‘Rush Money’dan Gerakan Nasional Menabung

Editor: Ivan Aditya

BARU-BARU ini santer beredar ajakan untuk menarik dana secara massal dari bank (rush money) yang disebarkan melalui media sosial. Pihak kepolisian mencatat sedikitnya ada 70 akun yang menyebarluaskan isu tersebut. Ajakan rush money terkait dengan rencana demonstrasi pada 2 Desember mendatang. Akibatnya, tensi kegelisahan masyarakat meninggi.

Rumor di atas sangat kontras dengan Gerakan Nasional Menabung (GNM) yang dicanangkan mulai tahun ini setiap 31 Oktober. Tujuannya adalah mendorong semangat dan menanamkan budaya menabung dalam rangka peningkatan dana simpanan serta mendukung pembiayaan pembangunan nasional sehingga tercapai kesejahteraan masyarakat.

Tabungan nasional sampai saat ini masih lebih rendah dibanding negara-negara lain. Sebagai komparasi, rasio tabungan di Indonesia masih di level 30,87% dari produk domestik bruto (PDB). Sementara Tiongkok telah mencapai 48,87 %, Singapura 46,73%,dan Korea 35,11%.

Dilihat dari skala ekonominya, potensi tabungan Indonesia masih cukup besar untuk berkembang. Sebagai catatan, Indonesia merupakan salah satu anggota dari 20 negara dengan PDB tertinggi di dunia (G-20).

Peningkatan tabungan, dalam perspektif ekonomi, mendapat perhatian yang cukup substansial. Paradox thrift dari Keynes (1936) menyatakan tabungan adalah sisa pendapatan yang tidak habis dikonsumsi. Kenaikan tabungan berarti mengurangi pengeluaran yang bagi produsen adalah penerimaan. Jika ini terjadi masif, kegiatan ekonomi bisa mandeg.

Menentukan Akselerasi

Berlawanan dengan itu, Harrod-Domar (1946) memosisikan tabungan sebagai prasyarat bagi pembentukan modal yang selanjutnya menentukan akselerasi pertumbuhan ekonomi. Ketika pembentukan modal tidak terpenuhi dari tabungan domestik, maka utang luar negeri menjadi substitusinya.

Debat di atas bersumber dari eksistensi dana menganggur. Saat dana tersebut bisa dimanfaatkan, kenaikan tabungan niscaya berdampak positif. Dalam konteks ini, bank muncul menjalankan peran intermediasi. Dalam pengertian agak luas, menabung adalah menyimpan uang di sektor perbankan.

Namun, tabungan yang bisa ditarik-setor setiap saat sejatinya tidak berada dalam ranah pemanfaatan dana. Bank sebatas hanya tempat penitipan dana sementara alih-alih mendayagunakannya menjadi kredit. Tabungan jenis ini bersifat transisional yang pada akhirnya akan berbalik lagi menjadi konsumsi. Lain halnya, jika rekening nasabah berbentuk deposito berjangka, misalnya. Selama jangka waktu tertentu, pemilik dana tidak bisa mencairkan dananya. Selama tenor itu pula, bank bisa mentransformasi menjadi pinjaman produktif kepada pihak lain.

Kasus di atas memisahkan antara penabung dan investor. Pengertian tabungan yang jauh lebih luas tidak lagi membedakan penabung dan investor. Pembelian polis asuransi, kepemilikan reksa dana, saham dan obligasi korporasi, serta obligasi negara merupakan simpanan sekaligus investasi.

Berbagai bentuk aset finansial di atas menawarkan imbal hasil yang niscaya lebih tinggi daripada tabungan perbankan. Hanya saja, sudah menjadi hukum alam imbal hasil yang lebih tinggi berkorelasi kuat dengan risiko yang lebih besar pula. Persoalannya masyarakat belum akrab mengenali instrumen keuangan alternatif beserta imbal hasil dan risikonya. Literasi keuangan menjadi kunci keberhasilan GNM di masa depan.

Migrasi Dana

Indikator keberhasilannya adalah migrasi dana besar-besaran dari bawah bantal menuju ke perbankan, syukur-syukur menyebar ke instrumen finansial yang lain. Dengan demikian, komposisi penempatan dana masyarakat menjadi tersebar.

Harus diakui, arsitektur keuangan nasional sejauh ini masih condong ke sektor perbankan. Risiko yang paling berbahaya adalah ketika sektor perbankan mengalami masalah, maka seluruh kegiatan ekonomi bisa lumpuh. Pengalaman krisis 1997/1998 adalah ekses dari beban keuangan yang terlalu bertumpu pada industri perbankan.

Dalam skala yang paling sempit, GNM menuntut perubahan pola pikir individu dan rumah tangga konsumen. Tabungan yang masih dianggap sebagai ‘sisa pendapatan yang tidak habis dikonsumsi’ mesti diubah menjadi ‘konsumsi adalah kelebihan pendapatan setelah ditabung’. Intinya, tabungan harus menjadi prioritas. Karenanya, rush money ditinjau dari GNM menjadi absurd. Dana yang ditarik niscaya akan nganggur bahkan potensial berubah menjadi aksi spekulasi. Jika ini yang dilakukan kemadharatan rush money lebih tinggi daripada kemaslahatannya.

(Dr HaryoKuncoro SE MSi. Pengajar Fakultas Ekonomi UNJ/Direktur Riset The Socio-Economic & Educational Business Institute Jakarta. Artikel ini dimuat Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat, Selasa 29 November 2016)

BERITA REKOMENDASI