Bunuh Diri

Editor: Ivan Aditya

SETIAP 40 detik ada 1 orang meninggal dunia karena bunuh diri. Dan setiap 3 detik 20 orang gagal saat berusaha bunuh diri. Miris, membaca data yang dilansir WHO. Apalagi, Indonesia memiliki andil ketika lebih dari 800.000 orang meninggal dunia karena bunuh diri.

Data menunjukkan bahwa Indonesia menduduki peringkat ke-8 di ASEAN dan peringkat ke- 114 di dunia untuk kasus bunuh diri. Tingginya angka bunuh diri di Indonesia tentu membuat kita patut bertanya, sudahkah Indonesia melakukan sesuatu untuk mencegah bunuh diri terus terjadi?

Bunuh diri menjadi fenomena dunia yang kejadiannya terus meningkat. Maka dunia melalui organisasi Anti Suicide Prevention (AISP) dan WHO menjadikan 10 September sebagai hari pencegahan bunuh diri. Berbagai negara melangsungkan berbagai event untuk memperingati hari anti-bunuh diri dengan harapan dapat memberikan perhatian bagi mereka yang memiliki keinginan untuk bunuh diri. Dengan demikian, kasus bunuh diri dapat dicegah sedini mungkin. Menjadi ironis, seorang warga Gunungkidul telah bunuh diri pada hari peringatan tersebut.

Mengapa? Sebagai sebuah negara dengan tingkat kasus bunuh diri yang tinggi, adakah Indonesia memberikan perhatian untuk pencegahan? Bila kita bicara tentang pencegahan yang efektif, kita harus tahu faktor pemicu atau penyebab terjadinya kasus bunuh diri di Indonesia. Beberapa pihak meyakini bahwa ekonomi merupakan salah satu faktor pemicu terjadinya bunuh diri. Kondisi perekonomian yang tidak baik mendorong seseorang untuk melakukan bunuh diri.

Akan tetapi berdasarkan data yang ada, kasus bunuh diri tertinggi terjadi di Jawa Tengah yang notabene tidak masuk dalam provinsi termiskin. Secara tidak langsung, bisa dikatakan bahwa kondisi ekonomi tidak selalu menjadi pemicu terjadinya bunuh diri di Indonesia. Selain itu, pelaku bunuh diri juga tidak selalu dari kalangan ekonomi rendah.

Di sisi lain, banyak pihak beranggapan bahwa depresi merupakan salah satu pemicu terjadinya bunuh diri. Namun bila melihat data yang ada, Jakarta sebagai daerah yang dikatakan memiliki tingkat depresi tinggi, ternyata tidak masuk dalam 5 provinsi dengan kasus bunuh diri yang tinggi.

Di sisi lain, mitos bahkan disebut-sebut sebagai pemicu tingginya kasus bunuh diri. Seperti halnya kasus bunuh diri di Gunungkidul. Seperti dilansir KR (11/09/17), kasus bunuh diri di Gunungkidul tahun ini merupakan rekor tertinggi dalam dua dekade terakhir. Hingga September tahun ini tercatat 29 kasus bunuh diri di Gunungkidul. Angka tersebut belum termasuk percobaan bunuh diri yang gagal. Mitos pulung gantung disebut-sebut menjadi salah satu pemicu tingginya angka tersebut.

Dari penjelasan di atas, bisa disimpulkan bahwa kasus bunuh diri merupakan sesuatu yang sangat kompleks. Setiap kasus bunuh diri menyangkut tiap individu dan daerah yang berbeda-beda. Tidak seperti penyakit lainnya yang sudah diketahui penyebabnya, bunuh diri memiliki faktor pemicu yang berbeda-beda dan cukup kompleks.

Sayangnya, masyarakat dan pemerintah seolah menghindari pembicaraan soal bunuh diri. Padahal, tanpa disadari, bunuh diri dapat menular. Mereka yang ditinggalkan pelaku bunuh diri, bisa melakukan hal yang sama. Karenanya, perlu bagi kita untuk mulai membuka mata akan masalah ini.

Take a minute can change a life. Tema tersebut diangkat pada hari Anti- Bunuh Diri tahun ini. Tema tersebut sebenarnya selaras degan pesan kesehatan yang disampaikan Presiden Joko Widodo dalam Rakernas 2017, yaitu Pencegahan dan Pendekatan Keluarga. Dengan tema tersebut, harapannya kita semua mau meluangkan waktu satu menit saja untuk orang lain.

Dengan meluangkan satu menit saja, kita bisa memberi perhatian pada mereka yang berpikir untuk bunuh diri. Di sisi lain, dengan meluangkan satu menit untuk orang lain, mereka yang berpikir untuk bunuh diri, bisa mengetahui bahwa mereka berharga dan penting untuk orang lain.

Kompleksnya kasus bunuh diri tidak boleh membuat kita maupun pemerintah diam saja. Seminar, penyuluhan, kampanye, bahkan iklan masyarakat yang hanya sekian detik bisa mengubah kehidupan.

(Atur Semartini SS MHum. Penulis adalah Staf Pengajar STIKes Nasional Surakarta. Artikel ini dimuat Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat, Selasa 12 September 2017)

BERITA REKOMENDASI