FDS, Bukan Solusi Orangtua Sibuk

Editor: Ivan Aditya

INDONESIA boleh bangga dengan kondisi penduduk yang semakin sejahtera. Banyaknya pengusaha lahir dari program ekonomi kreatif di Indonesia terbukti mampu menurunkan angka pengangguran. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan jumlah pengangguran terbuka di Indonesia tahun 2015 mencapai 7.240.897 jiwa jumlah ini turun menjadi 7.024.172 jiwa pada tahun 2016. Tidak hanya jumlah pengangguran berkurang, jumlah masyarakat miskin di Indonesia juga berkurang. Data BPS jumlah penduduk miskin di Indonesia Maret 2011 sebesar 30,02 juta jiwa jumlah tersebut menurun pada September 2015 sebesar 28,51 juta jiwa.

Terbukanya kesempatan bagi setiap orang mengaktualisasikan diri di dunia kerja membuat individu yang bekerja khususnya orangtua yang memiliki anak harus mampu membagi waktu antara pekerjaan-keluarga. Mengingat pendidikan yang mampu membentuk karakter terbaik bagi anak dimulai dari keluarga inti (ayah, ibu, anak). Orangtua memiliki tanggung jawab pengasuhan kepada anak yang tidak dapat diwakilkan.

Peranan Penting

Menurut Andriyani (2010) keluarga mempunyai peranan penting dalam pendidikan anak. Peranan itu dapat dilakukan orangtua secara langsung kepada anak dengan mendampingi serta membimbing anak belajar. Selain itu juga dapat dilakukan dengan cara tidak berinteraksi secara langsung dengan anak, yaitu menyediakan fasilitas-fasilitas mendukung pendidikan anak, penyediaan sarana-prasarana, pemilihan pendidikan, menanyakan nilai rapor, pemberian kasih sayang, serta mendorong anak melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi. Bagi anak, keluarga merupakan tempat pertama dan utama bagi pertumbuhan dan perkembangannya.

Resolusi Majelis Umum PBB (dalam Megawangi, 2003) menjelaskan fungsi utama keluarga sebagai wahana mendidik, mengasuh, dan menyosialisasikan anak, mengembangkan kemampuan seluruh anggotanya agar dapat menjalankan fungsinya di masyarakat dengan baik, serta memberikan kepuasan dan lingkungan yang sehat guna tercapainya keluarga sejahtera. Bennett (2002) menyatakan keluarga merupakan tempat paling awal dan efektif untuk menjalankan fungsi departemen kesehatan, pendidikan, dan kesejahteraan. Apabila keluarga gagal mengajarkan kejujuran, semangat, keinginan menjadi yang terbaik, dan kemampuan-kemampuan dasar, maka akan sulit bagi institusi-institusi lain memperbaiki kegagalan-kegagalannya.

Namun ada saja orangtua merasa tidak mampu membagi waktu antara pekerjaankeluarga, hal ini membuat peranan orangtua pada pendidikan anak di rumah menjadi sangat terbatas. Sehingga tanggung jawab pendidikan akan dialihkan kepada pengasuh/asisten rumah tangga, keluarga di luar keluarga inti (kakek, nenek atau saudara). Dan tidak sedikit orangtua yang mempercayakan kepada sekolah khususnya sekolah full day untuk mendidik anak, bahkan sejak usia dini. Saat ini hampir semua sekolah memiliki program full day school (FDS). Program FDS membuat anak berada di sekolah seharian dari pukul 07.00-16.00. Kegiatannya beragam mulai dari belajar, bermain, makan siang, tidur siang, hingga mandi sore di sekolah.

Tahun ajaran baru ini, banyak sekolah menawarkan keunggulan kurikulum yang menjanjikan mampu mencetak anak-anak menjadi anak yang terbaik. FDS bukanlah program yang murah. Rata-rata untuk masuk sekolah pada tingkat playgroup dan TK orangtua harus mengeluarkan dana hingga belasan juta, ditambah SPP yang mencapai jutaan perbulannya. Apakah biaya mahal menjamin keberhasilan pendidikan anak? Apakah output yang dijanjikan sekolah dapat tercapai bila orangtua hanya mengandalkan pihak sekolah untuk mendidik anak?

Pribadi Unik

Dalam ilmu psikologi manusia merupakan pribadi yang unik dimana masing-masing memiliki kekhasannya sendiri. Terutama anakanak yang berada pada usia dini tidak semua cara-cara baku yang diterapkan sekolah mampu membentuk perilaku yang sama pada semua anak. Setiap anak memiliki proses penerimaan yang berbeda dan hal ini tidak dapat dilepaskan dari peranan penting keluarga (ayah dan ibu) untuk selalu melakukan pendampingan.

Negara boleh maju, sejahtera, terbebas dari kemiskinan. Tetapi jangan sampai generasi penerus bangsa ini tidak merasakan pendidikan dalam keluarga melalui nilai-nilai yang ditanamkan orangtua kepada anak. Bukankah generasi saat ini di bentuk oleh generasi sebelumnya? Sebaik, semahal, sekomprehensif apapun program sekolah yang ditawarkan untuk mendidik anak, orangtua tetap harus melakukan pendampingan dan berperan aktif mendidik anak karena pendidikan terbaik dimulai dari lingkungan keluarga.

(Nidya Dudija SPsi MA. Kandidat Doktor Ilmu Psikologi, Universitas Gadjah Mada/Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Telkom, Bandung. Artikel ini dimuat Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat, Rabu 14 Juni 2017)

BERITA REKOMENDASI