Dalam Terang Iman Menghidupi Pancasila

Editor: Ivan Aditya

NATAL tahun ini Gereja Indonesia serta Keuskupan Agung Semarang khususnya mengajak seluruh umat Katholik dan umat Kristiani pada umumnya untuk merenungkan masa sebelum Natal yang mengambil tema : ’Dalam Terang Iman Menghidupi Pancasila’. Perlu kita sadari bahwa kesadaran campur tangan Allah dalam pengembangan bangsa ini sungguh sangat luar biasa. Ratusan suku dan ribuan bahasa mampu bersatu dalam sebuah negara merdeka dan terbebas dari penjajahan sungguh luar biasa dahsyatnya, kalau disadari. Apalagi hanya bersenjatakan bambu runcing.

Gereja Katholik Indonesia menyadari bahwa Pancasila dapat menyatukan segenap Bangsa Indonesia untuk bersama sama membangun negeri. Maka dari itu Umat Katholik sungguhsungguh menerima Pancasila sebagaimana tercantum dalam Pembukaan UUD 1945. Kita disadarkan bahwa Pancasila bukan hanya sebagai sarana pemersatu, melainkan juga sebagai ungkapan nilai-nilai dasar hidup bernegara. Yang telah berurat akar dalam budaya dan sejarah Bangsa Indonesia.

Pancasila menghadirkan nilai-nilai dasar hidup manusia, sejalah dengan misi yang dikemukakan ajaran dan pandangan Gereja Katolik. Tentu Pancasila akan bermakna bagi kehidupan bangsa ini jika dihayati sebagai nilai-nilai yang diamalkan dan diperjuangkan. Karena itu Gereja Katholik tidak hanya perlu mendasarkan nilai-nilai Pancasila tetapi juga ikut terlibat dalam usaha mewujudkannya.

***

Pada Natal tahun 2017 ini kita disadarkan bahwa perwujudan keterlibatan gereja itu tidak boleh hanya didasarkan pada Tradisi Suci, melainkan harus juga terlibat pada fakta dan masalah sosial masyarakat. Untuk itu,umat Katholik diajak terlibat aktif dalam programprogram kemasyarakatan. Bahkan juga yang terkait sangat erat dengan nilai-nilai Pancasila yakni Ketuhanan Yang Maha Esa, Perikemanusiaan, Kebangsaan (Persatuan Indonesia), Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan perwakilan dan Keadilan sosial.

Dalam hal ini kita diajak untuk meneladan sikap Maria ketika terpanggil untuk menjadi ibu bagi Yesus. Maria merespons panggilan tugasnya dengan sikap ’Aku ini hamba Tuhan Jadilah padaku menurut PerkataanMu’. Disamping itu warta keselamatan yang disampaikan Malaekat itu juga tidak hanya dia simpan. Dengan bergegas ia juga mengunjungi saudaranya Elizabeth yang juga telah mengandung dalam masa tuanya, yang tempatnya jauh dari rumahnya. Padahal Elizabeth dikatakan mandul. Bagi Allah tidak ada yang tidak mungkin. Dan dalam perjumpaan dengan saudaranya itulah Maria melantunkan kidung yang amat terkenal Magnificat yang merupakan wujud iman Maria. Maria dengan segenap hatinya menerima warta keselamatan itu dengan penuh hati tulus dengan segala jiwanya. Kidung itu merupakan lantunan akan nilai-nilai bahwa Allah berkenan memilih dan menjadikan yang lemah dan rapuh sebagai sarana untuk mewujudkan rencana keselamatanNya. Allah berpihak kepada kaum kecil lemah dan terpinggirkan.

Kita perlu belajar dari Maria untuk semakin bertumbuh menjadi pribadi yang memiliki iman yang teguh penuh syukur dan terbuka terhadap kehendak Allah, terutama nilai-nilai keutamaan. Seperti halnya Maria kita hendaknya terbuka atas keselamatan Allah yang nyata melalui nilai-nilai keutamaan bangsa Indonesia, yaitu Pancasila.

***

Senandung pujian Maria merupakan senandung Maria kepada Penyelenggaraan Ilahi atas hidupnya untuk memperjuangkan nilai-nilai warta Injil. Warta tentang kelahiran Sang Juru Selamat. Sebuah kidung tentang menjunjung nilai-nilai iman, martabat manusia, keadilan dan kesejahteraan bersama. Seperti apa yang juga digaungkan Pancasila.

Maka semangat Natal kali ini sama halnya dengan Maria, kita diajak untuk memandang Pancasila sebagai kode etik bangsa daripada sebagai sebuah ideologi sosial, Karena Pancasila sebagaimana halnya Decalog atau Sepuluh Perintah Allah, menjunjung tinggi nilai-nilai keutamaan universal tentang keselamatan Kristus itu sendiri, dalam Ketuhanan, Kemanusiaan, persatuan , Kerakyatan dan Keadilan Sosial.

Yang perlu kita sadari bahwa Allah menghendaki semua umat selamat, baik yang seiman maupun yang bukan seiman. Allah akan menyelamatkan umatNya dengan caraNya sendiri-sendiri.

(Sugeng Wiyono Al. Umat Paroki Pugeran, Prodiakon 2009 sd 2015. Artikel ini dimuat Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat, Sabtu 23 Desember 2017)

BERITA REKOMENDASI