Daya Tahan ‘KR’

Editor: Ivan Aditya

HARI ini, Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat (SKH-KR) genap berusia 71 tahun. Jika manusia, umur 71 tahun merupakan usia senja. Kesehatan menurun. Berbagai penyakit mulai menyerang. Daya tahan pun berkurang. Kita menyebutnya faktor usia (faktor U) yang pada manusia terjadi secara alamiah. Pertanyaannya, bagaimana dengan KR? Seberapa kuat ia akan bertahan? Sepuluh tahun? Dua puluh tahun? Atau sampai kapan?

KR tercatat sebagai koran tertua yang terus terbit mengiringi kemerdekaan Indonesia. Secara historis, KR lahir dari kehendak kuat untuk mensyukuri dan mengawal kemerdekaan. HM Samawi (1913-1984) dan Madikin Wonohito (1912-1984) mengubah harian sore Sedya Tama yang terbit sejak 1930-an menjadi KR. Nama Kedaulatan Rakyat diusulkan Mr Soedarisman Poerwokoesoemo karena terinspirasi slogan berbahasa Belanda Volk Souvereiniteit. Sebuah ajakan untuk bersama-sama lepas dari penjajahan.

Usia 71 tahun sungguh patut disyukuri. Bukan perkara mudah mengelola KR sehingga mampu menembus semua periode politik di Indonesia. Orde Lama yang bercorak ëdemokrasi terpimpiní dapat dilampaui. Orde Baru yang lebih represif mampu dilewati. Orde Reformasi yang membuka diri bagi kemerdekaan pers (UU No. 40/1999) telah 17 tahun berhasil dijalani.

Sampai detik ini, banyak pihak yang telah memetik buah keberadaan KR. Slogan ‘Suara Hati Nurani Rakyat’ telah dibuktikan lewat perannya memediasi rakyat dan penyelenggara negara di semua tingkatan. ‘Jurnalisme silaturahmi’ telah menempatkan KR sebagai fortiter in re, suaviter in modo (tegas dalam masalah, halus dalam menyampaikan). Tindakan migunani tumraping liyan (berguna bagi masyarakat) mampu membuat KR sebagai koran terpopuler di Daerah Istimewa Yogyakarta dan sekitarnya.

“Setelah bersyukur, lalu tanyakan eksistensi dirimu!” Begitu saran bijak bagi seseorang yang berulang tahun. Dalam hal ini ada beberapa catatan kritis perlu dikemukakan berkenaan dengan hadirnya media digital yang ke depan akan semakin marak.

Pertama, ungkapan Marshall McLuhan media is the extension of men terus berlaku. Media merupakan perkembangan dari peradaban manusia. Kehadiran media digital melahirkan revolusi besar yang tidak terjadi sebelumnya. Tahun 1930-an, saat radio menjadi media massa baru, koran tetap mampu bertahan. Begitu pun ketika televisi muncul pada tahun 1950-an, media massa cetak tidak tergoyahkan. Namun, sekarang, internet dan media online membuat cara berkomunikasi manusia sungguh berubah secara revolusioner.

Saat ini, puluhan koran ternama di dunia bangkrut. Di Inggris, The Sun milik Rupert Murdoch bangkrut sejak 2007. Hal sama terjadi di AS. Chicago Tribune, Los Angeles Time, dan The Ricky Mountain News dan puluhan lainnya gulung tikar. Di pihak lain, jumlah pengguna internet terus meningkat, termasuk dan terutama di Indonesia. Kenyataan ini menjadi pemaksa bagi pengelola koran cetak untuk bermain di media online. Mau tidak mau, suka tidak suka.

Kedua, telah datang generasi baru kelahiran tahun 2000-an yang semakin asing dengan koran cetak. Ini bukan isapan jempol, tetapi kenyataan di depan mata. Mahasiswa baru angkatan 2016 ‘yang lazim disebut ‘generasi Y misalnya, semakin ‘alergi’ media massa cetak. Mereka cekatan membuka gadget-nya untuk mengakses berita terkini. Modus baru ini pasti terus berkembang dengan sangat cepat.

Menarik bahwa menurut Nielsen Media Research, pembaca KR yang bertiras ratusan ribu orang mayoritas berusia 20-40 tahun. Ini berita baik bagi KR. Namun, bagaimana jika survei dilakukan lima tahun mendatang? Bisa jadi angkanya berubah drastis. Apalagi ‘generasi Y’ memiliki kemampuan membaca layar (screen reading) melampaui generasi sebelumnya. Mereka inginnya juga serba-praktis. Berita yang berpanjang-panjang tak mereka inginkan. Semakin mini semakin seksi.

Maka merawat pembaca muda sangatlah penting, sambil terus merebut hati pembaca baru dari ‘generasi Y’. Ibarat berinvestasi, jika suatu saat KR harus mengakhiri versi cetaknya, pembaca KR online telah terbentuk. Usaha nonredaksional dengan kegiatan-kegiatan off line harus digiatkan agar KR dicintai pembaca muda.

Kita yakin, KR dengan pengalaman panjangnya akan mampu melewati titik kritis ini. Dirgahayu KR. Teruslah migunani tumraping liyan.

(Dr P Ari Subagyo MHum. Pakar komunikasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Artikel ini dimuat Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat, Selasa 27 September 2016)

BERITA REKOMENDASI