Ganjalan Hillary

Editor: Ivan Aditya

BREITBART News telah membocorkan dokumen rahasia terkait keterlibatan Hillary Clinton dalam Arab Spring di Timur Tengah (KR/26/9). Informasi ini tentu akan menjadi berita yang sangat penting dalam konteks pertarungan politik antara Hillary Clinton dan Donald Trump. Dalam beberapa national presidential polls yang dilakukan sampai 19 September menunjukkan bahwa persaingan antara Hillary dan Trump sangat ketat. Beberapa jajak pendapat seperti Fox News dan NBC News mempublikasikan hasil yang berdekatakan antara Hillary dan Trump.

Misalnya hasil jajak pendapat yang dirilis Fox News menyebutkan bahwa Trump mendapatkan suara 46% dan Hillary 45%. Sementara hasil NBC News menunjukkan Hillary mendapatkan suara 50% dan Trump 45%. Kedua hasil jajak pendapat sementara ini mengindikasikan bahwa keduanya saling berebut posisi teratas dalam pertarungan kursi Kepresidenan AS pada tahun ini.

Persaingan antara kedua kandidat akan sangat sengit dengan munculnya kasus keterlibatan Hillary dalam menciptakan konflik di Timur Tengah. Bahkan dalam hal ini, Hillary yang pada saat itu menjabat sebagai Menteri Luar Negeri AS dianggap telah mendanai pelatihan terhadap Ikhwanul Muslimin. Program pelatihan yang memfokuskan pada kelompok radikal tersebut bersandikan Aliansi Gerakan Pemuda (The Alliance for Youth Movements).

Aliansi Gerakan Pemuda ini kemudian dilatih untuk menggunakan media sosial untuk mengekspresikan kegiatan mereka untuk melawan Pemerintah Mesir. Pada tahap berikutnya aliansi ini bermetamorfosis menjadi movements.org pada 2011. Akhirnya mampu mengantarkan keberhasilan Ikhwanul Muslimin dalam menumbangkan rezim Mubarak pada 2011. Bersama penasihatnya, Jared Cohen, ternyata juga membentuk program yang sama di Mexico City pada 2009 untuk membuat perubahan politik di Meksiko.

Tidak hanya itu, Hillary juga dituduh sebagai pihak yang menciptakan kemunculan the Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) ketika menjabat sebagi Menlu AS pada 2009. Tuduhan lain yang diarahkan kepadanya juga mendukung pendanaan ISIS di Suriah lewat lembaga Clinton Global Initiative. Keterlibatan istri mantan Presiden Clinton dalam menciptakan konflik di Timur Tengah ini tentu akan menjadi batu sandungan bagi Hillary dalam debat-debat calon presiden.

Sementara di sisi lain, tidak hanya Hillary yang memiliki cacat di Timur Tengah. Donald Trump juga memiliki cacat yang sama. Trump merupakan sosok yang bisa dikatakan kurang bersahabat dengan dunia Islam. Hal ini nampak dari pernyataanya terkait pelarangan orang Islam masuk ke AS. Akibat dari pernyataannya tersebut akhirnya banyak spanduk terkait dengan bisnisnya di Timur Tengah banyak yang diturunkan. Tidak hanya itu Trump juga dikecam banyak pihak baik dari dalam maupun luar AS.

Debat perdana yang dimoderatori Lester Holt, jurnalis senior dan presenter acara NBC Nightly News, pada 26 September lalu telah menjadi ajang uji coba bagi keduanya untuk saling menjajaki satu dengan yang lainnya. Pada sesi debat berikutnya yang akan digelar pada 9 dan 19 Oktober tentu akan sangat ditunggu-tunggu publik AS terkait siapa yang layak menjadi Pemimpin AS ke depan.

Tentu dalam hal ini baik Hillary Clinton maupun Donald Trump akan terus melakukan pembenahan strategi politik untuk menarik simpati rakyat AS. Persoalan terkait Timur Tengah dan dunia Islam tentu akan menjadi pertimbangan tersendiri bagi rakyat AS untuk memilih satu di antara dua kandidat yang maju saat ini. Keterlibatan Hillary dalam Arab Spring dan tidak simpatinya Trump terhadap umat Islam tentu akan mempengaruhi elektabilitas keduanya dalam polling-polling yang akan datang.

Berpijak dari analisa di atas, bisa disimpulkan bahwa dua debat calon presiden yang tersisa akan digunakan sebaik-baiknya oleh keduanya. Siapa pun Presiden AS yang akan datang, harapan yang dimunculkan adalah presiden yang tidak hanya bisa memberikan kemajuan bagi AS tetapi juga bisa berkontribusi bagi perdamaian di Timur Tengah

(Fatkurrohman SIP MSi. Akademisi UGM, peneliti di Pusat Studi Sosial Asia Tenggara/PSSAT. Artikel ini dimuat Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat, Kamis 29 September 2016)

BERITA REKOMENDASI