Halal BI Halal ?

Halal BI Halal ?

Oleh : Mamdukh Budiman

Dosen Bahasa Arab dan Peradaban Islam Fakultas Bahasa dan Budaya Asing (FBBA) Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus)

 

KEGIATAN Halal Bi Halal (HBL) atau syawalan masih menjadi pro kontra meski banyak pro-nya. Ada sementara dari kalangan yang menentang kegiatan ini apabila isinya adalah kegiatan saling memaafkan, dengan alasan bahwa mengkhususkan maaf hanya pada Hari Raya Eid Mubarak atau Idul Fitri itu tidak dibenarkan secara syariat (bid’ah).

Terlepas dari itu semuanya menyadari bahwa tujuan Halal bi Halal adalah mengharmoniskan hubungan kekerabatan konsep tauhid sosial

Ditinjauan Versi Bahasa Arab , Halal bi Halal istilah ini asli “made in” Indonesia dan tidak dikenal di dunia Arab, apalagi di dunia Islam lainnya. Namun tidaklah meniscayakan istilah ini tidak benar secara Arabic. Dalam ilmu Bahasa Arab sering dijumpai teori izhmâr (sisipan spekulatif pada kalimat). Setidaknya ada dua cara agar istilah Halal bi Halal ini benar secara bahasa dengan pendekatan teori tersebut. Hal ini merupakan teory deep structure dan surface structure dalam ilmu morfologi dan syntaksis.

Pertama Halal bi Halal menjadi: thalabu halâl bi tharîqin halâl; mencari kehalalan dengan cara yang halal. Kedua, halâl “yujza’u” bi halâl; kehalalan dibalas dengan kehalalan.

BERITA REKOMENDASI