya ide dan emosi' tanpa kendali, tanpa hirau pada tatanan etika, spiritual, dan kosmik. Ujungnya, ruang publik terkontaminasi racun-racun informasi. Di titik nadzir inilah persuratkabaran perlu sadar dan kembali ke khitahnya sebagai institusi sosial. KR, harus berada pada kesadaran ini.

Ada beberapa catatan yang kiranya patut dipertimbangkan KR, terkait slogan atau semboyan migunani tumraping liyan. Pertama, kata migunani, hendaknya dimaknakan sebagai: ‘bermanfaat untuk peningkatan harkat dan martabat manusia, masyarakat, dan bangsa secara utuh’. Artinya, mesti berupaya agar dapat dimanfaatkan masyarakat sebagai sarana dan arena bagi semua pihak untuk meraih kemuliaan kehidupan, baik material maupun spiritual.

Kedua, secara internal, KR perlu memperkuat diri dengan peningkatan sumber daya manusia dan kelembagaan, yang mampu bekerja secara profesional, berdasarkan jiwa sosial tinggi. Tuntutan profesionalitas mesti didukung dengan peningkatan kesejahteraan lahir-batin, peningkatan sarana-prasarana modern, disertai birokrasi ramping dan efisien. Perlakukanlah semua awak media, baik staf administrasi, jurnalis, dan penulis secara manusiawi dan proporsional.

Ketiga, secara eksternal, kata liyan, hendaknya menjangkau masyarakat luas, meliputi: Yogyakarta, bangsa Indonesia, dan dunia. Pendek kata, liyan, mencakup semua strata dan elemen sosial, tanpa membedakan masalah suku, agama, ras, jender, etnis, dan sejenisnya. Dalam konteks ini maka substansi pemberitaan hendaknya berisi informasi pencerahan, edukatif, dan provokatif ke arah pendewasaan mental spiritual masyarakat luas.

Keempat, seiring dengan perkembangan teknologi informasi, KR ke depan perlu mengembangkan media cetak dan media online secara simultan. Kedua jenis media itu walaupun memiliki karakter berbeda, namun dapat disinergikan, sehingga ujungnya akan terwujud sistem informasi holistik, kuat, dan kompatibel dengan perkembangan zaman. Sejak kelahiran dan perkembangannya, koran tertua di negeri ini setelah Kemerdekaan RI telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Kehidupan akan berjalan normal, dalam kebenaran, dalam akselerasi semakin tinggi, apabila semua unsur-unsurnya saling mendukung dan berada pada titik keseimbangan. Sungguh tidak mudah untuk menjaga titik keseimbangan itu. Secara empiris, untuk hal-hal negatif penyebarannya jauh lebih cepat dibandingkan dengan hal-hal positif. Bahkan, sering hal-hal negatif itu menyingkirkan hal-hal positif.

Jika mengakomodasi masyarakat berekspresi berlebihan di ruang publik, maka disadari atau tidak, telah berkontribusi bagi runtuhnya peradaban masyarakat. Sebaliknya, jika peduli, greteh, dan proaktif, dalam penyebaran kebajikan, maka sumbangsih demikian akan mempercantik wajah generasi masa depan. Pada konteks inilah KR mesti menempatkan diri.

Dari kejernihan hati ingin disampaikan pesan bahwa tatkala mewartakan suatu kejadian kepada publik, sebenarnya bukan sekadar ingin dibaca dengan mata kepala. Namun lebih dalam lagi, KR sedang mengungkapkan isi hatinya, dan berharap dapat ditangkap dengan mata hati. Tatkala apa yang tersimpan dalam hatinya adalah kebenaran, keindahan, dan kemaslahatan, maka akan berwajah ceria, teduh, dan damai. Sebaliknya, tatkala apa yang tersimpan dalam hatinya adalah emosi, nafsu, dan keserakahan duniawi, maka KR akan terlihat sebagai wajah kepalsuan.

Oleh sebab itu, mesti percaya diri, dan hati-hati dalam mengimplementasikan semboyan Migunani Tumraping Liyan. Ini tidak sekadar berkaitan dengan kesantuan, objektivitas, dan keseimbangan. Melainkan juga terkait dengan visi, misi, dan arah pertumbuhan peradaban yang diharapkan.

(Prof Dr Sudjito SH MSi. Guru Besar UGM. Artikel ini dimuat Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat, Senin 26 September 2016)

BERITA REKOMENDASI