Babak Baru Konflik Suriah

Editor: Ivan Aditya

KONFLIK Suriah memasuki babakan baru setelah serangan kimia di Kota Khan Seikhoun. Sekitar 86 orang tewas dan 400 orang luka-luka akibat serangan tersebut. Konflik menjadi semakin rumit setelah Amerika Serikat (AS) melakukan serangan retalasi terhadap Pangkalan Udara Shayrat menggunakan 59 rudal jelajah BGM-109 Tomahawk pada Jumat (7/4).

Konflik Suriah merupakan konflik internal yang kompleks, mengingat banyaknya aktor yang terlibat. Konflik bermula dari perlawanan pemberontak terhadap pemerintahan Presiden Bashar Al Assad. Seiring berjalannya waktu, kurangnya kontrol Pemerintah Suriah di wilayah konflik dimanfaatkan ISIS sebagai front menciptakan cita-cita kekhalifahan mereka di Irak dan Suriah. Tidak berhenti sampai disitu, Rusia sebagai sekutu dekat Suriah memberikan bantuan militer kepada Rezim Bashar untuk melawan pemberontak dan ISIS sekaligus.

Senjata Kimia

Suriah merupakan satu-satunya sekutu dekat Rusia di Timur Tengah saat ini. AS pun memiliki kepentingan yang signifikan di Suriah. Pemberontakan terhadap Presiden Bashar merupakan rentetan proses demokratisasi negara-negara Arab atau Arab Spring yang disponsori AS. Amerika disinyalir banyak memberikan bantuan persenjataan dan materi terhadap pemberontak.

Serangan senjata kimia di Kota Khan Seikhoun merupakan pelanggaran hak asasi manusia berat. Senjata kimia sebagai bagian dalam senjata non konvensional bersama senjata biologi, radioaktif, dan nuklir (CBRN). Senjata kimia merupakan senjata yang dilarang dalam perang berdasarkan Protokol Jenewa dalam Konvensi Den Haag, saat ini dilembagakan melalui Konvensi Senjata Kimia (CWC). Menurut Organisasi Pelarangan Senjata Kimia (OPCW), Suriah tidak menandatangani pelarangan konvensi pelarangan senjata kimia namun telah meratifikasi sejak tahun 2013. Dampak senjata kimia sangat mengerikan, terlebih apabila populasi sipil di wilayah target serangan memiliki kepadatan yang tinggi. Sejata kimia tidak hanya menyasar kombatan (pemberontak) namun efek sebaran agen kimianya dapat terbawa oleh angin menyasar populasi. Perlu investigasi mendalam siapa sebenarnya pelaku serangan, apakah Pemerintah Suriah, militer Rusia, atau bahkan pemberontak.

Dinamika konflik Suriah saat ini mulai bergeser. AS yang selama ini terkesan gamang untuk terlibat dalam konflik secara terbuka karena faktor Rusia, mulai memiliki inisiatif untuk terlibat. Alasan kemanusiaan digunakan menjadi tiket masuk terlibat dalam konflik. Serangan bermakna AS tidak segan menggunakan kekuatan militernya untuk menghukum rezim yang dianggap tidak mematuhi tatanan internasional, termasuk pesan tambahannya yaitu AS tidak akan berkompromi walaupun rezim tersebut didukung negara superpower. Sikap AS kali ini dapat dianalisa karena perubahan kepemimpinan di AS dari Presiden Barack Obama ke Presiden Trump. Presiden Trump yang diusung Partai Republik memiliki platform relatif keras dalam kebijakan politik luar negeri dan pertahanan dibanding mantan Presiden Obama yang diusung Partai Demokrat.

Kurang Responsif

Keterlibatan Rusia dalam konflik Suriah dengan mendukung Presiden Bashar dianggap sebagai faktor yang membuat enggan AS menunjukkan keterlibatannya dalam konflik. Rusia di awal keterlibatannya menempatkan sejumlah pesawat tempurnya untuk melakukan misi pemboman di basis pemberontak dan ISIS. Disusul oleh pasukan darat dan penempatan sistem anti rudal S-400. Dari 59 serangan rudal Tomahawk AS, tidak ada satupun yang dihadang dengan sistem rudal anti rudal S-400. Terdapat dua kemungkinan yaitu pertama, sistem tersebut tidak bisa mendeteksi atau gagal melakukan intersepsi terhadap rudal Tomahawk. Kedua, Rusia sengaja tidak mengaktifkan baterai sistem S-400 untuk menghindari konflik terbuka dengan AS.

Sangat disayangkan pascaserangan senjata kimia tersebut, PBB kurang responsif. Dewan Keamanan PBB harus segera bersidang untuk menghasilkan keputusan, minimal melakukan investigasi mengetahui siapa yang bertanggung jawab terhadap serangan senjata kimia. Termasuk asistensi kemanusiaan untuk menolong korban sipil terdampak serangan. Dengan situasi saat ini di Suriah, semakin memperlebar jurang konflik dengan perdamaian.

(Suryo Wibisono SIP MSi. Dosen Jurusan Ilmu Hubungan Internasional UPN ‘Veteran’Yogya. Artikel ini dimuat Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat, Selasa 11 April 2017)

BERITA REKOMENDASI