Darurat Air Kehidupan

Editor: Ivan Aditya

BADAN Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyebutkan bahwa saat ini wilayah Indonesia telah memasuki puncak musim kemarau. Musim kemarau tahun 2017 ini tidak akan sekering tahun 2015 namun tidak sebasah tahun 2016. Daerah yang mengalami kekeringan berkepanjangan seperti Jawa Timur, Bali, NTB, dan NTT diperkirakan baru akan berakhir setidaknya pada bulan November. Wilayah ini sudah 60 hari tidak diguyur hujan, bahkan untuk wilayah NTT sudah 100 hari.

Badan Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan ada 663 juta penduduk bumi ini yang hidup tanpa persediaan air bersih yang berkualitas. Setidaknya uang $260 miliar hilang setiap tahun karena kekurangan air bersih dan sanitasi. Penurunan jumlah dan mutu air akan mengakibatkan kematian kehidupan makhluk hidup. Setidaknya 1 juta orang meninggal karena penyakit terkait kelangkaan air, sanitasi dan kebersihan setiap tahun. Penyakit diare karena krisis air menjadi ranking ketiga penyebab utama kematian anak di pelosok bumi ini.

Menurut United Nations Environment Program (UNEP), air di bumi berkisar 1,4 triliun kilometerkubik. Namun hanya 0,1% yang benar-benar dapat dimanfaatkan sebagai air kehidupan melalui siklus air hujan. Sebagian besar berada di lautan dalam dan kutub yang dingin. Sebenarnya, jumlah curah hujan di jamrut katulistiwa ini tergolong tertinggi di dunia. Curah hujan tahunan di Indonesia rerata 2.000 mm, bahkan di pegunungan bisa mencapai 4.000-10.000 mm. Padahal wilayah gurun pasir hanya mendapatkan hujan sebesar 250 mm saja. Air hujan diharapkan mampu mengisi cadangan air kehidupan yang berada pada permukaan bumi, agar dapat dimanfaatkan untuk menopang kehidupan seluruh makhluk hidup di bumi ini sepanjang tahun. Namun demikian, pori-pori permukaan kulit bumi yang merupakan instalasi raksasa air kehidupan bumi telah tersumbat dan tertutup. Karena penggundulan hutan, pembangunan gedung, penutupan pori tanah, penyempitan sungai, pembuangan sampah serta penyedotan air tanah yang berlebihan.

Air hujan tidak tertampung dan tidak dapat masuk dalam sistem penyimpanan air kehidupan bumi, namun justru meluber menggenangi lingkungan dan kehidupan sendiri. Air hujan membanjiri dan menutup napas kehidupan bumi, menjadi bencana banjir air yang mematikan. Tanpa sempat diserap dalam pori-pori bumi untuk dapat dimanfaatkan bagi kehidupan dan lingkungan yang berkelanjutan. Sungai-sungai yang menjadi sistem saluran air kehidupan bumi sudah mengalami kerusakan akut dan sangat parah. Banyak tersumbat, bocor, mengalami penyempitan karena timbunan sampah dalam jumlah besar. Persediaan air kehidupan pada musim kemarau panjang seperti saat ini menjadi bencana kekeringan dan kemanusiaan yang akan selalu berulang.

Upaya normalisasi harus dilakukan dengan membuka kembali seluruh saluran, urat, dan jaringan air kehidupan. Agar bumi tidak semakin rusak, serta bisa sehat kembali. Pembongkaran bangunan di sepanjang sungai, pembersihan sampah, pembukaan resapan air, pori tanah dan saluran urat nadi air kehidupan harus dilakukan secara frontal. Solusi penyediaan air bersih dengan pengadaan air kemasan dan pengeboran air sumur dalam, justru menjadikan air kehidupan lebih mahal dan eksklusif serta menimbulkan bencana baru.

Seluruh penghuni bumi harus bertanggung jawab melakukan Merti Bumi secara ketat dengan tidak membuang sampah sembarangan. Agar kerusakan dan bencana alam tidak semakin parah lagi. Kesehatan dan stamina bumi harus dijaga. Lakukan dengan penanaman hutan urban yang mampu langsung melayani siklus air kehidupan bumi, di samping penghutanan kembali. Penghuni bumi harus berkontribusi nyata dalam merawat lingkungan dengan penanaman pohon, pemanenan hujan, sumur resapan, kolam, embung, pengelolaan sampah, pengolahan air limbah.

Paradigma baru bahwa tumbuhan dan hutan mempunyai multi-fungsi sebagai pengatur air, udara, karbon, oksigen, pangan, pakan, energi, pupuk, obat, wisata, religi dan kebutuhan makhluk hidup lainnya perlu dikembangkan. Diharapkan siklus air kehidupan menjadi normal kembali guna mewujudkan lingkungan dan kehidupan yang lebih bermartabat dan berkelanjutan.

(Prof Dr Ir Cahyono Agus. Guru Besar pada Fakultas Kehutanan UGM Yogyakarta. Artikel ini dimuat Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat, Jumat 22 September 2017)

BERITA REKOMENDASI