Evolusi Status Gizi di Indonesia

Editor: Agus Sigit

HARI Gizi Nasional tahun 2022 ini menginjak Hari Gizi Nasional (HGN) ke-62. Bukan umur yang pendek tentunya. Berawal dari sejarah berdirinya Sekolah Juru Penerang Makanan pada tahun 1951, peringatan HGN bertujuan untuk memperbaiki status gizi masyarakat Indonesia dengan cara mengampanyekan slogan-slogan bertemakan gizi.

Dengan menyongsong slogan yang berbeda setiap tahunnya, tahun ini Kementrian Kesehatan RI menyemarakkan slogan “Gizi Seimbang, Keluarga Sehat, Negara Kuat”. Gizi seimbang merupakan terminologi klasik yang sudah tidak asing lagi didengar oleh masyarakat Indonesia. Namun, Indonesia saat ini masih dalam proses perjuangan dalam menurunkan angka akibat gizi yang tidak seimbang, stunting dan obesitas.

HGN tahun 2022 ini bertemakan “Aksi Bersama Cegah Stunting Obesitas”, pemerintah Indonesia mengajak seluruh masyarakat Indonesia untuk melakukan kegiatan terkait dengan tema yang diusung. Tidak hanya kalangan akademisi, seluruh instansi gizi, baik instansi gizi rumah sakit dan/atau instansi gizi masyarakat mengadakan aksi, seperti seminar, konseling gizi untuk umum, dan lain-lain. Hal ini patut kita apresiasi karena merupakan salah satu aksi mengajak masyarakat umum bersama sama untuk menangani masalah gizi di Indonesia.

Dibalik semaraknya perayaan HGN, kita perlu menyadari ada stunting dan obesitas yang krusial untuk diperhatikan. Istilah stunting sudah tidak asing lagi didengar, yaitu terminologi postur tubuh pendek pada balita sampai usia 19 tahun. Sedangkan di atas usia 19 tahun, istilah stunting berubah menjadi postur tubuh pendek.

Dilansir dari laman UNICEF yang berjudul “Improving Child Nutrition: The achievable imperative for global progress”, tahun 2010, balita stunting di Indonesia menduduki peringkat kelima setelah Cina. Sejak tahun 2007, kementrian kesehatan Indonesia melakukan sensus benama Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) yang bertujuan untuk memantau kesehatan masyarakat Indonesia. Menurut data Riskesdas 2018, angka stunting pada balita di Indonesia masih dalam angka 30.8%. Kita, masyarakat Indonesia, patut bangga karena data yang dilansir dari program Studi Status Gizi Balita Terintegrasi Susenas 2019, persentase balita stunting menurun ke angka 27.67%.

Masalah stunting di Indonesia bukanlah kondisi akut yang mulai terjadi hanya beberapa tahun ke belakang. Bagaikan evolusi tubuh manusia dalam teori Darwin, proses stunting pada balita di Indonesia juga demikian. Walaupun data terkait perubahan tinggi badan penduduk Indonesia belum tersedia, rata-rata tinggi badan penduduk usia dewasa Indonesia pada tahun 2010 masih di bawah standar WHO. Stunting di usia balita menjadi masalah tersendiri karena adanya risiko mengalami obesitas di usia dewasa. Terkait masalah stunting pada balita di Indonesia, timbullah pertanyaan darimana akar masalah stunting.

Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan dan Keperawatan Universitas Muhammadiyah Semarang Dr Ali Rosidi SKM MKes menuturkan menurut konsep UNICEF, ada dua variabel utama yg mempengaruhi stunting, yakni asupan makanan yang tidak adekuat (mencukupi) dalam waktu yang lama dan variabel penyakit infeksi.

Selain dari sisi kuantitas, kualitas asupan balita juga patut dipertimbangkan. Tidak dipungkiri, jumlah anggota keluarga yang besar mempengaruhi besar perhatian ke balita, terutama secara finansial. Tentunya, jika penghasilan keluarga dikategorikan cukup, namun beban yang ditanggung besar, kualitas status gizi anak tidak menjadi prioritas.

Masih menurut Dr Ali Rosidi, lingkungan juga turut andil memberikan kontribusi nyata terhadap tingginya prevalensi stunting antara lain paparan pestisida yang tinggi tidak sesuai aturan, paparan asap rokok dan pola lingkungan yang tidak sehat. Paparan pestisida organoposfat sudah terbukti dalam penelitian cross-sectional menjadi determinan terjadinya stunting pada balita.

Orang tua juga memegang peranan penting dalam menentukan status gizi anak. Terutama ibu, dengan dukungan suami, dapat menentukan pola perilaku terhadap janin. Ibu hamil dan anak sampai usia 23 bulan menjadi sasaran prioritas dalam program 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Dilansir dalam Laporan Kinerja Kementrian Kesehatan 2020, program 1.000 HPK terbukti efektif untuk menangani stunting jika cakupannya mencapai 90%.

Di tengah proses menangani kejadian stunting, masalah obesitas juga menjadi perhatian. Obesitas merupakan kondisi gemuk yang biasanya dilihat dari nilai proporsi berat badan terhadap tinggi badan atau disebut Indeks Massa Tubuh (IMT). Melihat data RISKESDAS (2018), prevalensi obesitas pada orang dewasa menjadi dua kali lipat dalam kurun waktu satu dekade (2017-2018). Karena prevalensi obesitas secara global semakin meningkat, obesitas disebut juga sebagai penyakit.

Obesitas menyerang tidak memandang bulu, terjadi pada semua kalangan, dari kalangan atas sampai bawah. Cukup memprihatinkan, status gizi stunting pada balita berisiko mengalami obesitas. Kondisi stunting dalam periode balita dan anak-anak dapat berdampak pada postur tubuh pendek di usia dewasa. Sehingga, dengan didukung faktor lingkungan, seperti ketersediaan makanan berlimpah, makanan tinggi gula, tinggi natrium, dan rendahnya aktifitas fisik, obesitas dapat dengan mudah menyerang individu dengan perawakan pendek.

Data yang dikeluarkan oleh artikel berjudul “Short stature and obesity: positive association in adults but inverse association in children and adolescents” mengatakan postur tubuh pendek mengalami tingkat risiko menjadi obesitas sebesar 1.1-1.9 kali lipat lebih besar dibandingkan postur tubuh tinggi.

Rupanya status gizi masyarakat Indonesia mulai mengalami evolusi. Seperti halnya teori evolusi pada umumnya, fenomena ini terjadi tanpa disadari oleh kita. Tentu saja, kondisi obesitas tidak hanya merugikan pribadi, tetapi juga menjadi beban negara karena dapat menurunkan produktifitas populasi. Sehingga, mengatasi masalah stunting dan obesitas merupakan tugas kita bersama, dari berbagai aspek, dan kerjasama antar pemerintah dan masyarakat.*

 


Luthfia Dewi
– Dosen Ilmu Gizi Universitas Muhammadiyah Semarang
– Mahasiswa Program Doktoral Sports Science, University of Taipei.

 

BERITA REKOMENDASI