’Monumen Tanah Air’, Monumen Seni Berolahraga

Editor: Ivan Aditya

”OLAHRAGA menyatukan kita”. Inilah tema Peringatan Hari Olahraga Nasional (Harornas) 9 September 2017 yang dipusatkan di Magelang Jawa Tengah. Yang paling menarik dan monumental dari peringatan Haornas tahun ini adalah akan dirikannya ‘Monumen Tanah Air’di Gunung Tidar. Monumen yang berbentuk ‘Bola Dunia’ benar-benar ‘monumen tanah air’. Karena dalam monumen itu akan menampung atau disatukannya tanah dan air yang diambil dari 34 provinsi di Indonesia, yang ritual pengambilannya telah dilakukan selama satu tahun belakangan.

Sementara Gunung Tidar dipilih sebagai lokasi pendiriannya. Karena gunung ini dianggap sebagai ‘pakuning Tanah Jawa’ atau berada di Tengah-tengah Pulau Jawa. Sehingga Monumen Tanah Air ini, dimaksudkan agar, olahraga benar-benar dapat menjadi simbol kemenyatuan ‘tanah air’ Indonesia (NKRI). Selain itu monumen ini juga dapat dinikmati sebagai karya seni yang ekspresif , bagaimana olahraga tidak melulu berurusan dengan otot (fisik), tetapi juga menyentuh rasa dan perasaan (impresi) manusia.

Hakikat Olahraga

Hakikat olahraga adalah hidup dan kehidupan itu sendiri. Karena seluruh aktivitas hidup dan kehidupan manusia pada dasarnya memang dapat dijadikan sebagai sarana olahraga. Pada galibnya tujuan utama olahraga adalah untuk mencapai hidup dan kehidupan yang kompetitif, sportif, manusiawi, sehat serta berkepribadian demi meninggikan harga diri manusia.

Demikian juga suatu masyarakat dan atau bangsa. Jika masyarakat atau bangsa tersebut memiliki kesadaran olahraga yang baik, mumpuni dan signifikan, jelas akan menjadi masyarakat yang memiliki jiwa kompetitif dan sportif yang tinggi. Disamping itu ia juga akan menjadi masyarakat yang sehat, berkepribadian serta memiliki harga diri yang tinggi dan signifikan pula.

Fakta empiris tak terbantahkan masyarakat atau Bangsa Indonesia kini, telah dan sedang kehilangan pegangan moral yang bernama ‘harapan dan kebanggaan serta harga diri bangsanya’. Padahal hanya dengan harapan, sebuah kepercayaan, etos kerja dan mentalitas kompetitif yang progresif masyarakat bisa dibangunkan. Sedang hanya dengan kepercayaan, etos kerja dan mentalitas kompetitif, niscaya menghasilkan prestasi yang bisa dibanggakan. Dan hanya dengan kebanggaanlah yang bisa menumbuhkan (kembali) harga diri masyarakat dan bangsa.

Kegiatan olahraga meniscayakan menjadi salah satu sarana untuk membangkitkan ‘harapan dan kebanggaan serta harga diri bangsa’. Masyarakat bangsa manapun di dunia, akan bangga dan merasa memiliki harga diri naik, jika bangsanya memiliki prestasi olahraga– apapun cabornya. Karena prestasi olahraga mengandung filosofi dan pemaknaan sebagai suatu agregat nilai yang bersifat idolatry, yang terkait dengan hal-hal yang ‘ter’ atau ‘serba’ dan ‘paling’ juga sifat-sifat superlatif lainnya.

Sportivitas

Tetapi tentu, tidak semua orang dari komunitas masyarakat atau bangsa dapat mencapai prestasi dari semua bentuk-bentuk idolatry akan tataran dan tatanan kesempurnaan hidup dan kehidupan itu. Telah menjadi grand design (takdir), setiap manusia memiliki spesialisasi dan profesi masing-masing. Itulah sebabnya dalam rangka mewujudkan prestasi yang membanggakan serta mencapai tataran dan tatanan kesempurnaan hidup dan kehidupan yang dapat meningkatkan harga diri bangsa, dibutuhkan kerja sama (koordinasi), profesionalisme dan kerja keras semua pihak. Seluruh komponen, elemen dan stake holder dari komunitas masyarakat. Semua harus saling bahu membahu, me ngorbankan semua yang ia punya, tenaga, pikiran, dana dan lain-lain secara bersama-sama.

Untuk mencapai puncak prestasi — ‘tertinggi, terjauh, tercepat, terbanyak (skoor), terbesar, terkuat, terdalam, terindah, terpandai’– yang dapat meningkatkan harkat, martabat dan harga diri bangsa, hanya bisa terlaksana jika kita semua bersatu padu, bertekad bulat mewujudkannya. Disinilah esensinya olahraga ‘menyatukan kita’. Dengan olahraga kita menjadi bangsa besar, utuh, kuat dan bermakna menjadi Indonesia.

Dengan berolahraga, keberagamaan, pluralisme atau kebhinnekaan kita satu-padukan menjadi ke-eka-an. Yakni keutuhan, kebesaran, kebanggaan dan harkat, martabat serta harga diri NKRI. Hidup olahraga, hiduplah kita bersama. Hidup olahraga, hidup Indonesia.

(Otto Sukatno CR. Pemerhati Sosial, Budaya dan Ketimuran. Pengajar di Fakultas Seni Pertunjukan ISI Yogyakarta. Artikel ini dimuat Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat, Jumat 8 September 2017)

BERITA REKOMENDASI