Bencana dan Wisata

Editor: Ivan Aditya

HARI Minggu siang Kawah Sileri yang di kawasan wisata Pegunungan Dieng di Desa Kepakisan, Banjarnegara, Jawa Tengah meletus disertai material lahar dingin lumpur dan asap panas yang mencapai 50 meter. Ini memang bukan pertama. Perlu diketahui, bencana di kawasan wisata ataupun daerah wisata di kawasan rawan bencana semakin meningkat kejadiannya. Peristiwa tsunami 2004 di kawasan wisata Phuket, Thailand menyebabkan ribuan wisatawan meninggal dan luka-luka. Gempa bumi di Nepal yang menyebabkan longsoran salju di pegunungan Himalaya menyebabkan ratusan orang hilang serta berbagai kejadian lainnya.

Di Indonesia risiko kejadi bencana di kawasan wisata akan semakin tinggi karena banyaknya kawasan pantai maupun gunung api yang masih aktif dijadikan destinasi wisata ataupun sudah dikembangkan masyarakat untuk kawasan wisata alam. Daerah pegunungan maupun pantai banyak dikembangkan sebagai kawasan resort yang dipenuhi hotel, villa, galeri, restoran, atraksi dan berbagai kegiatan wisata.

Kawah Sileri yang menjadi bagian dari kawasan wisata Dieng, menjadi salah satu contoh risiko bencana yang harus dihadapi. Kesiapsiagaan dan rencana kedaruratan mestinya sudah dipersiapkan. Karena Kawah Sileri memiliki sejarah aktif dan tercatat pernah meletus tahun 1939, 1944, 1964, 1984, 2003 dan yang terakhir tahun 2009. Maka seperti disebut pakar vulkanologi Mbah Rono, sudah ada rekomendasi agar tidak beraktivitas dalam radius 100 m dari Kawah Sileri. Mestinya semua pihak menghormati itu dan ada rambu untuk memberi peringatan wisatawan.

Belajar dari kejadian kemarin perlu disiapkan rencana kontijensi ataupun rencana operasi agar kesiapan terhadap bencana tidak reaktif tetapi lebih proaktif dan terencana dengan baik. Rencana kontijensi bencana di kawasan wisata merupakan keharusan untuk menganalisis potensi kejadian dan situasi yang bisa mengancam masyarakat. Serta menetapkan pengaturan, dan prosedur untuk menanggapi situasi agar mampu merespons ancaman tersebut secara tepat waktu, efektif dan sesuai.

Rencana kontijensi di kawasan pegunungan Dieng maupun kawasan berisiko lainnya dapat dilakukan dengan: 1) membuat protokol informasi yang bertujuan mengatur arus informasi agar tidak simpang siur dan membentuk informasi satu pintu saat kejadian bencana terjadi. 2) membuat rencana penanganan korban dalam jumlah besar termasuk jika ada korban wisatawan dari mancanegara, 3) membuat rencana penyediaan fasilitas penyimpanan korban dan fasilitas pendukung lainnya; 4) membuat rencana evakuasi beserta alternatifnya jika kawasan wisata padat pengunjung. Perencanaan jalur evakuasi di berbagai daerah wisata khususnya pegunungan sangat krusial karena jalan yang sempit, berliku dan naik turun dengan tanjakan dan turunan yang tinggi yang berpotensi menyebabkan ëbencana kecelakaaní. 5) merencanakan tempat penampungan atau hunian sementara, kendaraan pengangkut massal, logistik baik untuk penduduk, pelaku pariwisata maupun wisatawan yang sedang berkunjung.

Sedangkan rencana operasi diperlukan untuk mengaktifkan rencana kontijensi dan melaksanakan kesiapsiagaan yang sudah direncanakan. Sehingga jika letusan terus berlangsung, seperti yang terjadi di Kawah Sileri, dapat diantisipasi dengan cepat, tepat dan tidak menimbulkan korban jiwa yang besar, ataupun meningkatnya korban yang sakit dan terluka serta tidak menimbulkan kerugian material yang lebih besar.

Di samping informasi, pengamanan sekitar lokasi yang berisiko tinggi juga penting karena sering kali banyak wisatawan atau pengunjung yang ingin melihat dari dekat. Oleh karena itu edukasi diperlukan secara terusmenerus agar masyarakat tidak nekat atau justru berwisata bencana tanpa mempertimbangan risiko keselamatan dirinya. Kesiapan operasi juga diperlukan seperti penyelamatan dan evakuasi korban, pemenuhan kebutuhan dasar korban, penyediaan dan distribusi personel, logistik dan peralatan, perlindungan kelompok rentan, maupun pemulihan dengan segera fungsi sarana dan prasarana vital.

Tujuan rencana operasi ini untuk memberikan pertolongan darurat, mengevakuasi korban, menyediakan air bersih dan sanitasi, sandang, pangan, serta pelayanan kesehatan dan penyediaan hunian sementara. Apabila rencana kontijensi dan rencana operasi ini dijalankan, dapat mengurangi dampak yang ditimbulkan dari kejadian bencana di daerah wisata.

(Dr Rahmawati Husein. Dosen Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Unsur Pengarah BNPB & Wakil Ketua Muhammadiyah Disaster Management Center/MDMC. Artikel ini dimuat Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat, Senin 3 Juli 2017)

BERITA REKOMENDASI