Gerakan Literasi Digital

Editor: Ivan Aditya

BUKAN kebetulan jika Gerakan Nasional Literasi Digital Siberkreasi yang diprakarsai Kemenkominfo RI terkait dengan Yogya. Ketua nasionalnya, Dr Dedi Permadi adalah putra asli Susukan Gunungkidul. Sebelum gerakan itu diluncurkan di Jakarta (28 Oktober 2017), didahului pengkaryaan Batik Siberkreasi yang dicanting pertama oleh GKBRAy APaku Alam dan Menkominfo RI Rudiantara dalam event Batik to the Moon di Jogja Expo Center (26 Oktober 2017).

Yogya dengan keistimewaannya telah memberi energi moral-kultural bagi gerakan yang disetting sebagai wujud perlawanan serius terhadap bentuk-bentuk penyimpangan digital. Hoax, ujaran kebencian, cyber bullying, cyber radicalism, dan kejahatan-kejahatan digital semakin mewabah. Penyebaran hoax yang kian merajalela berpotensi menyebabkan disintegrasi bangsa (KR, 7/3).

Literasi Digital

Mengacu konsep UNESCO, literasi digital adalah kemampuan untuk menggunakan teknologi informasi, menemukan, mengevaluasi, memanfaatkan, membuat dan mengkomunikasikan konten informasi digital dengan kecakapan kognitif, etika, sosial emosional, dan teknologis. Gerakan literasi digital mencakup gerakan (1) proteksi digital, yaitu mengupayakan perlindungan data pribadi, keamanan dering, dan privasi individu, (2) perjuangan hakhak digital, yaitu hak kebebasan berekspresi, kekayaan intelektual, dan aktivasi sosial. (3) pemberdayaan jurnalisme warga serta kewirausahaan. Adapun salah satu tujuan utama gerakan nasional literasi digital adalah meningkatkan penyebaran konten-konten positif oleh masyarakat sipil, pemerintah, dan media.

Media sosial yang pada awalnya berkontribusi positif membangun intensitas interaksi sosial ternyata belakangan mengalami degenerasi. Medsos bahkan menjadi alat penyebaran konten-konten politis yang destruktif. Menurut peneliti LIPI Wasisto Jati, medsos telah merosot menjadi alat eksklusi sosial yang hegemonik baik di dunia maya maupun dunia nyata. Medsos dimanfaatkan untuk mengelola isu politis dengan mensugesti kaum radikalis.

Di ranah moral, medsos cenderung semakin tidak beradab. Agus Sudiryo menggambarkan medsos sebagai tidak bernurani. Dunia medsos telah menjadi aib sosial yang menjadi apa yang seperti dikhawatirkan Hannah Arendt, yaitu interaksi dan komunikasi yang tidak mawas diri sebelum berucap dan bertindak. Apalagi ketika media berbasis internet memungkinkan komunikator menyembunyikan jati dirinya. Apa yang diteorikan George Simmel terbukti, yaitu di mana ada anonimitas di situ muncul iresponsibilitas. Dan faktanya semakin mengerikan, medsos sarat ujaran kebencian dan sumpah serapah.

Lantas apa kontribusi Keistimewaan DIY bagi gerakan nasional literasi digital? Jika salah satu fokus dari gerakan itu adalah upaya memproduksi dan mendistribusi konten positif maka budaya Yogya merupakan sumber daya pesan positif yang terbarukan. Yogya adalah mata air peradaban yang kaya akan nilai-nilai positif. Yang diperlukan adalah menggali, mengolah, dan mengemas pesan-pesan budaya Yogya menjadi konten-konten digital.

UUK 2012 menandaskan bahwa salah satu tujuan Keistimewaan DIY adalah untuk “melembagakan peran dan tanggung jawab Kasultanan dan Kadipaten dalam menjaga dan mengembangkan budaya Yogyakarta yang merupakan warisan budaya bangsa”. Artinya budaya Yogya diidentifikasi sebagai warisan budaya bangsa. DIY dalam hal ini Kraton dituntut untuk mengembangkan warisan adiluhung itu. Dalam konteks gerakan literasi digital, warisan budaya bangsa itu merupakan tambang bahan mentah konten positif.

Kompetensi

Adapun pembuatan kontenkonten positif digital itu sendiri butuh kompetensi dan kreativitas. Dalam konteks profesional, pengkaryaan media digital merupakan proses kreatif berkadar seni dan berbayar mahal. Adapun teknologi IT masa kini memungkinkan semua warga bisa beraktivitas jurnalistik dan berkarya konten digital. Gerakan pengkaryaan konten positif semestinya memberdayakan kaum profesional dan seluruh warganet untuk berkarya.

Penggenjotan produksi konten positif, dengan demikian, membutuhkan bantuan pembinaan, dukungan moral, hingga sokongan dana. Logis jika sebagian Dana Keistimewaan (Danais) dialokasikan untuk memacu masyarakat agar giat memproduksi konten positif berbasis budaya adiluhung Yogya. Sejauh ini topangan Danais untuk memajukan karya dan kegiatan seni budaya Yogya cukup signifikan.

Saatnya sekarang karya dan kegiatan seni budaya Yogya dikembangkan dengan berbasis digital, diarahkan untuk memberi energi bagi upaya literasi digital. Dalam kondisi Indonesia darurat digital, Yogya harus mengambil peran sebagai benteng budaya. Gerakan nasional literasi digital adalah peluang bagi Yogya untuk menyelamatkan peradaban digital Indonesia bahkan dunia.

(Dr Haryadi Baskoro. Pakar Keistimewaan Yogya. Artikel ini dimuat Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat, Jumat 9 Maret 2018)

BERITA REKOMENDASI