Diaspora Indonesia

Editor: Ivan Aditya

KEHADIRAN mantan Presiden Obama dalam Kongres Diaspora Indonesia di Hall Casablanca Jakarta, menyedot perhatian peserta. Apalagi, dalam kongres tersebut Obama berbicara mengenai toleransi dan meminta anak-anak muda Indonesia serta dunia memromosikan toleransi. Jika tidak, dunia bisa berakhir dengan ‘perang dan hancurnya masyarakat’.

Tentu kehadiran dan pidato Obama akan mendunia. Apalagi menurut Ketua Board of Trustees Indonesian Diaspora Network Global (IDNG) Dino Patti Djalal, kongres ini diikuti sekitar 9.000 peserta. Terdiri dari 52 negara dan dari 134 kota, dengan tema dalam kongres ke-4 ini adalah ‘Bersinergi Bangun Negeri’.

Prakarsa Kongres Diaspora Indonesia pertama kali diselenggarakan di Los Angeles, Amerika Serikat tahun 2012, dengan tujuan utama sebagai forum kerja sama dan keterikatan WNI ataupun keturunan Indonesia yang bekerja atau tinggal di luar negeri. Forum ini sangat diperlukan dalam rangka merespons perkembangan globalisasi, perdagangan bebas dan isu isu hubungan internasional terkini.

Strategis

Posisi strategis Indonesia justru bukan pertama kali dianggap penting oleh Bangsa Indonesia. Yang menyebutnya adalah bangsa asing yang mempunyai kepentingan strategis tertentu dalam rangka menjalankan misi mereka. Ketika model kolonialisme militer sudah tidak diterima oleh komunitas dunia internasional, maka berbagai negara kuat menjalankan misi ‘kolonialisme’ mereka dengan wajah baru. Misalnya atas nama globalisasi, pasar bebas (free trade), kerja sama regional, kerja sama internasional, kerja sama antarperusahaan global (global company networking), beasiswa (dalam rangka program cuci otak calon pemimpin dan ekonom dari negara berkembang/negara miskin), internet, ecommerce, pengungsi, olahraga dan dunia hiburan pop (music, film, game).

Diaspora Indonesia harus merespons isu-isu global terkini tersebut dan memberikan rekomendasi kepada Pemerintah Republik Indonesia yang berkuasa sekarang serta menyadarkan rakyat Indonesia agar mampu segera menindaklanjuti bagaimana harus bersikap. Keseriusan, keberanian dan kebersamaan antara pemerintah dan rakyat harus segara diwujudkan sebelum berbagai kekuatan asing menjadi tuan dan merajalela di berbagai bidang di dalam negeri Indonesia. Ada dua isu global terkini yang perlu segera direspons.

Pertama, perdagangan bebas, terutama booming impor produk China. Penulis beberapa kali mengikuti seminar dan worskhop impor produk China. Produk China mempunyai dua kategori utama, yaitu produk kualitas rendah dan produk kualitas tinggi. Jadi keputusan pengimpor dari Indonesia-lah yang memutuskan apakah mereka akan mengimpor produk kualitas rendah atau tinggi. Mayoritas produk China sangat murah dibanding dengan produk sejenis dari negara lain. Sehingga dalam jangka panjang akan meruntuhkan industri dalam negari di semua bidang karena China memproduksi hampir semua barang kebutuhan manusia maupun barang yang tidak terlalu dibutuhkan manusia (misalnya berbagai pernak-pernik, mainan, peralatan yang tidak diproduksi negara lain).

Sangat Rawan

Kedua, terorisme, pengungsi dan perdagangan manusia (human trafficking). Wilayah Indonesia yang luas, kepulauan dan berbatasan dengan banyak negara sangat rawan sebagai ajang terorisme, sebagai tujuan pengungsi dan perdagangan manusia. Terorisme sudah jelas, ada WNI yang menjadi teroris dan menyerang sasaran bangsa sendiri. Pengungsi dan perdagangan manusia secara terselubung masih terus mengalir ke Indonesia.

Penolakan sebagian komunitas Uni Eropa terhadap gelombang jutaan pengungi TimurTengah, terutama dari Syria, menimbulkan wacana akan adanya tujuan pengungsi terutama Syria ke Australia, Malaysia dan Indonesia. Jika wacana gelombang pengungsi Syria masuk ke Indonesia terjadi, maka akan sangat mempengaruhi perekonomian dan keamanan nasional. Lihatlah, Uni Eropa dengan ekonomi kuat saja kewalahan menangani pengungsi dan terorisme, apalagi Indonesia. Teroris sangat mudah masuk dalam gelombang pengungsi karena pengecekan yang longgar akibat rombongan pengungsi secara massal.

Semoga Kongres Diaspora Indonesia yang berlangsung hingga 4 Juli, benar-benar mampu mewujudkan tema: ‘Bersinergi Bangun Negeri’.

(Hendrikus Franz Josef MSi. PNS Pemda-DIY, International Relation Observer. Artikel ini dimuat Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat, Selasa 4 Juli 2017)

BERITA REKOMENDASI