Berpihak pada Pemilih Difabel

Editor: Ivan Aditya

PEMILIHAN Kepala Daerah (Pilkada) baik Bupati dan Wakil Bupati Kulonprogo serta Walikota dan Wakil Walikota Yogyakarta yang dijadwalkan 15 Februari 2017 tidak hanya dinantikan masyarakat secara keseluruhan, tetapi juga bagi para pemilih difabel.

Pemilih difabel adalah pemilih yang mendapat perhatian khusus yang berhak menyalurkan aspirasinya. Perhatian khusus sebagai pemilih tersebut dikarenakan kekurangan/kecacatan organ tubuhnya, mulai dari surat suara khusus, pendamping yang membantu pemilih difabel (mendampingi sebelum melakukan pemilihan, saat pemilihan sampai usai pemilihan) serta fasilitas khusus untuk pemilih difabel.

Meskipun seharusnya mendapat perhatian tersendiri, tetapi pemilih difabel terkadang belum memperoleh perlakuan khusus ketika ingin menyampaikan aspirasinya. Di antaranya minimnya sosialisasi tentang tata cara Pilkada dengan menggunakan surat suara khusus. Sosialisasi Pilkada untuk masyarakat umum sudah seringkali dilakukan, namun bagi pemilih difabel masih terbatas dan belum tentu pemilih difabel mampu memahaminya karena antara individu yang satu dengan yang lain kecacatannya berbeda. Pada akhirnya pemilih difabel susah dalam menentukan sikapnya dalam memilih bahkan tidak jarang untuk ‘golongan putih’ (golput), karena terbatasnya informasi yang didapatnya tersebut.

Hal yang masih dikesampingkan lainnya yaitu minimnya pendamping, yakni perseorangan yang secara independen dan tidak memihak salah satu calon yang bertarung dalam pilkada yang dengan kerelaan mendampingi pemilih difabel mempersiapkan dalam menyalurkan aspirasinya. Mulai dari mendampingi pra pemilihan dengan memberikan pemahaman bagaimana tata cara dalam memilih, saat memilih salah satu calon sesuai keinginannya, sehingga tidak salah dalam memilih dan pasca pemilihan, yakni bagaimana mendampingi pemilih difabel untuk mengetahui hasil yang didapat saat pengumuman hasil pilkada.

Demikian pula dalam hal segi fasilitas pendukung saat pemilihan suara berlangsung. Mulai dari fasilitas bilik suara yang khusus dan tersendiri bagi difabel yang representatif. Jalur atau kotak suara khusus difabel sendiri sampai perlengkapan yang dikhususkan bagi difabel. Hanya karena area yang terbatas, tiga hal tersebut (bilik suara, jalur atau kotak suara sampai perlengkapan) ataupun salah satu hal tersebut terkadang kurang terpenuhi. Akhirnya, pemilih pilkada difabel memanfaatkan seadanya dengan fasilitas yang telah disediakan.

Supaya pemilih difabel sama haknya dalam memilih, saat ini yang perlu dilakukan adalah mulai mendekati pemilih difabel. Dengan cara memberikan sosialisasi yang tidak hanya terbatas sekali secara umum, tetapi menyeluruh dengan pemilih difabel pada setiap kecacatan. Dengan demikian dalam memilih beserta tata caranya tidak hanya diterima setengahsetengah, namun bisa memahami secara keseluruhan, sehingga nantinya mereka tepat dalam memilih. Pengenalan hal ini bisa dilakukan siapapun dari instansi terkait, pemilih yang lain maupun para calon kepala daerah sesuai ‘kekurangan’yang dialami pemilih difabel.

Disamping itu, perlu pula menyiapkan pendamping pemilih difabel agar mereka dapat menyampaikan suaranya pada saat pemilihan. Pendamping tersebut harus independen dan tidak ada intervensi dari salah satu calon kepala daerah, sehingga pemilih difabel meskipun didampingi salah satu pendamping tetap memiliki hak untuk memilih secara langsung, umum, bebas dan rahasia. Pendamping independen ini juga harus telah memiliki kecakapan tentang pemilihan kepala daerah serta kecakapan dalam menangani orang difabel, sehingga ketika pemilih difabel membutuhkan informasi, pendamping ini dapat memberikan penjelasan secara benar.

Sementara untuk fasilitas pendukung, sedapat mungkin menyediakan tempat khusus bagi pemilih difabel di Tempat Pemungutan Suara (TPS), baik penempatan bilik suara, kotak suara serta perlengkapan lainnya. Dengan demikian pemilih difabel nyaman dalam memilih dan terjamin kerahasiaannya. Akhirnya jangan sampai pemilih difabel tak mendapatkan haknya dalam pilkada. Berpihak kepada pemilih difabel dalam pilkada membantu suksesnya pilkada sesuai yang diharapkan.

(Dwi Cahya Maristyawan. Pendamping Pemilih Difabel Pilkada Kota Yogyakarta. Artikel ini dimuat Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat, Rabu 7 September 2016)

BERITA REKOMENDASI