Berharap pada Investasi Baru

Editor: Ivan Aditya

PERTUMBUHAN ekonomi Indonesia didorong oleh belanja negara, konsumsi, ekspor dan investasi. Saat ini yang menonjol adalah belanja negara yang besar, khususnya melalui pembiayaan infrastruktur, antara lain jalan, pelabuhan, angkutan kereta api dan sebagainya. Sedangkan dari aspek konsumsi, menurunnya daya beli masyarakat tidak cukup menjanjikan. Sama halnya ekspor, melemahnya ekonomi global terutama pada ekspor sumber daya alam, seperti pertambangan, produk manufaktur, tidak mencapai peningkatan yang cukup signifikan, bahkan menurun. Oleh sebab itu, harapan terbesar adalah mendorong percepatan munculnya investasi baru.

Hampir sebagian negara dalam mengatasi melemahnya ekonomi melakukan strategi mendorong perdagangan (ekspor) dan mengundang investasi, demikian juga Indonesia. Dalam hal ini, Pemerintah telah melakukan liberalisasi investasi yang berakibat pada industri dalam negeri yang sudah ada. Bisa juga, para pelaku ekonomi nasional, khususnya UKM, mengalami tekanan pada sektor-sektor yang selama ini menjadi bidang usahanya.

Salah satu perubahan yang dilakukan Pemerintah terkait Daftar Negatif Investasi (Peraturan Presiden Nomor 39 Tahun 2014) yaitu dengan membuka sektor-sektor usaha yang dapat dimasuki investor asing, atau semakin besar kepemilikan pemegang saham.

Indonesia selama ini menjadi negara yang memiliki daya tarik investasi tinggi bagi investor asing. Apa yang membuat investor asing tertarik berinvestasi di Indonesia? Sumber daya alam yang melimpah, tingkat konsumsi domestik yang tinggi seiring bertambahnya kelas menengah baru (saat ini kelas menengah Indonesia sudah mencapai 100 juta orang) dan kondisi politik yang stabil.

Pada persaingan negara yang semakin ketat, pintu investasi harus terus dibuka supaya semakin deras mengalir di Indonesia. Berbagai kemudahan harus diberikan agar investor tetap menanamkan modalnya di Indonesia. Selain itu, sejumlah terobosan harus dilakukan untuk menyingkirkan berbagai hambatan yang selama ini mengganjal masuknya investasi.

Paling tidak ada empat hambatan utama, pertama terkait infrastruktur dan logistik. Kedua, perizinan yang tidak transparan. Ketiga, tumpang-tindih peraturan dan keempat adalah persoalan hubungan industrial. Di samping itu, sistem insentif dapat menjadi pertimbangan dalam upaya mengurangi hambatan-hambatan serta menciptakan daya tarik investor untuk datang dan menanamkan modalnya.

Menurut Bank Dunia, pada tahun ini 2016, Indeks Kemudahan Berusaha Indonesia berada di peringkat 109 dari 189 negara, atau naik 11 peringkat dibanding tahun lalu yang berada di peringkat 120. Sementara Malaysia berada di peringkat 18, Thailang 48, dan Vietnam 90.

Investasi merupakan instrumen penting bagi keluar masuknya arus modal dari dalam maupun luar negeri untuk ditanamkan pada sektor-sektor yang berpotensi menghasilkan keuntungan ekonomis. Peran ganda dari investasi adalah selain untuk menggerakkan perekonomian, juga untuk membantu menyerap tenaga kerja, sehingga mampu menekan angka pengangguran. (Robby Kusumaharta, Ketua Dewan Penasihat Kadin DIY)

BERITA REKOMENDASI