Bahasa Jawa, ‘to Be or Not to Be’

Editor: Ivan Aditya

KETIKA bangsa China ingin hidup tenteram mereka berangan-angan membangun benteng yang tinggi dan panjang. Dengan begitu bangsa itu yakin bahwa bangsa lain tidak akan sanggup menembus tembok itu karena tinggi, tebal dan panjang. Tetapi seabad kemudian setelah Tembok China dibangun, tiga kali China melakukan peperangan besar. Setiap perang balatentara musuh masuk ke dalam tidak merusak tembok tetapi cukup menyuap penjaga Gerbang Tembok.

Saat itu China terpesona dengan membangun tembok tetapi lupa membangun mental manusianya yang seharusnya dibangun sebelum membangun apa saja. Bangunlah jiwanya bangunlah raganya, kata Wage Rudolf Supratman. Dan itulah yang dibutuhkan semua bangsa. Karena merusak sebuah bangsa itu mudah dengan melalui tiga tataran. Yang pertama merusak keluarga yang kedua pendidikan dan yang ketiga merusak keteladanan para pemimpin dan tokoh masyarakat. Untuk merusak keluarga dipergunakanlah cara memindah peranan ibu rumah tangga dan diserahkan pembantu. Ibu rumah tangga akan senang disebut sebagai perempuan karier ketimbang ibu rumah tangga.

Peran Guru

Cara kedua adalah merusak pendidikan dengan cara mendestrukturisasi posisi dan peran guru. Guru dibebani dengan kewajiban administratif dengan tujuan materi sehingga melalaikan tugas utamanya sebagai pengajar dan pendidik. Akibatnya siswa-siswa merendahkan harkat guru. Ketiga merusak keteladanan tokoh dan ulama di masyarakat dengan menceburkan mereka ke politik praktis yang berorientasi uang dan pangkat serta kekuasaan. Akibatnya tak ada lagi orang yang pantas dipercaya. Tak ada orang yang mau mendengarkan dan meneladani tokoh dan ulama karena mereka sudah terbeli.

Kalau ibu rumah tangga hilang, guru yang ikhlas sirna dan para ulama serta tokoh masyarakat musnah, siapa lagi yang memberikan pendidikan kepada generasi muda tentang nilai luhur. Semua mengajarkan nilai praktis, uang, jabatan dan kekuasaan. Inilah awal kerusakan bangsa.

Oleh karena itulah sebelum bangsa ini hancur kita perlu cancut taliwanda. Kemajuan dan globalisasi tidak bisa dibendung lagi namun kita mempunyai sebuah kekuatan besar dari masyarakat adat dan kebudayaan termasuk Kraton Nusantara. Paling tidak kita mengatasi serangan musik jiwa yang menjadikan gebyar duniawi menjadi pujaan bangsa.

Kekuatan yang dimaksud adalah kekuatan kearifan Nusantara yang perlu dibangkitkan kembali. Kebudayaan yang menjunjung sikap rukun, penuh toleransi, gotong royong dan unggul di bidang seni dan keterampilan. Sedang para ulama mengejawantahkan ajaran dan kesalehan umat dalam berbagai macam kegiatan dan perilaku amal saleh tidak sekadar kesalehan formal. Adanya paguyuban lokal yang memperdalam bahasa dengan berbagai macam cara, perlu didukung. Khusus di Jawa, Yogyakarta harus didukung syukur diberi tempat untuk hidup. Dengan begitu Bahasa Jawa dilestarikan bakal berkembang. Tetapi kalau dibiarkan ya bakal mati. Ibarat tanaman kalau tidak dipelihara diberi tempat untuk hidup dipupuk ya tidak bakal berbuah dan berkembang.

Dibangun Kebiasaan

Di dalam rumah tangga jelas peran ibu dan orangtua anak untuk menjaga bahasa Ibu, terutama di Jawa agar di dalam rumah tangga dibangun kebiasaan menggunakan Bahasa Jawa. Di masyarakat teladan dari para alim ulama dan tokoh masyarakat sebaiknya menggunakan bahasa daerah terutama Jawa di Yogyakarta untuk memberikan pembelajaran bagi masyarakat selain keteladanan dan sikap hidup. Di sekolah jelas pendidikan memberikan wadah yang besar bagi pembelajaran Bahasa Jawa dengan berbagai macam cara dan praksis serta kebudayaannya.

Perlu tempat yang memadai dan pemeliharaan yang baik. Entah ada lembaga pendidikan formal maupun nonformal di masyarakat, entah di paguyuban atau ada tempat khusus yang diberikan untuk pengembangan Bahasa Jawa. Syukur pemerintah daerah memberi tempat untuk berkembangnya Bahasa Jawa. Kalau itu berwujud panti, panti pangulir budi ngudi basuki. Kalau berwujud papan, papan pangolahing jiwa amrih punar bawa. Sedang kalau diberi sasana, sasana singgih sugih asih, hamengku memangkat sesamaning urip. Dengan begitu bahasa Jawa bakal lestari bukannya mati. Selamat Berkongres!

(Sugeng Wiyono. Pelaku budaya Jawa tinggal di Bangunjiwa Kasihan Bantul. Artikel ini dimuat Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat, Jumat 16 September 2016)

BERITA REKOMENDASI