Gus Fuad Luncurkan “Suluk Walisanga”

Editor: Ary B Prass

Dari lagu Suluk Walisanga ini, kita seperti ditarik-tarik untuk mendengar musik bukan hanya sebagai hiburan yang menenangkan batin, namun juga mengasah logika untuk sungguh-sungguh memaknai dan mengamalkannya dalam laku kehidupan. Olahan musik di dalam lagu ini juga terasa sederhana namun teduh, didukung adanya paduan suara pada bagian interlude yang menambah khusyu’ suasana.

Begitulah asyiknya “bermain-main dengan musik” untuk memunculkan makna-makna lain yang tersembunyi namun bisa dibongkar (kontekstualisasinya). Tak hanya manusia yang “menempuh” perjalanan panjang agar mendapatkan ridho Allah, musik pun juga menempuh  perjalanan panjang di tengah alam pikiran manusia, maka muncul persepsi, hingga hukum-hukum dan teori-teori.

Begitu banyak filsuf sejak masa Yunani Kuno hingga Modern, turut membicarakan musik dalam berbagai konteks. Plato mengaitkan musik dengan moralitas; Phytagoras menguji lebih serius hubungan musik dengan matematika (maka lahirlah hukum tala); Aristoteles juga telah berbicara tentang musik dan makna keindahan yang hidup di alam batin manusia (psikologi, estetika); Thomas Aquinas menganggap bahwa penciptaan seni (tak terkecuali musik) berhubungan dengan teologi, para kreator bisa berkarya dengan mengambil tema-tema pokok yang berkaitan
dengan religiositas untuk semakin memahami dimensi Ketuhanan. Theodor W. Adorno di zaman modern awal abad ke-20, mengaitkan musik dengan kesetaraan peran dan tanggung jawab di lingkup sosial, dan seterusnya.

Melalui Gus Fuad, yang secara konsisten dan jujur terus berkarya mengekspresikan laku-janji pada Allah melalui lagu, kita bisa ikut belajar terus-menerus. Saya pribadi bersyukur, selalu diingatkan untuk hal-hal baik yang menentramkan jiwa jiwa melalui karya-karya beliau. (Erie Setiawan)

BERITA REKOMENDASI