Dapur Umum, Sejarah Berulang

Heri Priyatmoko MA
Penulis adalah Dosen Sejarah, Fakultas Sastra, Universitas Sanata Dharma

WAKTU melesat bak panah Pasopati Arjuna. Kian hari, dampak pageblug Covid-19 makin menghebat. Pengangguran ‘dadakan’ meroket jumlahnya. Ancaman kelaparan dan ketahanan pangan di depan mata. Kenyataan pahit tersebut oleh beberapa daerah disiasati dengan mendirikan dapur umum.

Membentangkan lembaran sejarah, gugur gunung mewujudkan dapur umum telah terbukti ampuh dalam menghadapi situasi krisis. Contoh paling nyata tatkala bangsa Indonesia mempertahankan kemerdekaan tahun 1945-1949. Cerita dimulai saat pasukan Belanda melancarkan ‘aksi polisionil’.

Barisan pejuang Indonesia tak tinggal diam. Mereka mengokang senjata walau mentari telah karam. Akan tetapi, sehebat apapun, tetap saja mereka butuh istirahat dan bahan makanan pengganjal perut. Para pejuang perlu asupan makanan demi mengembalikan energi yang terkuras.

Nah, pemerintah melalui Badan Oeroesan Makanan (BOM) menitahkan masyarakat supaya menanggung perbekalan makanan gerilyawan. Penduduk sendika dhawuh, lalu mendirikan dapur umum di kampungnya yang masuk dalam peta perang. Di era revolusi, dapur umum adalah pusat logistik yang menjamin kebutuhan perut pejuang sehingga perlawanan terus dikobarkan sampai titik darah penghabisan.

Perempuan

Contoh kasus dapur umum paling menarik adalah di Desa Klodran (Karanganyar) dengan ketuanya Simbok Tjokrodimedjo. Ia mengorganisir sejumlah perempuan bahu membahu demi ‘mengamankan perut’ gerilyawan. Patut diacungi jempol, Simbok Tjokrodimedjo bukan hanya mengikhlaskan hartanya menyumbang makan bagi pejuang, tapi juga merelakan rumahnya ludes dibakar pasukan Belanda gara-gara aktivitasnya penuh risiko ini terendus musuh.

Kenyataan bahwa dapur umum kurun itu dipakai pula untuk sarang gerilyawan, ruang komunikasi antara pejuang . Jangan dikira kebutuhan pangan gerilyawan cukup dengan beras lima hingga tujuh beruk (tempurung kelapa) sehari. Hasil sorotan historis Sri Retno Astuti (1990) menginformasikan, di Desa Bibis (Bantul) misalnya, jatah makan para pejuang diberikan dua kali sehari. Dengan menghabiskan beras rata-rata 25 kilogram sekali santap, untuk kurang lebih 120 orang.

Lauk pauknya sangat sederhana, berupa sayur kluwih, sayur terong, gudangan dan kadangkala daging. Guna menanggulangi terbatasnya persediaan beras, disajikan makanan seperti ubi, nasi jagung dengan lauk pauk seadanya. Karena lingkungan Desa Bibis tidak begitu kaya akan ternak, maka untuk keperluan daging, didatangkan dari Wonosari, Gunungkidul, setiap minggu.

Sedangkan kebutuhan kayu bakar dan minyak tanah ditopang dari daerah tetangga. Pola serupa terjadi di Desa Jenggrik, Mojosongo (Sragen) yang tandus. Suplai beras dapur umum di kawasan minus tersebut berasal dari Sawahan dan Bekonang (Sukoharjo). Barang diangkut dengan kendaraan bermotor, gerobak, pikulan maupun tenggok.

Gotong Royong

Desa-desa yang disebutkan di atas, sekadar mencomot contoh, Jenggrik dan Bekonang, tidak berada dalam satu-kesatuan wilayah administratif (kecamatan). Namun eloknya, warga begitu rekat dan saling berhubungan sebab didorong spirit gotong royong. Aspek gotong royong bersemi dalam ruang dapur umum. Bersenyawa dengan model kehidupan masyarakat Jawa, yaitu paguyuban (gemeinschaft).

Gemeinschaft ialah suatu perikatan manusia dengan perasaan persatuan dan kesadaran bersama yang besar. Kehidupan jenis ini merupakan persekutuan hidup bagaikan ikatan organis sel-sel di dalam suatu tanaman, maka tampaklah sekali sikap rela berkorban. Pengalaman sejarah dapur umum berulang, dengan masa dan subjek yang berbeda.

Kita diajak kontemplasi bahwa Bangsa Indonesia sanggup bertahan dari terpaan krisis berkat solidaritas, kerja sama, serta hati tanpa dilumuri rasa pamrih kepeng atawa duit. Naluri kehidupan kampung telah mempengaruhi watak sosialnya, memahami tugasnya sebagai manusia Indonesia yang kepingin lepas dari cengkeraman musuh, termasuk korona. Mari menebalkan rasa kemanusiaan dan tetulung. ❑-o *)

BERITA REKOMENDASI