Budaya Batik

Editor: Ivan Aditya

TREN batik masa kini masih belum merevitalisasi budaya batik. Kita baru pada tataran senang tampil berbusana batik. Lalu kita pun bangkit dalam berbisnis batik. Dari presiden hingga pamong desa, semua berbusana batik. Dari artis hingga ibu rumah tangga, bisnis batik menjadi alternatif yang prospektif.

Tren berbusana dan berbisnis batik tentu saja berdampak positif. Dunia semakin mengenal Indonesia berkat busana batik. Klip terbaru penyanyi Agnes Monica yang beredar di pasar global pun mempromosikan keindahan batik Nusantara. Ekonomi rakyat menggeliat berkat bisnis batik. Kebangkitan busana dan bisnis batik membarui energi kreativitas bangsa. Dari pengrajin tradisional hingga kreator kain dan busana batik berbasis iptek modern, semua menjadi kreatif dan inovatif.

Namun di sisi lain, batik sebagai busana dan bisnis cenderung sangat pragmatis. Komodifikasi batik berkembang mengikuti selera pasar. Apalagi dengan kehadiran teknologi digital yang makin canggih. Modernisasi teknologi bukan hanya menyentuh proses pencetakkan kain (batik printing) tetapi juga merambah proses penciptaan motif dan ornamen. Muncullah sekarang, misalnya ‘batik fractal’ yang menginjeksikan teknik komputerisasi dalam proses penciptaan aneka motif batik.

Pragmatisme busana dan binis batik menimbulkan kegalauan di kalangan perajin batik tulis tradisional. Tak heran jika muncul gerakan, misalnya menolak penetrasi batik printing. Apalagi, bisnis batik ternyata juga sering diwarnai oleh persaingan tidak sehat. Jiplak menjiplak dan persaingan bebas bersifat saling menjatuhkan. Sementara geliat para kapitalis dalam dunia usaha batik menjadi momok bagi pengusaha batik kecil dan menengah yang baru belajar merangkak.

Untuk memajukan batik Indonesia ke depan, perlu dikembangkan secara seimbang dan sinergis antara pragmatisme dan idealisme budaya batik. Pragmatisme budaya batik mencakup pengembangan batik sebagai tren busana dan bisnis. Pragmatisme budaya batik tidak bisa dibendung. Apalagi kehadiran teknologi digital, tidak mungkin kita batasi. Batik harus terbuka terhadap inovasi dan kreasi dalam motif, ornamen, dan teknik penciptaannya.

Adapun idealisme budaya batik harus tetap dirawat, dilestarikan, dan dikembangkan. Jika busana dan bisnis batik berorientasi pada dinamika selera pasar maka idealisme budaya batik lebih mengedepankan kualitas seni dan filosofi batik sebagai mahakarya Indonesia. Dalam idealisme budaya batik, kita menghargai batik lebih dari sekedar budaya materi.

Adapun idealisme budaya batik menunjuk pada proses penciptaan batik yang. Pertama, berkualitas seni tingkat tinggi. Masuk dalam kategori ini tentu saja adalah batik tulis. Karena itu pemerintah perlu memikirkan apresiasi berbasis sertifikasi dan pengakuan HKI yang proporsional yang menjelaskan mana batik yang tulis, cap, printing, fractal, dan sebagainya. Semua diapresiasi secara proporsional.

Kedua, idealisme proses penciptaan batik harus diutamakan. Dari sejarahnya, motif dan ornamen batik diciptakan melalui proses perenungan intelektual-spiritual yang mendalam. Motif dan ornamen batik senantiasa mengandung pesan filosofis. Bukan sekedar indah, tetapi menjadi media penyampaian pesan budaya adiluhung. Tiap batik masterpiece perlu dilengkapi dengan penjelasan tentang proses kreatif ini.

Ketiga, idealisme penggunaan ”adi busana” batik harus pula dilestarikan. Kraton di Yogyakarta dan Surakarta pernah mengumumkan peraturan-peraturan penggunaan busana batik pada tahun-tahun 1769, 1784, dan 1790 melalui maklumat raja. Beberapa motif dan ornamen yang hanya dikhususkan bagi kaum bangsawan di Surakarta antara lain Sawat, Parang Rusak, Cemukiran, dan Udan Liris. Dasarnya adalah kesesuaian antara pesan filosofis motif batik dengan keunggulan karakter dan integritas pribadi yang mengenakannya.

Dalam konteks idealisme budaya batik sekarang, yang perlu dilestarikan adalah idealisme adi busana batik sebagai cermin kepribadian luhur. Sekarang, orang hanya senang dengan motif dan ornamen batik tanpa memahami apalagi menghayati arti atau maknanya. Sehingga, yang terjadi adalah ironi demi ironi. Batik bermotif 'Parang', yang diciptakan Sultan Agung (1613-1648) yang bermakna pemimpin berintegritas yang berani membela kebenaran, justru dikenakan oleh para pejabat koruptor. Hal itu berarti kita belum punya idealisme budaya batik.

(Livy Laurens MACE MA. Fasilitator Gerakan Cinta Batik sebagai Mahakarya Indonesia-GCBMI. Artikel ini dimuat Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat, 2 Oktober 2017)

BERITA REKOMENDASI