Gaduh di Ranah Persepsi

Dr Ade Tuti Turistiati MIRHRM
Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Amikom Purwokerto

SETELAH persepsi ’mudik’ dan ’pulang kampung’mereda diperbincangkan hadir topik ‘nasi anjing’. Masyarakat khususnya mereka yang tinggal di Jakarta ramai mempersoalkan makanan atau tepatnya pembungkus makanan dengan simbol anjing. Media mainstream maupun mayoritas warganet keberatan dengan logo dan tulisan ’nasi anjing’.

Anjing bagi umat Muslim adalah salah satu binatang yang diharamkan untuk dimakan. Sehingga, logo anjing dengan tulisan ‘nasi anjing’ sebagai pembungkus makanan identik dengan makanan tidak halal. Sebagian sontak menyangka bahwa isinya mengandung daging anjing.

Istilah ‘nasi anjing’ tidak lazim. Lain dengan ‘nasi kucing’. Masyarakat sudah tahu bahwa isinya bukan nasi plus daging kucing. Istilah ‘nasi kucing’ maknanya telah banyak diketahui oleh masyarakat sebagai nasi dan lauk pauk yang porsinya sedikit.

Salah persepsi akan makna ‘nasi anjing’ itu pun tidak bisa dihindari. Tanpa menunggu klarifikasi, warganet gaduh. Setelah dilakukan penelitian ke Yayasan Qahal pemberi ‘nasi anjing’, akhirnya Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya pun mengumumkan bahwa nasi yang diberikan kepada warga Tanjung Priok itu berisi makanan halal.

Isi makanan di dalamnya terdiri cumi, ikan teri dan bahan-bahan halal lainnya. Bahkan anggota Yayasan Qahal sendiri tidak hanya beragama Kristen dan Budha tetapi juga Islam. Istilah dipakai karena porsi lebih besar daripada ’nasi kucing’.

Peristiwa salah persepsi bisa terjadi kapan saja, dimana saja dan dalam beragam konteks. Yang pasti, persepsi selalu benar menurut orang yang mempersepsikannya. Menurut pakar komunikasi Prof Deddy Mulyana, persepsi suatu proses internal yang memungkinkan kita memilih, mengorganisasikan, dan menafsirkan rangsangan dari lingkungan kita, dan proses tersebut memengaruhi perilaku kita. Persepsilah yang menentukan kita memilih suatu pesan dan mengabaikan pesan lain.

Kesadaran Budaya

Di dalam masyarakat multikultur seperti Indonesia, kesadaran budaya sangat penting dan diperlukan. Kesadaran budaya adalah kemampuan individu untuk melihat dan memahami budayanya dan budaya orang lain. Yang dianggap lazim dalam budaya seseorang belum tentu dapat diterima oleh orang lain. Maka perlu untuk memahami perbedaan budaya.

Budaya dalam hal ini tidak hanya dimaknai sebagai tradisi atau kebiasaan tetapi juga pola pikir dan nilai-nilai yang dianut masyarakat. Wajar, masyarakat Indonesia yang mayoritas muslim terusik dengan istilah ‘nasi anjing’. Pertama, istilah tersebut belum populer dan diterima oleh masyarakat.

Artinya, bagi pembuat istilah, hadirnya istilah baru perlu disosialisasikan makna yang disematkan. Makna itu pun merupakan hasil kesepakatan. Jika tidak ada kesepakatan karena misalnya menyinggung SARA, lebih baik istilah tersebut diganti atau tidak digunakan.

Kedua, di tengah kondisi masyarakat yang mulai banyak kekurangan pangan, kita harus lebih peka ’memperkenalkan’ istilah baru yang berpotensi besar menimbulkan polemik. Terlebih, jika hal tersebut berkaitan dengan kebutuhan vital seperti makanan.

Ketiga, warganet diharapkan tidak ikut memperkeruh suasana dengan tuduhan-tuduhan yang belum tahu kebenarannya kemudian menyebarluaskannya di media sosial. Keempat, klarifikasi dari pihak terkait dan yang berwenang seharusnya bisa dilakukan sesegera mungkin sehingga ‘kegaduhan’ dapat segera diredam.

Kita perlu lebih peka terhadap perbedaan budaya, apalagi dalam situasi seperti sekarang. Jika terjadi perbedaan persepsi, ada baiknya meminjam katakata bijak penulis buku Shannon L Alder: ”Most misunderstandings in the world could be avoided if people would simply take the time to ask, “What else could this mean?” (“Kebanyakan kesalahpahaman di dunia dapat dihindari jika orang meluangkan waktu sebentar saja untuk bertanya.” Apa lagi ini maksudnya? “). (Artikel ini terbit di Opini KR, Selasa 12 Mei 2020)

BERITA REKOMENDASI