(Budaya) Jawa di Mata Tagore

Editor: Ivan Aditya

KORAN ini baru saja menurunkan berita berkepala ‘Tagore, Montesorri, dan Ki Hadjar’(16/9). Sepucuk kabar itu menggugah memori kolektif masyarakat Yogyakarta perihal anyaman tali persahabatan Rabindranath Tagore dengan Ki Hadjar. Tokoh ternama dari India ini menginjakkan kaki di Tamansiswa pada 1927. Kunjungan penyair bersama rombongannya kala itu mencuri perhatian khalayak ramai, tanpa kecuali pemerintah kolonial dan Sri Sultan HB VIII. Tagore gandrung kapilangu dengan guru dan model pendidikan Tamansiswa. Tanpa basa basi, Tagore mengajukan kerja sama tukar menukar guru dan siswa demi memahami budaya dan seni masing-masing.

Ada penggal kisah yang tenggelam dan perlu dibentangkan di sini, yakni kekaguman dan interpretasi Tagore terhadap kebudayaan lokal. Kenyataan sejarah tersebut dilukiskan secara gamblang oleh Ki Hadjar Dewantara (1953) dalam sepucuk artikel bertajuk ‘Hubungan Kita dengan Almarhum’ yang sengaja dibuatnya guna mengenang tokoh besar yang tutup usia tahun 1940 ini. Dikatakan bahwa Tagore berkunjung ke Vorstelanden (Surakarta dan Yogyakarta) dimanjakan dengan tarian-tarian Jawa. Musik mengiringi gerak gemulai para penari terdengar begitu merdu disuarakan gamelan istana. Saat itu pula, beliau terkejut dan lantas bilang: akan memasukkan aneka tarian dan gending Jawa ke dalam asramanya Santhi Niketan.

Dalam kenang-kenangannya mengenai pertunjukan Langen Mandra Wanara dan ceritanya terambil dari Ramayana, Tagore membeberkan pula bahwa orang Jawa lebih pandai mewujudkan cerita Hindu sebagai tonil ketimbang orang Hindu sendiri. Angkat topi dan keterpukauan itu bukanlah omong kosong atau sekadar kalimat penghibur yang dialamatkan pada tuan rumah.

Interpretasi Tari

Sejalan dengan pemikiran dan penilaian Tagore, Guru Besar University of Calcutta India, Prof Dr Kalidas Nag turut kagum atas kreativitas orang-orang pribumi. Sewaktu bertandang ke Istana Mangkunegaran, Kalidas Nag seraya merenungkan keindahan arsitektur Candi Borobudur dan Prambanan, merasakan kesinambungan kejayaan Jawa era kuno di dalam kehidupan masyarakat lokal 1930-an.

Dalam pikiran sang tamu tertanam kehalusan, keindahan, dan kesempurnaan interpretasi tari dari wiracarita India yang dipamerkan rombongan penari istana yang merupakan jamuan istimewa dari petinggi Mangkunegaran. Setumpuk syair paling kuno dari Bangsa Arya disebut Chabda atau Irama dalam Zaman Weda tertua, setelah kebudayaan India sampai di kepulauan ini, orang-orang di Jawa ‘menaturalisasikannya’ dan menyempurnakan teknik irama tersebut hingga menjadi tari yang tiada bandingan. Tanpa tedheng aling-aling Kalidas Nag menegaskan jika di kemudian hari disusun ensiklopedi seni dan budaya Asia, maka seni Jawa nanti akan menempati tempat yang sangat menonjol. Dan perlindungan Mangkunegara VII terhadap seni bakal senantiasa dikenang dengan rasa bangga dan bersyukur. Selepas melakoni perjalanan panjang dan menghayati kebudayaan setempat, Kalidas Nag akhirnya menemukan ‘pulau emas’ atau Suwarnadwipa yang acap didengungkan para penyair di tanah India.

Kemajuan Umat

Sementara sikap elok Tagore tecermin manakala dia berbincang tanpa saling merendahkan maupun tangan menyembah dengan penguasa pribumi. Sebagai orang asing, Tagore justru betah bercokol di istana menikmati sajian budaya seraya menyesap pertukaran pengetahuan Timur yang tumbuh semerbak di alam feodal. Kesaksian Tagore dapatlah disimak dalam buku Het Triwindoe Gedenkboek Mangkoenagoro VII (1939). ”Saya selalu bersyukur kalau ingat akan pertunjukan tari yang saya lihat di Istana Mangkunegaran, Surakarta. Saya merasa kerasan di tengah-tengah suasana yang penuh dengan keindahan, yang berasal dari tanah leluhur saya, dan dua kebudayaan itu telah tergabung pada masa saya hidup,” tulisnya dari asrama Santhi Niketan, Benggala pada 18 April 1939.

Demikianlah, kisah historis ini bukan saja merekam upaya memajukan bidang kultural. Namun juga memikirkan tentang kemajuan umat, memupuk rasa persaudaraan dan menghilangkan pertentangan agama yang belakangan menjadi masalah krusial di banyak negara, termasuk Indonesia. Mengatasi proses dehumanisasi dan radikalisasi lewat jalan budaya telah dipikirkan oleh para pendahulu kita, bahkan lintas negara.

(Heri Priyatmoko MA. Dosen Sejarah, Fakultas Sastra, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Artikel ini dimuat Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat, Jumat 22 September 2017)

BERITA REKOMENDASI