Haji

Editor: Ivan Aditya

DALAM kajian dakwah, pembicaraan tentang kebaikan (amar ma'ruf) selalu beriringan dengan pencegahan kejahatan (nahi munkar). Karena sangat logis, usaha mengajak pada kebaikan harus diiringi dengan pencegahan kejahatan agar terwujud pesan yang utuh.

Demikian pula halnya dengan ibadah haji sebagai bagian dari perbuatan baik karena ada tanggung jawab moral dalam predikat haji tersebut. Sejatinya dengan predikat haji terkandung makna kesalehan sebagai teladan moral di tengah masyarakat. Maka langkah berikutnya dari ibadah haji tersebut ada pula tanggung jawab untuk bisa menjauhkan diri dari perbuatan tercela seperti tindakan korupsi.

Sangat kontras manakala semakin banyak orang berpredikat haji semakin banyak pula praktik korupsi. Bahkan yang paling menyedihkan, di negeri ini justru terjadi praktik korupsi dalam penyelenggaraan ibadah haji. Fakta menunjukkan bahwa sudah ada dua Menteri Agama yang berurusan dengan KPK karena persoalan dana haji.

Jumlah jemaah haji Indonesia yang terus meningkat dari tahun ke tahun seyogyanya bisa memperkuat teladan moralitas di tengah masyarakat. Apalagi setiap jemaah haji berharap agar menjadi haji yang mabrur, yaitu haji yang memiliki peningkatan kualitas iman. Ucapan dan tindakan mereka yang sudah menyandang predikat haji seharusnya lebih baik dibanding sebelum menyandang predikat haji. Kalau pejabat negara di Tanah Air semakin banyak yang berpredikat haji, tentu diharapkan mereka bisa menjadi teladan moral. Mereka diharapkan bisa jujur dalam menjalankan tugas, sehingga tidak tergoda lagi untuk melakukan korupsi.

Namun sekali lagi potret yang aneh di Tanah Air, walaupun semakin banyak masyarakat dan pejabat yang berpredikat haji, justru praktik korupsi pun semakin merajalela di semua lini. Lalu apa sesungguhnya yang salah dalam ibadah haji, apakah haji hanya dimaknai sekadar perjalanan wisata, atau benar-benar sebagai ibadah untuk memperkuat iman?

Ibadah haji mengandung dimensi pengorbanan yang luar biasa, baik pengorbanan materiil maupun spirituil. Haji tidak hanya dilakukan yang kaya raya, namun juga dilakukan rakyat jelata melalui pengorbanan luar biasa. Baru saja 177 WNI dipulangkan dari Filipina karena akan berangkat haji dari negeri tetangga. Hal ini terjadi karena demikian panjang antrean melaksanakan ibadah haji dari negeri ini. Dari ratusan ribu jemaah haji Indonesia, banyak di antara mereka dari kalangan rakyat biasa, mengumpulkan biaya haji dari rupiah demi rupiah. Bahkan ada di antaranya yang dari petani, penjual sayur, hingga menjual tanah dan ternak, demi untuk mendapatkan biaya dan predikat haji. Pengorbanan yang luar biasa dalam menunaikan ibadah haji hendaknya bisa menjadi kekuatan moral untuk memperbaiki diri untuk bisa menjadi teladan moral di tengah masyarakat.

Kalau dinilai secara jujur, betapa banyak orang yang berhaji hanya sekadar menghabiskan uang puluhan juta dan bahkan ratusan juta rupiah. Betapa banyak orang yang berhaji hanya sekadar wisata dan ingin mendapatkan status sosial, predikat haji. Padahal seyogyanya ibadah haji diiringi dengan peningkatan kualitas iman. Hal ini bisa diwujudkan dengan meningkatkan ibadah, baik yang berhubungan dengan Tuhan (hablumminallah) maupun yang berhubungan dengan sesama manusia (hablumminannas). Kualitas haji sesungguhnya akan kelihatan manakala peningkatan ibadah haji ini diaktualisasikan dengan memiliki rasa sosial yang tinggi dan membuang jauh rasa egoisme dan individualisme yang berlebihan.

Kalau pejabat di Tanah Air semakin banyak yang berpredikat haji tentu akan membawa suasana yang positif dalam penyelenggaraan negara dengan tumbuhnya iklim kejujuran. Ketika para pejabat di negara ini bisa jujur dalam ucapan dan tindakan tentu tidak akan terjadi lagi praktik korupsi. Dengan demikian haji sungguh sangat luar biasa efeknya dalam penguatan spiritualitas berbangsa dan bernegara.

(Hamdan Dauly .Dosen UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Artikel ini tertulis di Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat, Rabu 24 Agustus 2016)

BERITA REKOMENDASI