Gus Fuad Luncurkan “Suluk Walisanga”

Editor: Ary B Prass

Selanjutnya: Apakah kita juga mampu menangkap apa yang Allah rasakan? Tentu saja dalam konteks tersebut, rasa adalah kebenaran. Itu pertanyaan besar yang bisa dijawab dengan banyak ilmu.

Lagu ini menarik dalam setiap baris liriknya, dan itu pun sudah dimulai sejak baris pertama. Baris pertama lagu ini sudah menegaskan satu makna simbolik yang begitu luas interpretasinya, di mana kita ditantang untuk mempertanyakan peran kita bagi terciptanya harmonisasi kehidupan demi mewujudkan keindahan dunia (memayu hayuning bawana).

Apakah kita sebagai manusia—terlebih manusia yang merasa beriman—sudah mempertanyakan dan membuktikan peran kita demi mendukung terciptanya harmonisasi yang berpotensi memunculkan keindahan?

Para sufi besar, pujangga termasyur, antara lain Al-Ghazali, Jalaluddin Rumi, Hazrat Inayat Khan, Rabrindanath Tagore, telah berulang kali membicarakan hubungan antara musik dan harmonisasi kehidupan. Mereka menempatkan musik dalam bejana yang sangat khusus: spiritual, sufisme. Tentu saja karya-karya pemikiran mereka sangat nyambung dengan makna lagu Suluk Walisanga ini.

Misalnya ada istilah menarik dari Hazrat Inayat Khan, yaitu “mistisisme bunyi”, bahwa bunyi  mampu menghantarkan manusia kepada hal-hal yang sulit dimengerti akal, namun bisa berdampak langsung kepada psikologis (kembali kepada “rasa” tadi). Mendengar lagu atau musik, dengan demikian, adalah sebuah hayatan. Hayatan akan berkaitan dengan fungsi nyata
lagu bagi hidup manusia (personal). Fungsi personal tersebut akan berkaitan pula dengan fungsi sosial (amalan) yang kemudian menyertainya. Kita punya hak di dalam hidup, belajar kepada yang ghaib, maupun kepada yang verbal (dzahir-bathin, kasat-tak kasat).

BERITA REKOMENDASI