Festival Indonesia

Editor: Ivan Aditya

BERITA tentang Festival Indonesia yang digelar di Kota Moskow Rusia (KR, 21/8 dan 23/8) sangat menarik. Sisi kemenarikan itu terletak dari faktor diplomasi kebahasaan dan kebudayaan Indonesia. Melalui festival tersebut, diharapkan orang Rusia dapat mengerti bahasa dan budaya Indonesia. Pertanyaannya kini, mengapa kita perlu mengapresiasi sekaligus mengembangkan acara semacam Festival Indonesia di luar negeri pada masa-masa mendatang?

Diplomasi kebahasaan dan kebudayaan Indonesia menjadi salah satu fokus kerja dari pemerintahan Jokowi-JK. Hal itu setidaknya terlihat dari dibentuknya pos baru bernama Pusat Pengembangan Strategi dan Diplomasi Kebahasaan (PPSDK) di bawah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). Adalah Prof Emi Emilia PhD, pakar linguistik bahasa Inggris UPI, yang kini menjabat sebagai Kepala PPSDK.

Melalui PPSDK, pemerintahan Jokowi-JK dapat mewujudkan diplomasi kebahasaan dan kebudayaan Indonesia di luar negeri. Salah satu usaha yang ditempuh PPSDK ialah dengan mengirimkan dosen-dosen Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) ke luar negeri. Sebagai seorang pengajar BIPA, penulis sangat mengapresiasi usaha dari PPSDK. Pasalnya, melalui BIPA diplomasi kebudayaan Indonesia juga ikut terwujud.

Selama ini, jujur diakui, diplomasi kebahasaan dan kebudayaan Indonesia di luar negeri kurang diperhatikan oleh banyak pihak, terutama pemerintah. Meski pemerintah dalam hal ini Kemendikbud, telah memiliki program pemberian Beasiswa Darmasiswa bagi mahasiswa asing tiap tahun. Namun hal itu dinilai belum berdampak signifikan bagi kemajuan diplomasi kebahasaan dan kebudayaan Indonesia di luar negeri.

Usaha PPSDK dan diikuti oleh Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristek Dikti) melalui Program SAME saya nilai memiliki dampak signifikan bagi kemajuan diplomasi kebahasaan dan kebudayaan Indonesia di luar negeri. Melalui pengiriman dosen-dosen BIPA ke luar negeri, baik oleh PPSDK maupun Kemenristek Dikti, mahasiswa asing dapat memiliki kesempatan untuk belajar bahasa dan budaya Indonesia.

Sekadar contoh, penulis pernah menjadi dosen tamu di Jurusan Bahasa Indonesia, Fakultas Kajian Bahasa dan Budaya Asia Tenggara, Universitas Kebangsaan Guangxi (GXUN), Tiongkok. Di Negeri Tirai Bambu itu, selain mengajarkan bahasa Indonesia kepada mahasiswa Tiongkok, saya juga mengajarkan kebudayaan Indonesia. Meliputi agama dan kepercayaan, pakaian adat, sejarah, dan masakan khas suku bangsa Indonesia.

Selain itu, saya bersama rekan-rekan asal Indonesia mengadakan acara Warna-warni Budaya Indonesia, mirip dengan Festival Indonesia di Kota Moskow, Rusia, beberapa hari lalu. Melalui acara Warna-warni Budaya Indonesia itu, kami memperkenalkan pencak silat, karya sastra Indonesia, lagu tradisional, pakaian tradisional, dan masakan tradisional. Di luar prediksi kami, ternyata mahasiswa Tiongkok sangat mengapresiasi acara tersebut.

Dari pengalaman di atas, kiranya penulis simpulkan bahwa mengajarkan bahasa dan budaya Indonesia harus terintegrasi, terikat satu sama lainnya. Bahasa Indonesia merupakan bagian integral dari budaya Indonesia yang beragam. Oleh karena itu, sebaiknya para pengajar BIPA yang dikirimkan ke luar negeri memiliki pengetahuan luas tentang kebudayaan Indonesia. Juga, yang tak kalah penting, sikap positif dan apresiatif terhadap kebudayaan Indonesia.

Sebagai catatan penutup, saya sampaikan dua hal. Pertama, pemerintah, melalui Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) dan/atau Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) perlu secara periodik menggelar acara sejenis Festival Indonesia di wilayah kerjanya. Festival tersebut bertujuan guna memperkenalkan bahasa dan budaya Indonesia bagi orang asing. Kelak, dari festival itu akan muncul minat mereka untuk datang ke Indonesia.

Kedua, pemerintah juga perlu melibatkan Perguruan Tinggi (PT) yang telah memiliki kerja sama dengan universitas di luar negeri, terutama di bidang bahasa dan budaya Indonesia. Melalui pihak PT, acara semacam Festival Indonesia dapat lebih meriah dan bermanfaat bagi generasi muda asing yang sedang belajar bahasa dan budaya Indonesia. Bukan tidak mungkin, di antara mereka akan menjadi ahli Indonesia seperti halnya para Indonesianis terkemuka saat ini.

(Sudaryanto MPd. Dosen Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP UAD Yogyakarta. Artikel ini dimuat Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat, Sabtu 27 Agustus 2016)

BERITA REKOMENDASI