Gus Fuad Luncurkan “Suluk Walisanga”

Editor: Ary B Prass

LAGU karya Gus Fuad kali ini, Suluk Walisanga, bisa menjadi kurikulum yang efektif untuk belajar memahami makna-makna spiritual yang begitu dalam, semacam tasawuf melalui bunyi-kata yang aktual direnungi selama-lamanya.

Meskipun judul lagu ini terikat dimensi ke-Islam-an, namun makna lagu (liriknya), relevan untuk siapa saja, terutama kita yang tengah belajar membuktikan cinta kasih kepada seluruh ciptaan Tuhan (welas tresna marang sapada-pada), belajar menjaga hati, menjauhkan yang buruk (nyingkiri hangkara njaga sucine hatma) dengan semata mengikuti kehendak Allah hingga (mampu) bersatu dengan-Nya (Hingsun tansah hanyartani; hingsun-sira hanyawiji).

Kata “rasa”, yang disebut tiga kali di dalam lagu ini, menjadi bekal utama untuk mengamalkan seluruh pelajaran itu. Pada bait pertama baris kedua:
“Sejatine rasa tan kena kinira-nira”
(Sejatinya rasa tidak pernah bisa diduga-duga)
Pada bait kedua baris pertama:
“Hing dina Alastu rasa sukma prasetya”
(Di Hari Alastu, rasa sukma berjanji)
Pada bait kedua baris ketiga:
“Rasa kang Maha Hakarya”
(Rasa yang Maha Karya, Kebenaran Illahi)
Mengapa kata “rasa” sedemikian penting untuk selalu dimunculkan? Besar kemungkinan,itulah yang terdalam. Rasa melampaui batas logika, rasa adalah sebuah ruang-aksi multi-indera, multi-parameter. Rasa terikat situasi yang tak terduga; rasa terikat dengan keteguhan atas janji, dan rasa juga terikat dengan kebenaran yang datang dari Allah.

Di dalam pengalaman hidup sehari-hari, rasa selalu menguji toleransi—seberapa jauh rasa di dalam diri kita berperan secara naluriah dan jujur tanpa beban-beban konseptual dan hukum-hukum di dalam agama. Misalnya kita mau menolong adalah bukan karena kita memiliki motif tertentu, namun karena hati kita (rasa kita), memang tergerak.

BERITA REKOMENDASI