ASI, Sisi Lain

Editor: Ivan Aditya

PUNCAK peringatan Pekan Air Susu Ibu Sedunia (PAS) yang dikampanyekan pada setiap minggu pertama Agustus telah berlalu. Seperti tahun-tahun berikutnya, acara ini hanya menjadi sekadar seremonial. Harapan bahwa peringatan PAS bisa menggugah kesadaran masyarakat akan pentingnya pemberian ASI kepada bayi, tidak juga tercapai dari tahun ke tahun. Padahal, menyusui sangat vital untuk kelangsungan hidup anak, apalagi anak merupakan ahli waris dan penerus generasi yang akan meneruskan cita-cita luhur bangsa.

Oleh karena itu, diterbitkannya Pergub Aceh No 49 Tahun 2016 tentang Pemberian ASI Eksklusif seperti hadiah besar di penghujung bulan ini. Pergub tersebut mengatur tentang cuti melahirkan selama enam bulan bagi Aparatur Sipil Negara, yaitu Pegawai Negeri Sipil, tenaga kontrak dan lainnya yang bekerja di jajaran Pemerintah Aceh.

Meskipun kebijakan ini baru bisa dinikmati secara lokal oleh perempuan dan anak di Aceh, namun setidaknya regulasi ini memberikan angin segar yang menggembirakan di tengah anggapan bahwa pemberian ASI eksklusif hanya jargon yang berhenti sampai dokumen regulasi belaka, berhenti hanya pada imbauan, dan berhenti hanya pada wacana yang tak berkesudahan. Sementara implementasinya masih sangat jauh dari harapan.

Meskipun Undang Undang Kesehatan No 36 Tahun 2009 khususnya Pasal 128, sudah mewajibkan setiap orangtua untuk memenuhi hak-hak dasar anak/bayi, termasuk dalam pemberian ASI. Bahkan ada juga Peraturan Pemerintah No 33 Tahun 2012 tentang Pemberian ASI Eksklusif. Faktanya, penerbitan regulasi di level apapun, ternyata tidak cukup mampu mendongkrak pemberian ASI di Indonesia. Apalagi, hampir tidak ada Pemerintah Daerah yang menindaklanjuti kebijakan ini dengan menerbitkan regulasi di tingkat daerah, baik dalam bentuk Peraturan Daerah, Peraturan Gubernur, ataupun Peraturan Bupati/Walikota.

Memang butuh dukungan dari semua pihak untuk menyukseskan kegiatan menyusui. Semakin banyak ibu harus bekerja karena desakan kebutuhan ekonomi keluarga. Mereka memerlukan dukungan agar bisa melaksanakan kedua perannya sekaligus dengan seimbang sebagai seorang ibu dari anaknya dan juga pencari nafkah keluarga. Untuk itu cuti yang cukup, fasilitas yang layak di tempat kerja saat seorang perempuan kembali bekerja, serta dukungan keluarga dapat membantu ibu untuk tetap dapat menyusui bayinya hingga dua tahun.

Pertanyaannya, kenapa pemberian ASI itu begitu penting? Bila kita cermati fakta tentang semakin banyaknya anak-anak bermasalah di masa kini, boleh jadi hal itu disebabkan kegagalan pemberian ASI. Kenapa? Sebab, ASI bukan sekadar pemberian asupan nutrisi terbaik bagi anak, tapi juga pondasi terjalinnya ikatan emosional antara ibu dan anak.

Seorang bayi mendapatkan dekapan hangat, kasih sayang, dan perlindungan saat menyusui. Sehingga, bayi tidak mudah stres akibat perubahan drastis di awal kehidupannya. Bayangkan saja, beberapa menit lalu sang bayi masih meringkuk dalam rahim yang hangat dan nyaman. Tiba-tiba dia harus berada di ruang bebas yang ribut, begitu dilahirkan. Tak mudah bagi bayi untuk beradaptasi. Ia sangat butuh dekapan sang bunda, sebagaimana saat meringkuk nyaman di dalam rahimnya. Pembentukan ikatan emosional ini sangat penting sebagai pondasi kepercayaan diri anak di masa awal pertumbuhannya.

Ikatan ibu-anak merupakan pembentukan hubungan timbal balik secara emosional antara ibu dan si kecil. John Bowlby dengan teorinya yang terkenal mengenai tingkah laku karena kedekatan, mengatakan bahwa perilaku yang menyebabkan seseorang dekat dengan individu tertentu secara menyolok ditemui pada periode awal kehidupan, terutama pada sembilan bulan pertama hingga usia tiga tahun. Di sinilah pembentukan karakter seorang anak berawal. Apabila terjadi gangguan pada waktu kritis ini, sangat mungkin pada saat dewasa timbul berbagai gangguan tingkah laku, seperti agresif, depresi dan gangguan emosi lainnya.

Memberikan ASI memang bukan hanya sekadar transfer air susu. Lebih dari itu, dia merupakan pondasi penting bagi pembentukan generasi. Maka, jangan sampai terjadi generasi kurang ASI yang berujung pada fisik dan pribadi yang lemah. Bagaimana Indonesia hendak bersaing pada masa depan jika ternyata sumber daya manusianya seperti itu? Karena itu, kita jangan pernah meremehkan soal menyusui, mengingat implikasinya yang sangat serius pada masa depan.

Generasi emas yang merupakan cita-cita bangsa ini di tahun 2045 nanti, akan sangat tergantung keberhasilan pencapaiannya dengan apa yang kita lakukan hari ini. Bagaimana pemerintah dan elemen terkait memiliki niat baik untuk menyelamatkan nasib bayi-bayi para perempuan pekerja ini dari devisit ASI. Perlu ada kebijakan revolusioner yang mendukung keberhasilannya.

Sementara di sisi lain, para perempuan juga harus menyadari, bahwa memberikan ASI adalah kodrat mulia yang tidak akan tergantikan. Menyusui berarti memberikan kemenangan kehidupan kepada buah hati kita.

(Ane Permatasari SIP MA. Dosen Prodi Ilmu Pemerintahan Fisipol UMY. Artikel ini dimuat Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat, Rabu 31 Agustus 2016)

BERITA REKOMENDASI