Agama, Keuangan Mikro dan Pembangunan

Editor: Ivan Aditya

AKHIR tahun 1990, beberapa negara di Asia Tenggara menghadapi krisis ekonomi dan keuangan yang mengantarkan mereka pada instabilitas ekonomi dan politik. Nilai mata uang Bath Thailand dan Rupiah Indonesia jatuh terhadap Dolar Amerika. Begitu pula Malaysia, Filippina, dan Vietnam harus berjibaku keras berjuang keluar dari krisis. Saat itu, banyak bank ditutup atau setidaknya menghadapi kebangkrutan, pembangunan infrastruktur di banyak tempat dihentikan, dan pabrik-pabrik banyak melakukan efisensi. Krisis moneter telah membawa dampak buruk pada tingkat kualitas hidup dan kesejahteraan banyak keluarga di negara-negara yang terdampak.

Dalam konteks ini, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) bersama Universiti Teknikal Malaysia Melaka (UteM) menggelar International Conference on Religion, Microfinance, and Development (ICOMFIN 2017) dan mengusung tema Religion, Microfinance, and Empowerment for Sustainable Future. Kegiatan bertujuan untuk membaca dan memetakan gerakan ekonomi mikro yang diinisiasi dan diorganisasi oleh organisasi keagamaan. Yang nampaknya, dalam beberapa tahun terakhir lebih nampak kasat mata.

Di Thailand, para rahib dan pendeta agama dan organisasi keagamaan Budha banyak memainkan peran penting dalam melakukan pendampingan terhadap kelompok miskin. Di Indonesia, koperasi (termasuk dalam bentuk Baitul Mal wa Tamwil (BMT) berikut skemaskema ‘dana kebajikan’ yang dimilikinya telah diproyeksikan untuk dapat menyentuh kelompok masyarakat kecil yang tidak terjangkau lembaga keuangan seperti Bank. Selaras dengan itu, Credit Union yang dikelola oleh kelompok Kristen juga banyak beroperasi di daerah perkotaan maupun pedesaan.

Terdapat beberapa persoalan konseptual yang akan menjadi bagian dari diskusi di dalam forum tersebut. Bagaimana karakteristik agama dan budaya mempengaruhi bentuk pemberdayaan ekonomi dan projek-projek keuangan mikro? Tantangan dan peluang seperti apakah yang dihadapi oleh lembaga keagamaan untuk melakukan pemberdayaan ekonomi masyarakat pedesaan maupun perkotaan? Bagaimana kontribusi lembaga filantropi terhadap perkembangan keuangan mikro? Bagaimana perkembangan regulasi mempengaruhi peran organisasi agama dalam menyediakan layanan keuangan mikro untuk pembangunan berkelanjutan.

Masyarakat Muslim

Di dunia Muslim, aktor yang berperan sebagai organisasi berorientasi kesejahteraan tumbuh berkembang. Mereka memromosikan kesejahteraan ekonomi masyarakat melalui lembaga keuangan Islam, baik Bank maupun non-Bank. Indonesia dan Malaysia adalah dua negara yang perkembangan perbankan Islamnya cukup dinamis. Terinspirasi konsep-konsep etik dalam ekonomi dan termotifikasi dengan gagasan untuk mengurangi ketidakseimbangan kesempatan dalam mengakses sumber-sumber ekonomi, pelbagai lembaga keuangan Islam banyak didirikan di kedua negara tersebut.

Di Malaysia, perbankan Islam mendapatkan dukungan yang cukup besar dari pemerintah Malaysia. Karena itu, perbankan Islam di Malaysia merupakan salah satu yang tersukses di dunia dan terbesar di Asia Tenggara. Sementara itu, kita juga dapat menyaksikan meningkatnya pertumbuhan perbankan Islam di Indonesia dalam melayani kelompok-kelompok kelas menengah dan menengahatas. Hal ini juga diiringi dengan pertumbuhan koperasi simpan pinjam berbasis Islam (seperti BMT) yang melayani banyak kelompok masyarakat di lapisan bawah. Lembaga keuangan mikro Islam sudah berdiri dan dioperasikan di perbagai tempat, mulai perkampungan, pesantren, pasar, dan tempat lainnya.

Terlepas dari adanya cerita sukes dan cerita gagal dalam mengelola lembaga keuangan mikro Islam di Indonesia, seperti BMT, faktanya mampu memberikan layanan dalam pengembangan usahusaha kecil. Di kalangan masyarakat lapisan bawah, kehadiran BMT juga telah mendapatkan penerimaan yang positif untuk memberikan solusi terhadap masalah ekonomi umat. Lembaga seperti BMT ini juga dapat menyediakan skema-skema keuangan mikro yang menjadi alternatif dari kehadiran ‘lintah darat’ yang cukup agresif memberikan pinjaman pada keluarga yang kesulitan secara ekonomi dan yang tidak terlayani bank besar.

Bagi pengamat dan peneliti, keterlibatan yang semakin kuat dari organisasi keagamaan di kalangan Muslim, Kristen, Hindu, Budha, dan sebagainya dalam kegiatan ekonomi, telah menjadi ruang diskusi tersendiri. Kajian terhadap masalah pemberdayaan masyarakat dan keuangan mikro dipandang masih menarik untuk dieksplorasi. Tentunya juga untuk diproyeksikan dalam meningkatkan taraf hidup masyarakat secara berkelanjutan.

(Hilman Latief PhD. Universitas Muhammadiyah Yogyakarta & Anida Robani PhD, Universiti Teknikal Malaysia Melaka. Artikel ini dimuat Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat, Rabu 19 Juli 2017)

BERITA REKOMENDASI